
Siang ini, matahari tidak terasa menyengat karena pepohonan yang tumbuh rindang di istana. Membuat sosok yang berada di bawahnya terlihat bahagia apalagi ditambah ditemani oleh sosok yang dicintainya. "Jadi.... Mau lanjut kan?" Tanya pria dengan keringat yang membuat dirinya semakin tampan itu.
"Siapa takut." Tampak senyuman manis menyertai jawaban itu.
Dan tak lama pedang itu kembali beradu. Keduanya tampak bersemangat mengayunkan pedang itu bersamaan, tidak ada yang mengalah, tetapi justru semakin bersemangat.
Sedangkan lapangan latihan itu, hanya diisi dengan kedua orang itu saja. Sedangkan yang biasanya mengawasi terlihat berdiri cukup jauh dan memberikan ruang.
"Kau lihat apa?" Tanya Siu dengan mata melotot.
"Memang kau saja yang berdiri disini? Dan kenapa kau merasa begitu? Apa kau pikir kau spesial?" Tampaknya baik Xiong dan juga Siu tengah terjebak berdua karena junjungan mereka sedang asyik dengan dunia mereka sendiri.
Ayunan pedang itu berakhir di depan leher lawannya, dan membuat sang lawan tak bergerak lagi. "Aku menang." Terdengar ucapan dengan nada bahagia atas kemenangannya.
"Istriku yang terbaik!"
"Ahhh!" Mei berteriak karena Lee langsung mendekat dan membuat jarak mereka berdua terkikis.
"Terbaik dari segi hal apapun."
"Sungguh?" Tanya Mei dengan wajah menggoda nya.
"Ya." Keduanya berpandangan sejenak dan Lee tampak menyatukan hidung mereka serta kening mereka yang membuat keduanya memejamkan mata bersamaan.
"Kau bahagia?" Entah mengapa pertanyaan Lee membuat Mei menjadi bingung.
"Apa?"
"Kau bahagia sayang? Aku tidak ingin kau merasa sendiri setelah kepergian baba."
"Tidak, aku merasa bahagia. Setiap kehidupan memiliki jalannya sendiri serta orang-orang nya juga. Baba tidak pergi, tapi ia hanya kembali ke tempat nya. Kapan pun aku rindu, aku akan kesana."
__ADS_1
"Ya, tentu. Aku akan siap untuk itu." Jawab Lee sambil mengecup singkat bibir istrinya.
"Mau adu panah?" Tawar Mei yang membuat Lee langsung tertarik dan keduanya kembali beradu panah seperti panah hati mereka berdua.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Dari sudut lain, satu pasang mata tak henti-hentinya menatap Lee dan Mei yang tengah menikmati waktu mereka. Ditambah dengan keahlian yang tidak dibayangkannya.
"Dia bisa juga. Atau hanya berpura-pura?"
"Licik sekali!" Ujar Mola dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa sayang?" Tanya sang Ibu yang membuat tontonan Mola berhenti sejenak.
"Lihat bu, wanita hutan itu. Dia berminat panah dan pedang bersama Lee."
"Sungguh? Pasti dia tidak bisa."
"Sungguh? Sepertinya Pendeta itu sudah mempersiapkan semuanya dengan baik."
"Aku rasa begitu." Mola membenarkan ucapan ibunya, entah apa yang diinginkan dua wanita julid itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Setelah latihan bersama, sepertinya sampai kapanpun adegan romantis itu tidak akan ada habisnya. Sekarang keduanya tengah berendam bersama, Lee terlihat sangat senang sekali melihat istrinya itu dalam keadaan basah terlebih lagi tanpa apapun.
"Gosok ini."
"Baik." Lee tampak menerima saja dan mulai memainkan tangan nya. Awalnya dilakukan dengan baik, tetapi lama-lama terasa lain dan juga berlawanan arah.
"Lee..."
__ADS_1
"Aku suka dipanggil seperti itu." Lee tampaknya menginginkan nya dengan gigitan kecil ditelinga Mei.
Tentu saja Mei yang sudah tau pancingan itu langsung meladeni suaminya. Dan tentu kolam pemandian itu berubah menjadi arena pertempuran berikutnya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Disisi lain dua anak manusia Tenga meraih kenikmatan dunia, dua anak manusia lainnya terlihat kesulitan serta ribut bak pasar. "Aku bilang ini tidak disukai putri Mei!"
"Pangeran suka! Kau tau apa?"
"Aku bilang tidak!" Siu tampak merebut karangan bunga yang telah dipersiapkan Xiong.
"Kau ini!"
"Ada apa ini?" Keduanya langsung membeku dan memperbaiki wajah mereka berdua.
"Salam raja." Siu dan Xiong memberikan salam kepada raja mereka.
"Ada apa ini? Kenapa belum siap juga? Aku percayakan ini karena kalian lebih tau."
"Iya raja, kami tengah mempersiapkan nya dan sebentar lagi akan selesai raja." Siu mengangguk saja.
"Baiklah, Siu berikan ini pada Putri Mei. Ini akan dipakai saat acara nanti." Raja tampak memberikan pakaian yang indah kepada Siu untuk menantu nya.
"Baik raja, hamba akan berikan pada putri." Percakapan itu tanpa sadar didengar oleh orang tak diharapkan dan ia tersenyum menyeringai.
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya baru author, ceritanya tak kalah seru loh!!!!!
__ADS_1
Skala Kecantikan Flora.... Disiram dengan pengkhianatan, ejekan penampilan minus serta anak yang buruk membuat api transformasi Flora langsung membakar dengan cepat. Kecantikan dengan skala besar yang disembunyikan selama ini, akhirnya ia lepas untuk membuktikan kemampuan dan kecantikan yang dimilikinya dan membungkam mulut para pengejek itu.