
Dengan bantuan lingkaran kecil yang cukup untuk bola mata membuat Siu melihat apa yang terjadi dibalik dinding itu.
Meskipun tidak bisa melihat dengan baik, setidaknya dia bisa melihat spoiler dan selebihnya menggunakan telinga nya.
Dari manik Siu, terlihat seorang pria dengan menggunakan jubah coklat yang menutupi tubuhnya dan hanya memperlihatkan sedikit wajahnya saja. Tidak bisa terlihat lagi karena keterbatasan ruang pengintaian membuat Siu menggunakan indera pendengarannya.
"Bagaimana?"
"Apanya, aku tidak mendapatkan kabar mengenai ini. Kau terlambat!"
"Aku sudah menghubungi mu, tapi sangat sulit. Penjagaan begitu ketat karena kejadian kemarin. Kau tau itu, meksipun aku menginginkan hal yang sama denganmu tapi tetap saja aku tidak ingin ketahuan secepat itu."
"Cari tau rute dan tindakan dari pangeran Lee sekarang ini. Itu akan sangat berguna, semakin cepat semakin baik. Kau tau, kita harus secepatnya bukan?"
"Ya, tapi aku harus hati-hati. Kau mau aku mati ketahuan?" Tak lama suara tawa terdengar setelah ucapan itu.
"Ayolah, aku tau benar. Diantara banyaknya yang dicurigai, kau tidak termasuk di dalamnya. Wajah mu serta kontribusi mu sudah cukup menjadi perisai mu. Aku tunggu secepatnya, aku harus pergi." Siu tidak melihat dengan jelas, ia mencoba melihat sosok yang kemungkinan besar menghiasi istana sebagai pengkhianat nya.
'Kalau aku terus mencoba. Aku bisa ketahuan, tapi aku tidak melihat sosoknya.' Tidak kehilangan akal, Siu memutar-mutarkan matanya untuk melihat sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.
'Itu dia!' Manik Siu akhirnya menangkap sebuah gelang yang cukup mencolok yang bisa ia lihat.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Seperti rencana, baba menemui Mei yang tengah duduk menikmati sapuan matahari yang ia sukai di setiap pagi."Sangat menyenangkan dan segar, bukan begitu sayang?" Duduk bersila, Mei sesekali mengajak anaknya yang tengah tumbuh bicara.
__ADS_1
"Selamat pagi putriku." Senyum Mei langsung terkembang begitu melihat kedatangan baba nya.
"Baba!" Melihat putrinya ingin bangkit, baba memilih mendekat dan membuat Mei menjadi mudah memeluknya.
"Putriku terlihat menikmati sekali. Sudah kenyang?"
"Sudah, baba sudah makan. Aku lupa jika...."
"Baba sudah makan, kau tidak perlu khawatir. Bagaimana keadaan mu pagi ini, semuanya baik kan?"
"Ya, baik. Aku tidak boleh sakit." Dengan senyuman sebagai penutup ucapan membuat baba ikut tersenyum melihat putrinya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir, Lee akan mengirimkan pesan." Seolah tau apa yang dipikirkan oleh putrinya, Mei hanya mengangguk mendengar ucapan baba.
"Baba harus kembali." Mei menatap wajah baba nya yang tersenyum berpamitan.
"Cepat sekali, setidaknya satu hari lagi. Aku masih rindu." Dengan gaya manja, Mei memeluk tubuh ayahnya itu.
"Kau sudah mengiyakan sebelumnya. Baba tidak bisa mengundur lagi. Kau tau, baba..."
Pendeta Ming tidak melanjutkan ucapannya karena merasakan dekapan yang lebih erat.
"Bagaimana kalau aku ikut baba? Aku rindu. Setidaknya beberapa hari pulang bersama baba dan bermain dengan Mong."
"Selama kehamilan tetaplah di istana Mei. Bukannya baba tidak mau, tapi demi keselamatan mu. Keadaan mungkin bisa memburuk nanti, tapi setelah kehamilan mu memungkinkan, baba akan membawa mu dan meminta izin pada raja. Siu disini kan, dia bersamamu." Sepertinya Mei baru sadar karena tidak melihat sosok Siu sejak tadi.
__ADS_1
"Aku belum bertemu dengan Siu, apa baba melihatnya?" Tanya Mei pada baba.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Mata itu terbuka perlahan dan langsung terkejut ketika mengetahui mentari sudah bertengger dengan mengkilap nya.
"Astaga!" Dengan segera Siu tunggang langgang keluar.
Entah karena lelah atau bermimpi sudah menikah dengan Xiong membuat Siu terlambat bangun, tapi apapun itu. Yang jelas, Siu harus mengabarkan sesuatu yang sangat penting segera mungkin.
"Aku harus mengabarkan pada raja atau putri?" Sambil melangkah, Siu tampak berpikir sendiri dengan keputusan yang akan ia ambil.
Tetapi ketika asyik melangkah, Siu menjadi berhenti ketika bertabrakan dengan seseorang. "Asghh!"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sinar surya telah terbit menjadi titik kedatangan Lee dengan pasukannya di rute pertama. "Pangeran, kita sudah sampai." Lee mengamati area gerbang memasuki desa yang akan mereka lewati menuju sarang pemberontak.
"Tidak terlihat siapapun atau kegiatan yang seharusnya, ada apa sebenarnya?" Tanya Lee dengan pasukannya yang bersiap siaga melindungi pangeran mereka.
Dari sudut lain, ada sepasang mata yang melihat kedatangan Lee dan pasukannya dan segera berlari mengisyaratkan untuk memberi pesan.
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1