Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Minuman penyambut


__ADS_3

Rasa dahaga yang menyekat di tenggorokan akhirnya merasakan lega juga. Senyum di wajah Yuri tidak pudar sambil menatap Vanriel yang tengah berpakaian dengan cepat. "Yuri, cepat berpakaian!" Tapi bukannya bergerak, wanita itu justru kembali memperlihatkan paha mulus nya.


"Bagaimana kalau sekali lagi?" Ajaknya dengan menggoda.


"Tidak ada waktu! Dan jujur saja, ini tidak seharusnya terjadi!" Entah mengapa Vanriel jadi gusar sendiri, meksipun dahaganya terpuaskan tapi hatinya merasa tak karuan.


Pemikiran mengenai perkataan ayahnya membuat dirinya jadi dilema. "Ayah hanya menginginkan cucu dari Tania, bukan yang lain! Kalau kau ingin menikah, lakukan saja tapi untuk pewaris jangan harap dari rahim wanita lain!" Bak kaset rusak, Vanriel menelan ludah nya beberapa kali membuat Yuri bangkit dan membuat raja itu terkejut.


"Ahh!" Yuri yang terdorong tentu saja kesakitan karena tubuh setengah polosnya mendarat sempurna.


"Sayang, kau ini kenapa?" Rajuk Yuri sambil berdiri.


"Maaf Yuri, aku hanya kaget. Sebaiknya segera berpakaian, sebentar lagi makan malam!" Vanriel segera keluar dari tenda dan meninggalkan kekasihnya itu.


Sedangkan di dalam tenda bak hotel itu, Yuri yang terlihat sakit perlahan tersenyum menyeringai. "Tak apa, sebentar lagi... Apa yang ditanam hari ini akan membuat ku menjadi ratu dan kau Tania, akan menjadi hiasan istana." Yuri tersenyum seperti orang tidak waras dan mengelus perutnya dengan lembut.


Makanan yang ditunggu oleh semuanya sudah mulai tersaji, aroma yang wangi sudah memanggil perut untuk diisi. Manik warga sungguh tenggelam dalam visual makanan yang akan mereka santap itu.


Dari orang yang bekerja, manik Vanriel langsung tertuju pada Tania. Wanita itu tidak berdandan seperti seorang ratu, hanya dengan perhiasan sederhana yang melekat di tubuhnya tidak mengurangi kecantikan dirinya. Bahkan wajah itu tersenyum manis saat berbincang dengan warga terutama anak-anak, sesekali tangannya merapikan makanan yang siap disajikan.


Meksipun penerangan terbatas, tapi kilauan wajah cantik itu membuat mata Vanriel jernih. Sambil berjalan tak melihat dengan baik, ia mengikuti pandang nya mencari celah untuk melihat Tania.


"Cantik, sederhana. Tawa nya seperti bulan sabit dan berkilau seperti berlian. Apa aku yang tidak mengenal dirimu Tania? Atau aku merasa kau memang berbeda setelah pulang dari hutan?" Jujur saja ada sesuatu di hati Vanriel tapi terkadang jika mengingat kelakuan Tania yang menentang dirinya rasa egonya tidak menerima.


"Salam raja." Sapaan seorang anak perempuan membuat pandangan Vanriel teralihkan dan juga semua orang termasuk Tania.


"Salam juga untuk anak manis seperti mu." Tangan Vanriel dapat merasakan ringannya tubuh anak perempuan itu yang membuat hatinya tercubit dengan kekeringan ini.


"Apa desa ku akan kembali menumbuhkan makanan dan mengalirkan air lagi?" Tanyanya dengan mata berbinar penuh harapan.


"Tentu saja, aku sudah disini. Semuanya akan segera membaik."

__ADS_1


"Sungguh? Tapi bagaimana dengan...."


"Dengan apa?" Vanriel bertanya pada anak dalam gendongannya, Tania yang tak sengaja tertuju ke arah interaksi itu menajamkan penglihatan dan terlihat anak perempuan itu menatap kearah seorang wanita paruh baya.


"Salam raja dari hamba." Sebuah suara dari arah belakang, membuat Vanriel segera berbalik dan terlihat wanita dengan wajah pucat yang memaksakan senyuman manisnya.


"Akhirnya kau muncul juga. Bagaimana kabarmu?" Vanriel menurunkan anak itu dan berbincang dengan wanita itu.


"Seperti biasa raja. Hamba sangat senang dapat bertemu kembali dengan raja, meksipun dalam keadaan seperti ini." Beberapa kali ia memegangi dadanya yang tidak seberapa itu.


"Aku harap segera membaik, karena pengobatan banyak yang bagus saat ini, tidak sulit bagi suami mu, nyonya Rola."


Rola menunduk dengan hormat mendengar ucapan pemimpinnya. "Tentu raja."


Tania masih menatap dengan lekat mulai dari kepergian anak perempuan itu hingga sekarang. "Dia...."


"Istri kepala desa ratu." Jawab seorang pengawal.


Tak terasa makan malam pun dimulai dengan senyuman dan tangan yang terulur, kepala desa serta istrinya membagikan makanan kepada semua warga dibantu pengawal. Yuri hanya menunggu dengan bosan melihat apa yang dihadapannya saat ini.


Saat semua orang bersiap makan, mereka mengucapkan selamat makan kepada junjungan mereka yang tidak disangka akan datang bersama istrinya. "Wah, masakan ratu sangat lezat. Aku tidak pernah makan makanan seperti ini!" Ujar salah satu warga yang diangguki yang lainnya.


Manik paruh baya itu lambai tertuju pada Tania yang berada di sebelah kanannya. "Dia ratu Tania? Apa tidak salah? Sangat berbeda...."


"Aku bilang apa, benalu itu sudah berubah menjadi duri yang tajam dan indah." Mereka bicara dengan pelan.


"Dan sepertinya bukan hanya rupanya yang berubah, tapi juga di dalamnya. Kita sebaiknya hati-hati, karena sekarang menghadapi dirinya. Entah mengapa aku merasa ratu itu membawa badai bagi kita jika kita tidak waspada."


"Tenang saja, kau lupa. Istrimu ini juga pintar, aku punya sesuatu yang akan menyambut ratu kita dengan sangat baik."


"Hmmm?" Tampak suaminya sedikit bingung.

__ADS_1


"Sebelum durinya menusuk kulit, maka harus segera dikurung." Tak lama keduanya saling berpandangan dan tersenyum jahat satu sama lain.


Setelah makan malam bersama, semuanya kembali ke kediaman termasuk Tania yang sibuk melihat denah desa bersama Vanriel yang tentu lebih tahu. "Arah barat ada beberapa sungai dan juga jurang yang curam, sebaliknya arah timur ada gua yang cukup besar." Tania mendengarkan dengan baik, keduanya tidak ada drama pertengkaran kali ini, kecuali Yuri yang duduk bak ratu mendengar rapat dewan menteri.


"Kalau begitu kita tempuh arah timur." Saat keduanya satu mengeluarkan pendapat, terdengar suara pengawal yang mengabarkan kedatangan rona.


"Salam kepada anggota kerajaan, hamba membawakan minuman olahan buah apel khas desa kami." Terdapat tiga cangkir sesuai untuk ketiganya.


"Kebetulan sekali, aku juga haus." Yuri mengambil nampan perak itu dari tangan rona.


"Ini tuan putri."


"Kau keluarlah." Rona memberikan salam sebelum beranjak.


Yuri lebih memilih minum terlebih dahulu. "Aghhh segar nya! Kau harus coba Vanriel!"


"Nanti saja." Tolak Vanriel yang masih berdiskusi dengan Tania.


"Jadi bagaimana tadi ratu?" Tanya Vanriel yang melihat Tania menatap minuman itu.


"Kau haus Ratu?"


" Minuman apa itu?" Tanya Tania cepat.


"Ini minuman khas desa ini. Setiap tahun kedatangan ku disambut dengan ini, rasanya manis, asam, segar. Kau akan suka, mau minum?" Tawar Vanriel.


"Dia itu bukan dari kalangan atas sayang, pasti lidahnya akan tergelitik karena rasanya." Ejek Yuri yang kembali menambah minumannya.


Bersambung.....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak

__ADS_1


__ADS_2