Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Benalu


__ADS_3

Pria dengan usia empat puluh tahunan bertumbuh gempal itu, terlihat memberikan salam kepada pemimpin kerajaan. Tapi dari penampilan fisik, Tania tidak peduli ia lebih memperhatikan bagian bawah pria itu yang terlihat basah dan lembab. "Aku menerima salam mu, dan darimana kau sebelumnya?" Mendengar pertanyaan Vanriel, pria itu mengeluarkan sesuatu.


"Raja, hamba dari hutan sebelah timur mencari mata air."


"Lalu bagaimana?" Pria itu tampak menggeleng.


"Tidak ada rajaku."


"Kau hanya sendiri?"


"Maksud...."


"Kau memberikan salam kepadaku, tapi kau tidak tau diriku? Atau kau mengira...." Tania menatap Yuri yang sepertinya sedang tersenyum kecil.


"Dia ratu Tania, istriku. Kau memberikan salam tadi kepada nya." Pria itu segera menyatukan kedua tangannya sambil meminta maaf.


"Maaf Raja, hamba tidak mengenali ratu kerajaan karena hamba mendengar, tuan putri Yuri...."


"Jawab pertanyaan ku! Jangan bicarakan yang lain."


"Hamba pergi sendiri ratu, karena tidak memungkinkan membawa yang lain." Jawabnya dengan tegas sambil menatap warganya.


Tapi bukannya memberikan tatapan atau reaksi yang baik, Tania justru menangkap raut berbeda dari mereka. Merasa keheningan, kepala desa itu kembali bersuara.


"Sepertinya Raja dan ratu serta tuan putri akan bermalam disini. Hamba terlambat untuk membuat atau menyediakan tempat untuk menyambut."


"Kami kesini bukan untuk liburan untuk apa menyambut? Dan seperti yang kau katakan, itu tidak memungkinkan."

__ADS_1


"Maksud hamba bukan begitu Ratu, tapi seperti makanan ataupun minuman." Jawab nya yang membuat Yuri menyorong dengan cepat.


"Itu benar! Seharusnya sangat benar. Aku ingin mandi, badanku merasa gerah setelah perjalanan. Bukan begitu Vanriel? Maksud ku raja?"


"Kita bisa istirahat, karena sebentar lagi malam. Dan juga memberikan makanan kepada warga, kita akan makan bersama." Titah Vanriel yang membuat warga merasa senang, sedangkan Yuri berbeda.


'Makan bersama? Mereka terlihat buruk dan membuat nafsu makan ku hilang!'


"Ah iya raja. Hamba dan istri hamba akan menyiapkan nya." Kepala desa itu segera pergi menuju sebuah rumah.


"Istri? Istrinya tidak bersama warga? Dan ia terlihat sangat bugar dibandingkan yang lain." Di dalam tendanya, Tania bicara apa yang dilihatnya dan tentunya di dengar Vanriel.


"Istrinya tidak bisa berdiri terlalu lama, ia mengalami sesak napas." Jawab Vanriel yang membuat kening Tania mengerut.


"Kita bahkan tidak berdiri lama dan warga juga tidak ada yang berdiri. Lalu apa alasannya? Debu? Kalau begitu seharusnya kau, aku atau Yuri yang sesak nafas karena tidak biasa di tempat kering dengan pasir yang terbang bebas di wajah dan masuk ke tenggorokan ku." .


"Aku bicara begini karena aku sudah bertemu dan melihatnya Tania. Aku tidak bicara asal-asalan."


"Apa yang kau lakukan?" Tania terlihat berdiri membuat Vanriel bingung.


"Apa? Aku melepas pakaian ku, mereka sudah kotor."


"Kenapa disini? Tenda mu akan ada. Ini tendaku!" Jawab Tania dengan tegas.


"Kita sudah menikah Tania, apa masalah nya?"


"Benar, tapi hanya sebatas formalitas. Tidak lengkap dari itu, apa raja lupa? Pernikahan ini tidak akan membuat kita menjadi suami istri, kau tidak berhak atas apapun begitu juga sebaliknya. Aku tidak sudi, bersama apalagi sekamar denganmu!" Tania mengulangi kalimat yang Vanriel ucapkan padanya tepat setelah pernikahan.

__ADS_1


"Tania itu...."


"Hanya karena bunga mawar itu tidak lagi memiliki duri, maka siapapun bisa memetik nya. Aku bukan bunga, yang bisa dipetik begitu saja. Meskipun aku tidak mengatakan apapun, bukan berarti aku menerima semuanya. Aku hanya menjalankan apa yang raja katakan padaku." Vanriel hanya diam dan memilih pergi setelah nya.


"Dia pikir, aku ini apa! Bahkan aku bukan istrinya! Aku hanya tersesat dan harus mencari jalan pulang dan menyelesaikan misi disini." Kekesalan wanita itu menjadi dan membersihkan tempat tidur yang didiami Vanriel tadi.


Gelas yang berguna untuk menghilangkan dahaga, justru menjadi ajang tinju kekesalan Vanriel. "Aghh! Kenapa Tania berkata begitu? Bukankah dia mencintai ku? Meksipun aku menyakiti nya dengan perkataan ku dia akan lupa dan luluh lagi, tapi sekarang...."


Yuri yang baru saja selesai mandi melihat Vanriel dengan atasan yang polos, membuat senyum ular itu kembali terbit. "Aku merindukan mu, apalagi bidang keras ini." Yuri tentu tau kelemahan kekasihnya itu.


"Yuri..."


"Jangan bicara apapun, tidak ada siapapun disini. Hanya kita, setidaknya kita punya waktu sebelum makan malam. Kau tidak rindu padaku?" Siapa yang bisa menolak dengan tubuh indah itu, Vanriel yang memiliki naluri tentu terpikat dengan bunga yang lainnya.


"Benar, hanya kita." Dengan cepat keduanya bersilat lidah dan mulai melepaskan apa yang menjadi penghalang menuju jalan kenikmatan mereka.


Di sebuah rumah dengan ruangan yang berukuran cukup luas, terlihat seorang wanita yang tengah merias rambutnya. "Jangan terlalu bagus, acak sedikit seperti mereka istriku. Dan kita harus menghafal dialog dengan baik selama mereka disini. "


"Bukankah kita melakukannya dengan baik?"


"Benar, tapi aku merasa ada yang berbeda dari sebelumnya. Kau tau ratu Tania?"


"Iya, siapa yang tidak tahu mengenai dia. Istri yang tidak diinginkan raja dan wanita menyebalkan. Dia itu seperti benalu yang hinggap dan membuat gatal mata."


"Tapi bagaimana jika benalu itu berubah menjadi bunga yang berduri?" Gerakan tangan menyisir itu terhenti dan berganti dengan tatapan menatap suaminya.


"Apa maksud nya?"

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2