
Jauh dari hutan, tepatnya di kota tempat festival tengah berlangsung, tampak pembicaraan serius tengah berlangsung. "Ini minumannya raja." Tampak seorang pelayan kedai makan menyajikan minuman yang masih hangat sesuai cuaca yang terasa dingin.
"Ini pendeta Ming, kita minum bersama." Raja mengangkat tangannya dengan cangkir tembikar yang dipoles indah itu.
"Terimakasih raja. Tapi, ada gerangan apa pembicaraan ini? Karena putriku mungkin menunggu kepulangan ku." Raja tampak tersenyum kecil mendengar nya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan mu pendeta Ming. Dan ini sangat berpengaruh dan bersangkutan dengan dirimu."
"Terdengar seperti itu. Hamba merasa tersanjung karena menjadi pembicaraan penting ini."
"Jujur saja, aku tidak ingin menunda lagi. Karena waktu terus berjalan dan pertemuan kita yang cukup sulit untuk dilakukan." Pendeta Ming tidak bicara, ia mendengarkan raja hingga selesai bicara.
"Kau mungkin tau juga kemana arah pembicaraan ini. Jujur, ketika aku melihat putrimu, aku menjadikannya kandidat sebagai pendamping untuk pangeran Lee."
"Hamba merasa beruntung, putri hamba menarik perhatian raja. Tapi, jujur saja... Untuk itu hamba belum memikirkan nya. Putri hamba masih memiliki beberapa waktu lagi untuk itu. Lagipula, tentunya banyak putri yang lebih layak untuk pangeran dibandingkan dengan putriku. Ada beberapa hal yang mungkin raja merasa nantinya, putriku tidak sesuai syarat menjadi istri pangeran."
"Apa kau sudah memiliki calon untuk putrimu?"
"Hamba tidak bermaksud menolak raja, tapi istana yang berlandaskan aturan dan juga menjadi patokan. Itu bertolak belakang dengan sifat putriku yang menyukai kebebasan. Belum lagi, dengan persaingan yang akan terjadi nantinya. Dan jujur saja, hamba menolak jika ada dua tempat dalam satu kursi." Pendeta Ming tidak sungkan mengatakan hal yang ingin ia sampaikan, lebih baik jujur dari sekarang daripada menjadikan hidup putrinya taruhan.
"Aku suka kejujuran mu, dan apa yang kau takutkan itu bisa ku perjelas. Pertama mengenai aturan istana yang mungkin dalam pikiran mu itu akan mengekang kebebasan putrimu. Saat aku melihatnya, putrimu memiliki keahlian bicara dan diplomasi serta cepat dalam menyelesaikan masalah. Dia tidak terlihat ragu untuk bicara didepan banyak orang atau pun memiliki rasa takut. Dia pastinya akan menyukai pertemuan dengan para jenjang istana dan juga tamu kerajaan lain dan juga pertemuan dengan rakyat. Kedua, mengenai persaingan... Putrimu memiliki nilai yang begitu memuaskan dan keunggulan dibandingkan gadis seusianya. Dia tidak terpesona dengan alat kecantikan dan juga pakaian. Tapi ia menggabungkan kecantikan dengan keterampilan bela diri nya." Ucapan itu membuat ekspresi pendeta Ming sedikit kaget.
"Sepertinya kau tidak tau, putrimu membeli pisau setipis lidi dan setajam lidah. Ia menyimpan pisau itu ke dalam hiasan rambutnya. Terlihat biasa, tapi berbahaya, dia bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan untuk yang terakhir..... Aku rasa putrimu akan menanyakan hal yang sama, tapi aku perjelas.... Bagi ku dan keturunan ku, istri hanya satu-satunya. Tidak ada selir ataupun yang lain."
"Tapi bagaimana jika ada masalah dalam penerus kerajaan nantinya. Bagaimana dengan nasib putriku?"
"Putrimu tidak akan mengalami hal yang buruk. Aku janjikan itu padamu."
"Baiklah raja, tapi yang terpenting adalah bagaimana dengan pangeran sendiri? Apakah ia sudah memiliki gadis lain?" Dan seketika, raja terdiam mendengarnya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Suasana diam bibir juga terjadi di tempat hijau rimbun itu. "Kenapa diam? Kau kehilangan kata-kata? Tadi kau bicara banyak sekali bahkan melamar ku."
"Bukan begitu."
__ADS_1
"Kalau begitu, katakan siapa dirimu."
"Aku seorang bangsawan. Aku tinggal disini dan, kau tau lanjutannya kan?" Tapi tampaknya Mei tidak menyahut apapun, hanya menatap datar membuat Lee jadi kelimpungan sendiri.
'Apa arti wajah itu? Apa dia akan menolak ku? Tidak! Kenapa jadi begini? Ayo Lee, lakukan sesuatu.' Lee tampaknya memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
"Aku seorang pangeran, aku putra pemimpin kerajaan ini. Saat pertemuan pertama kita, aku terluka karena pengkhianatan paman ku. Pertemuan kedua kita, aku melakukan pemantauan dan menangkap para pendatang ilegal di kerajaan. Dan pertemuan ketiga kita, aku mencari keberadaan mu, aku tau kau sudah meninggalkan kediaman pertamamu setelah perpisahan itu. Dan pertemuan keempat kita, aku menemukan mu, jujur saja ketika mendengar kau jatuh dari sungai membuat duniaku berhenti berputar tapi, melihat ketangguhan mu aku percaya kau bisa melewatinya. Aku tidak suka menyimpan sesuatu terutama perasaan ku, aku menolak gadis manapun untuk mu. Aku berdebat dengan ayahku untuk mu, aku yakin kau disini." Sepanjang itu pidato Lee, tidak membuat Mei bicara juga membuat pria itu akhirnya mengatakan kata terakhirnya.
"Kalau kau menolak ku, aku bisa berbuat jahat tapi aku tidak akan melakukannya. Sesuatu yang dipaksakan tidak baik, aku sudah melihatnya, kau dan pria itu. Tapi aku merasa lega setelah mengatakannya. Mungkin aku terlalu banyak bicara, karena saat bersamamu aku merasa berbeda. Mungkin kau berpikir aku suka mengumbar kata-kata yang manis tapi bohong." Tidak ada jawaban juga, Lee berjalan melihat sulur tanaman itu apakah sudah bisa diatasi sesuai malam yang datang.
Lee yang bertolak belakang dengan Mei, tentu tidak tau bahwasanya manik indah itu menatap dirinya. 'Dia tidak berbohong. Ketika bicara, dia menatap ku. Dan ini... Terasa kencang....' Mei menyentuh dada nya yang terasa berdebar kencang. Dalam hidupnya baik di masa lalu dan masa depan tidak ada debaran seperti ini.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Mommy?" Tampak Mei yang masih berusia 8 tahun itu mendekati wanita dengan rupa sepertinya tengah menuangkan susu.
"Ya sayang?"
"Kenapa ketika Daddy, mommy atau yang aku sayangi sakit dan bahagia aku juga merasakan nya?" Mendengar pertanyaan putri kecilnya, kegiatan itu ia hentikan.
"Merasakan seperti apa?"
"Itu artinya hati putri mommy dan juga mommy, Daddy dan yang lainnya terhubung. Perasaan itu seperti tali yang mengikat rambut Meysa dan menghubungkan nya dengan helaian satu dengan yang lainnya, ketika ia ditarik maka kepala akan terasa sakit, tapi ketika disentuh terasa baik."
"Jadi, mommy dan Daddy juga begitu?"
"Ya sayang, setiap orang memiliki nya. Itu sama seperti jari manis kita menemukan cincin yang tepat."
" Seperti cincin mommy dan Daddy?"
"Ya, dan Putri mommy juga akan menemukan nya."
"Tapi bagaimana kalau aku salah pilih? Aku kan suka semuanya." Ucapan itu membuat mommy nya tertawa.
" Kalau begitu kenapa Meysa bisa menemukan Daddy dan mommy ditengah keramaian?"
__ADS_1
" Karena hatiku memilih nya, dan ia tidak pernah salah kan mommy?"
"Ya, dan begitu juga dengan cincinnya."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ditengah lamunan itu, Lee memanggil nya membuat dia kembali tersedot ke masa ini. "Apa?"
" Kau ingin pulang kan? Ayo, ini sudah waktunya." Mei dan Lee keluar dari kediaman sulur tanaman itu yang membuat mereka terjebak beberapa jam.
Entah mengapa, mereka sekarang saling terdiam, tidak seperti tadi. Tidak ada pembicaraan yang diperbincangkan seperti sebelumnya. "Hei."
"Kenapa? Ada sesuatu?"
"Kau seorang pangeran??"
"Ya."
"Kalau begitu, kau bisa melakukan apapun bukan? Maksudnya seperti mengabulkan permintaan."
"Itu sudah menjadi tugas ku, karena akan menggantikan ayahku."
"Tentunya ucapan mu bisa dipegang bukan?"
"Kalau tidak begitu, rakyat akan percaya siapa?"
"Dan pastinya kau suka berlatih pedang, menunggangi kuda dan juga bermain catur."
"Itu hal dasar."
"Jadi, kalau aku menjadi istrimu maka kau akan mengabulkan keinginan ku dan bisa bermain bersama bukan?" Dengan kecepatan tinggi Mei mengatakan nya dan secepat itu juga Lee mengangguk tapi ketika selesai mengangguk, ia berubah menjadi es batu.
'Tunggu, dia bilang apa?'
'Kenapa dia diam? Tidak ada raut apapun. Apa dia mempermainkan ku?'
__ADS_1
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.