
Diantara menunggu jawaban atas pertanyaan yang lebih dulu mengambil alih pertemuan. Lee justru menatap pendeta yang sedang ditanyai oleh ayahnya dan menjadi tatapan bagi yang lainnya.
Seolah mengerti dengan apa yang dimaksud pangerannya, Xiong mendekat hingga berada di jalur yang benar untuk mendengarkan ucapan pangerannya. "Mereka bilang itu pendeta Ming? Apa benar?" Tampak Lee bertanya kembali memastikan penglihatan nya.
"Benar pangeran, itu adalah pendeta Ming. Ada apa pangeran?"
"Tidak.... Tapi... Kenapa ia terlihat berbeda? Dari terakhir aku melihatnya." Jika Xiong bisa, ia ingin memukul sedikit kepala itu yang terlihat tidak bekerja. Bukankah pangerannya mendengar? Ia berada di titik yang tepat saat ini, kemana kepintaran dan kekuatan pangerannya dalam menerima informasi dan membaca situasi.
"Itulah yang sedang terjadi saat ini pangeran, kita akan mendapatkan jawabannya." Lee langsung mengangguk mendengar penuturan Xiong.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Begini yang mulia.... Kepala hamba mengalami luka dan untuk mencegah hal buruk, putri hamba membuat rambut ini hilang sementara waktu. Dan mengenai kabar putri hamba, kenapa pendeta Ryu berkata demikian? Seolah tau sesuatu.."
"Aku hanya mengatakan dari apa yang aku ketahui, pendeta Ming kau tidak memiliki keluarga yang lain, hanya ada istri mu yang telah pergi lebih dahulu dan putrimu. Jadi siapa yang bisa terluka selain itu?"
"Siapapun bisa terluka, bukan hanya manusia tapi juga mahluk lainnya. Mengenai kekhawatiran akan putriku, aku ucapkan terimakasih. Tapi dia sudah baik-baik saja, tidak seperti dugaan itu."
"Itu artinya semuanya baik, aku senang mendengarnya."
Iya yang mulia." Karena tidak ada lagi pembicaraan dan sudah mendapatkan keputusan, raja kembali melanjutkan agenda pertemuan kali ini.
Diantara beberapa hal yang disampaikan, bagi putri para pendeta yang hadir mereka sibuk mencuri pandang bahkan secara terang-terangan melihat dengan bebas wajah dan sosok tubuh dari atas dan bawah itu dengan leluasa sambil mengkhayalkan berbagai hal sesuai keinginan mereka.
'Sangat tampan, begitu gagah. Tangan itu pasti sangat kuat dan bagus untuk menggendong ku ditambah dengan bahu kokoh yang baik untuk ku bersandar. Sungguh sempurna! Aku akan menunggu istri pangeran dan menunjukkan kepada semuanya, akulah yang menjadi pemenang nya. Bukan yang lain! Tidak ada yang lain!'
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ditemani oleh Mong, Tania memetik anggur yang tengah berbuah banyak saat ini. Dengan berbagai resep di kepalanya, ia akan membuat makanan atau minuman untuk baba yang pasti kembali segera mungkin. "Siu, cuci segera dan beberapa lainnya keringkan ya."
"Baik Nona."
"Mong, kau mau?" Tampak Mong memakan beberapa butiran anggur yang diberikan y
__ADS_1
Tania kepadanya.
"Ternyata kau tidak makan daging saja ya. Kau seperti manusia saja."
Sambil melihat bentangan alam yang begitu indah tersaji di depan matanya, Tania melangkah ke depan menuju tumbuhan bunga yang bewarna nyentrik di depannya.
"Tumbuh dengan sangat baik dan indah. Warnanya sangat mencolok tapi tidak merusak mata... Aromanya juga sangat wangi, harum sekali!" Tania mendekatkan hidung mancung nya ke salah satu bunga dan menikmati aroma yang menyapa disana.
"Kau juga mencium nya Mong? Wangi kan?"
"Grgrrgg." Mong mendekatkan wajahnya seperti Tania seolah menikmati aromanya.
"Aku tidak menyangka ada tempat seindah ini dan juga bangunan seperti ini, sungguh benar.... Masa lalu memiliki kemajuan lebih dari zaman sekarang, masaku."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sajian dimulai, setelah bibir terasa lelah dan kering, ditambah perut yang mulai bernyanyi di dalam. Pelayan menyajikan hidangan kepada tamu, aroma makanan sudah menggelitik penciuman semuanya.
"Silahkan dinikmati." Raja menjamu semuanya dan mengangkat gelas berisi minuman menyegarkan di tangannya diikuti oleh yang lain bertanda makanan siap dimakan.
"Ada apa Lee? Kenapa kau menunduk begitu? Setidaknya lihatlah beberapa gadis para putri pendeta ini. Ada yang menarik mu?" Secepat mungkin Lee menggeleng membuat ayahnya menjadi bingung.
"Satupun tidak? Kau normal kan?" Batuk keras langsung terdengar dan membuat yang lainnya langsung menoleh, mereka melihat pangeran mereka tampak tersedak oleh sesuatu.
"Pangeran airnya....." Xiong langsung bergegas memberikan air untuk Lee yang terlihat langsung mengambilnya dan meminum segera dengan cepat.
Aksi minum itu bukannya menjadi hal biasa, tapi luar biasa bagi para gadis itu. Mereka turut naik turun seperti jakun sang pangeran yang membuat dirinya terlihat lebih panas.
"Apa maksud Ayah? Aku ini... Sudahlah, aku permisi." Dengan memberikan hormat kepada pendeta dan yang lainnya, Lee segera beranjak pergi.
"Pangeran mengurus sesuatu, silakan lanjutkan." Raja terus melihat putranya hingga menghilang dari pandangannya.
Satu jarinya membuat pria dibelakangnya langsung mendekat. "Ya raja?"
__ADS_1
"Kau tau siapa yang akan menjadi kandidat bukan?"
"Apa secepat ini Raja? Bukankah pangeran yang...."
"Dia tidak bisa memutuskan, sepertinya aku yang harus bekerja. Lakukan saja, aku akan melakukan seleksi secepatnya."
"Baik raja, hamba akan melakukannya." Setelah bisik-bisik itu, pria itu segera kembali ke tempat nya. Acara bisik-bisik itu sepertinya terlihat oleh seseorang dan membuat nya tersenyum senang.
'Putriku pasti menjadi salah satunya, saingan tidak ada yang berat. Bahkan Putri Ming sekalipun.'
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Pendeta Ming, bagaimana jika lain waktu kau membawa putri mu."
"Lain waktu maksud raja?" Setelah makan bersama, tampak tiga pendeta utama berkumpul di tempat yang berbeda bersama raja.
"Kebetulan akan ada perayaan hari panen sungai dan hutan kita, semua rakyat akan merayakannya bahkan putrimu juga, bagaimana kalau mengajak nya? Ada banyak rangkaian acara serta festival yang menarik. Pasti dia suka kan? Kita singkirkan pelajaran atau yang lainnya lebih dulu."
"Raja, itu...."
"Itu sangat bagus pendeta Ming, kapan lagi kita bahkan Putri kita akan bertemu secara bersamaan. Bukan hanya Ayah mereka saja yang bertemu dan berinteraksi, bukankah anak-anak kita juga bisa? Tentunya tidak ada masalah bukan?"
"Apa yang dikatakan pendeta Ryu benar, sekalian aku ingin melihat penerus dari para pendeta kerajaan ku. Pastinya mereka memiliki pengetahuan serta sikap yang baik." Melihat serangan yang tak langsung kepadanya membuat pendeta Ming hening sejenak.
"Bagaimana pendeta? Atau kau tidak bisa?"
"Bukan raja, hamba tentu tidak akan menolak. Hamba akan mengajak putri hamba datang."
"Baguslah, itu sangat baik."
'Baiklah mari kita lihat putri yang kau bicarakan itu.'
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.