
Sebelum malam menjelang, Mei duduk manis sambil menikmati sajian di bibir dan sepasang matanya. Selain rasa manis dan asam segar di bibirnya, sepasang matanya juga menikmati keindahan karena sang suami tercinta nya tengah berlatih pedang bersama Xiong saat ini.
Hampir sejam berlalu, manik Mei tidak bosan menatap suaminya yang memiliki nilai lebih bagi Mei ketika latihan seperti ini, dari wajah, hembusan dada yang tengah bekerja mengambil napas serta keringat yang mengalir di beberapa tempat memberikan Mei menjadi berpikiran lain.
Entah mengapa selama kehamilan ini membuat dirinya lebih mudah terpancing akan itu. "Kau lihat sayang, ayahmu begitu luar biasa. Ayunan tangan bersama pedang itu terlihat sangat indah. Ibu sangat suka, kalau saja diizinkan, ibu akan bermain dengan ayahmu. Kau harus tau kalau ayah dan ibumu ini sangat lihai akan itu." Sambil mengelus perutnya, Mei berbicara seolah anaknya yang tengah tumbuh kembang membalas ucapan nya.
Sebelum lusa, Lee melatih kemampuannya. Jatuhnya pedang Xiong membuat sesi latihan berakhir. "Bagus Xiong, kau semakin meningkat. Aku sangat bangga melihat perkembangan mu."
"Terimakasih pangeran, ini tak lepas dari ajaran pangeran dan juga bimbingan raja serta yang lainnya." Xiong menundukkan kepalanya mendengar pujian yang dilontarkan untuknya.
"Kau bisa istirahat."
"Baik pangeran." Xiong meninggalkan arena latihan, dan pandangan Lee langsung tertuju pada istrinya yang tengah duduk santai menonton aksinya.
"Kau suka dengan tontonan nya?" Tanya Lee sambil duduk bersama istrinya.
"Sangat suka, aku sungguh menyukainya. Kau sangat hebat dan terlihat mempesona.... suamiku..." Di akhir ucapannya, Mei mengedipkan matanya.
"Jadi, anak kita juga melihat kemampuan ayahnya?" Tanya Lee sambil mengelus perut tempat sang anak tengah tinggal.
"Tentu saja, ibunya ini mengatakan segalanya. Kau pasti lapar dan haus." Dengan tangannya, Mei mengambil satu tangkai anggur kepada suaminya.
Lee mengambil beberapa anggur yang bisa ia raih dan masukkan ke dalam mulutnya. Kunyahan yang membuat jakun itu naik turun membuat Mei terlihat semakin suka. "Enak?" Tanya Mei yang membuat Lee tersenyum manis.
"Tentu saja enak, memang rasanya seperti apalagi sayang?" Lee seolah tau mengenai pemikiran istrinya, justru terus meladeni istrinya.
"Siapa tau ada rasa yang baru...." Gerakan tangan Mei langsung terhenti dan beberapa jari itu terasa basah karena kecupan manis.
"Seperti rasa ini...." Mei memejamkan matanya menikmati s3d0tan dan h1sap@n kecil di jarinya yang tertelan di bibir tebal suaminya.
"Sebentar lagi malam, mandilah. Aku akan meminta pelayan menyiapkan air mandi mu." Mei yang ingin beranjak menjadi tertahan karena ulah suaminya.
"Mandi bersama sepertinya bagus bukan?"
"Tidak!" Mei langsung pergi meninggalkan Lee yang merasa panas dan harus segera memadam karena tindakan istrinya yang membuat Lee sekaligus bingung.
"Kenapa dia?" Lee memandangi istrinya yang berjalan menjauh sambil mengejeknya.
"Astaga, sepertinya aku harus segera memadamkan api ku." Lee berpikir istrinya menolak karena acara mandi mereka mungkin akan berubah menjadi pertempuran dan itu bisa saja menjadi bahaya untuk anak mereka.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
Sedangkan Mei tersenyum manis dan tidak bisa menghilangkan senyum di bibirnya. Ia masih begitu ingat, suaminya yang tengah membara saat ini.
Siu yang melihat junjungannya masuk ke kamar sambil terus tersenyum membuat dirinya penasaran. "Apa ada sesuatu putri?" Mei yang mengetahui keberadaan Siu langsung kembali dengan dunianya disini.
"Benar Siu, ada sesuatu.... Dan aku berharap kau membantuku."
"Tentu putri. Putri ingin apa?" Mei meminta Siu mendekat ke padanya dan telinga Siu menerima tugas itu.
"Mengerti?"
"Tentu Putri." Siu langsung pergi meninggalkan Mei yang semakin tersenyum dengan pemikirannya yang akan terjadi sebentar lagi.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Air jernih yang menyegarkan itu sudah menyambut kedatangan Lee yang bersiap merendam tubuhnya. Merasakan kesegaran di tubuhnya Lee memejamkan matanya sejenak. Sebelum keberangkatannya, dia memiliki pr yang harus ia selesaikan sebelum berangkat membasminya pemberontakan itu.
Ditengah berpikir dengan mata terpejam, telinga Lee menangkap sesuatu. "Ada apa Xiong?" Xiong tidak kaget dengan pangeran nya yang sudah mengetahui kedatangan nya.
"Maaf pangeran, ini adalah lulur untuk pangeran. Putri Mei mengirimkannya, dia tidak kesini karena saat ini bertemu dengan pendeta Ming."
"Letakkan disana."
"Ayolah Xiong, itu tidak perlu. Kau bisa istirahat juga, kita akan melakukan perjalanan yang cukup panjang nanti. Atau kalau kau merasa bosan dengan istirahat, kenapa tidak bantu Siu, dia mungkin mencari mu saat ini." Raut wajah Xiong langsung berubah saat pembicaraan yang menjurus kesana.
"Apa maksud pangeran? Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Siu."
"Begitukah? Mau sampai kapan kau akan sendiri Xiong? Menikahlah, kau membutuhkan seseorang untuk mendampingi mu, menyambut mu ketika lelah."
"Aku belum menemukannya pangeran, jika pangeran tidak butuh sesuatu, aku pergi." Lee hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Xiong yang belum menyadari perasaannya.
Manik Lee menatap sekotak lulur yang diberikan istrinya. "Bahkan setelah dibawa oleh Xiong, aroma mu masih bisa ku cium sayang." Tangan Lee mulai membalurkan lulur itu ke seluruh tubuhnya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Saat ini Mei tengah duduk bersama baba nya yang meminta dirinya datang. "Apa baba akan pergi?" Tanya Mei dengan segera.
"Tidak putriku, baba hanya ingin bertemu sambil membicarakan sesuatu."
"Apa ada masalah baba? Semuanya baik-baik saja kan? Baba tidak menyembunyikan sesuatu bukan?" Tanya Mei dengan berturut-turut.
"Tidak putriku, baba ingin memberikan ini." Mei melihat sebuah gulungan kertas yang memiliki dirinya penasaran.
__ADS_1
"Apa ini baba?"
"Bukalah, baba tau putri baba ini sangat cerdas." Mei mengambil dan membuka gulungan kertas itu yang membuat maniknya menatap dengan lekat. Beberapa kali manik Mei beradu dengan manik baba nya.
"Baba dapatkan ini...."
"Perpustakaan istana." Jawab pendeta Ming membuat Mei mengangguk mengerti.
"Terimakasih baba, aku tidak terpikir sampai kesana."
"Apapun untuk putriku, jadi kau pasti memikirkan sesuatu sebelum keberangkatan suamimu bukan?"
"Iya, aku tengah mempersiapkan nya. Dan aku rasa sudah selesai."
"Baba akan kembali setelah suami mu berangkat. Di masa pertumbuhan Mong, baba tidak bisa meninggalkannya terlalu lama."
"Mong pasti semakin besar." Mei berujar sambil membayangkan Mong yang semakin besar dan menggemaskan.
"Ya, makanannya pun semakin banyak Baba perlu melatihnya untuk beberapa hal, semakin ia besar, ia juga membutuhkan pendampingan seperti yang seharusnya."
"Aku akan mengunjunginya nanti."
"Tentu saja, Mong juga sangat merindukanmu."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Lee yang akhirnya selesai dengan acara mandinya mencari keberadaan istrinya. "Dimana Putri Mei?"
"Pangeran, putri Mei meminta pangeran menemuinya di paviliun." Lee cukup bingung dengan permintaan Mei yang seharusnya bertolak belakang dengan pembicaraan mereka sebelumnya.
"Paviliun?" Siu mengangguk.
"Baiklah, kau bisa pergi."
"Baik pangeran." Meksipun dilanda kebingungan, Lee melangkah menuju paviliun, sepanjang perjalanan ia melihat langit yang mulai gelap karena mentari telah ditelan awan.
"Entah apa yang dipikirkan oleh istriku itu, aku rasa dia...." Lee tidak melanjutkan ucapannya ketika maniknya menatap sesuatu yang berbeda.
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1