
Pagi ini terlihat mata itu akhirnya terbuka setelah satu hari penuh tertutup. Sosok disebelahnya langsung terlihat girang dan mendekat sambil memanggil namanya. "Nona, nona sudah sadar!" Perlahan sosok terbaring itu membuka matanya begitu juga dengan pendengaran nya yang aktif berkerja.
"Siu....." Ujarnya dengan pelan, sambil mencoba bangkit tapi keningnya terasa berat.
"Nona, jangan bangun dan banyak bergerak dulu. Lukanya belum sembuh." Tania perlahan menggerakkan tangannya menuju keningnya.
Ada tekstur lembek di keningnya dan beraroma dedaunan. "Berapa lama aku tak sadarkan diri?"
"Sudah satu hari Nona. Sungguh Nona membuat ku takut." Siu tampak mengeluarkan air matanya karena khawatir.
"Aku tidak apa, bagaimana dengan mu?" Siu semakin terharu mendengar ucapan Tania yang dalam keadaan ini masih memikirkannya karena dirinyalah Tania terjatuh juga bersamaan dengannya.
"Aku baik Nona, sangat baik! Aku sangat cemas dengan keadaan Nona. Nona butuh sesuatu?"
"Aku hanya haus." Siu segera memberikan minuman yang telah disediakan di ruangan mereka.
"Ini Nona, minumlah.... Dengan perlahan-lahan."
"Aku bisa, aku bukan anak kecil. Kau membuat ku seperti anak kecil saja." Siu sedikit tersenyum karena ucapan Tania yang mencairkan suasana.
"Aku hanya menjaga Nona." Setelah dirasa dahaganya terobati, Tania mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang mereka tempati.
"Dimana kita? Dan siapa menolong kita?" Siu berniat menjelaskan tapi terdengar langkah kaki yang datang dan membuat keduanya menatap bersamaan.
"Kau sudah sadar rupanya, apa masih ada yang sakit?" Tania menajamkan penglihatan nya ke arah pria itu yang membuat dirinya tersenyum.
__ADS_1
"Kau....."
"Ya, aku orang yang kau tolong waktu itu."
"Aku tidak menyangka akan bertemu lagi. Dan terimakasih..."
"Tidak, aku yang berterima kasih dan pertemuan ini sepertinya kehendak dari alam karena sesuai ucapan mu waktu itu." Tania tentu masih ingat dengan percakapan waktu itu.
"Ya, mungkin saja. Aku senang melihat semuanya baik-baik saja."
Siu tampak bingung dengan percakapan dan interaksi Nona nya bersama pria ini.
"Nona mengenal nya?"
"Malam saat kau tidur para penyamun itu bekerja dan menjadikan...."
"Panggil aku Ayah."
"Apa?" Tania merasa bingung dengan ucapan pria yang memang seumuran dengan ayahnya di masa ini.
"Apa itu berlebihan?"
"Bukan, tapi kita bertemu dua kali dan belum mengenal satu sama lain, siapa yang tau kami orang jahat." Ucapan Tania membuat pria itu tertawa kecil.
"Kalau benar, kau tentu tidak akan membantu ku dan lebih memilih melanjutkan tidur mu atau meminta sesuatu sebagai imbalannya." Jika Tania lihat dengan seksama, pria ini bukanlah sembarangan.
__ADS_1
"Mengenai masalah panggilan, bukankah ada putrimu, baba?" Ada raut senang sedikit tapi lebih didominasi rasa mendung mendengar dua ucapan yang mengandung makna baginya.
"Dan.... Maaf, sebelumnya baba memiliki rambut, apa ada hal yang khusus?"
"Putriku berada di tempat seharusnya... Ingat, madu yang dikatakan putriku?"
"Hmmmm."
"Itu bukan madu, melainkan racun yang membuat putriku tidak bisa lagi ku lihat dan tersenyum padaku."
"Aku turut berdukacita."
"Itu sudah takdir. Sepertinya aku harus sendirian disini. Kalian makanlah, aku sudah memasak karena besok aku akan pergi ke kota." Baba langsung pergi meninggalkan ruangan keduanya yang membuat Siu menjadi penasaran.
"Nona...."
"Apa kita berada di desa?" Tanya Tania pada Siu.
"Bukan nona, kita berada di dalam hutan lebat nan indah. Sungai yang membawa kita berlabuh di sini. Ada hewan dan tumbuhan yang begitu menakjubkan, Nona tidak akan menduganya. Aku rasa pria.... Maksudku baba itu bukan orang biasa. Rumahnya saja sangat besar, ruangan yang kita tempati saja berukuran seperti istana. Dan ..... Aku tadi sempat melihat ada buku suci." Otak Tania langsung bekerja mengumpulkan kata-kata yang penting baginya.
"Hutan, sungai, kitab suci.... Apa jangan-jangan....."
Bersambung........
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1