Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Berbeda!


__ADS_3

Tangan Mei tengah dihiasi oleh sepasang gelang dengan manik biru bercampur putih yang begitu mengkilat. "Indah sekali!" Pujian itu terlontar dari bibir Mei sambil menatap kedua gelang itu.


"Ya, selain mengandung keindahan, dia juga mengandung perlindungan." Mei mengangkat alisnya sambil mendengar penuturan baba nya.


"Perlindungan?"


"Ya, baba tidak bersama dengan mu lagi Mei, karena itu baba membuat gelang ini dari kumpulan batu dan mutiara selama perjalanan. Mereka dicari oleh para pengrajin karena memiliki khasiat yang akan terjadi dengan hati dan niat yang tulus dan baik." Baba mengambil satu gelang dan memakaikannya di tangan putrinya itu.


"Pasangkan juga ini pada suamimu. Doa baba berada dalam bentuk gelang ini. Jujur saja, hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi dan tanpa kita inginkan. Jika itu terjadi padamu, setidaknya kau tidak terluka berat atau sampai merenggut keluarga baru mu. Baba dengar suamimu akan pergi bukan begitu?"


"Ya, ada beberapa pemberontak yang mulai berulah. Raja meminta Lee kesana." Mei membenarkan ucapan baba nya.


"Baba tidak meragukan kemampuan suamimu, tapi ini bisa menjadi salah satu perisai nya. Ketahuilah nak, terkadang kejahatan itu tidak bisa dilihat dengan mata dan kita bisa terluka tanpa terlihat."


"Baba bicara sangat jauh, bagaimana kalau makan dulu?" Sajian yang diacuhkan sejak tadi membuat Mei memberikan beberapa makanan kesukaan baba nya.


"Tentu, jangan lupa hmmm."


"Ya, Lee akan senang bertemu dengan baba. Dan mendapatkan hadiah dari mertuanya." Mei tersenyum kecil sambil memasukkan potongan manis itu ke mulutnya. Beberapa kali kunyahan membuat Mei terpikir akan ucapan baba nya.


"Jangan berpikir jauh." Seolah tau pemikiran putrinya, pendeta Ming mengelus rambut berkilau putrinya.


Mei hanya tersenyum menanggapi ucapan baba nya. Gelang yang terpasang di tangan kanannya itu terlihat bersinar diterpa oleh sinar matahari.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Tempat pertemuan berbentuk persegi panjang itu masih membahas urusan serius. "Jadi bagaimana Lee? Kapan akan berangkat?" Tanya raja pada putranya itu.


"Aku sudah meminta Xiong untuk menyiapkan semuanya ayah, dan mengenai keberangkatan ku...."


"Kau bisa pergi lusa, Mei saat ini berada di fase yang berat pertama kalinya. Ayah tidak meragukan dirinya, tapi ada kehidupan baru yang terkadang membuat dirinya bertingkah yang bertolak belakang dengan kepalanya. Ayah sudah meminta jendral andalan kerajaan kita untuk kesana, baru kau juga bisa kesana. Temanilah Mei seharian besok, kalau dia meminta kau pergi besok jangan diikuti." Mendapatkan tatapan tanya dari putranya membuat raja terkekeh kecil.


"Sepertinya kau belum mengerti dengan ilmu rumah tangga terutama istri. Dengar Lee, jika istrimu mengatakan iya itu artinya tidak. Jika dia bilang tidak itu artinya iya, mudah kan?" Melihat ekspresi putranya yang sungguh kebingungan membuat tawa raja meledak.


"Intinya habiskan waktu bersama Mei besok. Kau pergi bisa dalam waktu lama dan tidak diketahui." Lee mengangguk karena ucapan ayahnya adalah benar.


"Ya Ayah, aku juga berpikir begitu."


"Baguslah, kembalilah. Pendeta Ming datang berkunjung." Lee cukup kaget dengan pernyataan ayahnya.


"Ayah sudah bertemu?"

__ADS_1


"Nanti saja, pastinya dia ingin bertemu dengan Mei dan dirimu. Pergilah dulu." Lee segera menuju ke tempat dimana Mei dan pendeta Ming berada di sana.


"Salam Ayah, selamat datang. Bagaimana kabar ayah?" Lee langsung memberikan salam serta menanyakan kabar mertuanya itu.


"Baik, bagaimana dengan mu?"


"Aku sangat baik ayah, apalagi saat ini anak ku tengah tumbuh kembang di sini." Lee sangat bangga mengatakan itu yang membuat pendeta Ming tersenyum sumringah dan Mei ikut tersenyum.


"Sangat terlihat. Ayah sangat senang, kau menjaga Mei dengan baik. Ayah dengar kau akan berangkat."


"Ya, aku baru saja selesai dengan raja."


"Kalau begitu aku akan menemui besan ku itu, Mei...."


"Baba tidak akan pulang kan?" Tanya Mei yang berpikir baba nya akan pulang.


"Tidak, baba akan pergi dengan berpamitan dengan putri baba." Diantar oleh salah seorang prajurit, pendeta Ming meninggalkan putri dan menantunya.


"Apa?" Tanya Lee yang mendapatkan tatapan lain dari Mei.


"Kau marah? Sepertinya istriku ini tengah kesal, apa aku melakukan sesuatu?" Keduanya yang pastinya akan bermesraan, langsung ditinggal pergi oleh pelayan disana.


"Apa hasilnya?" Mei bukan wanita yang akan diam menunggu sang suami mengerti maksudnya.


"Ayah yang memutuskan, dengar sayang.... Aku juga ingin memiliki waktu bersama anak kita juga kan? Ayahnya akan pergi memberantas pemberontak, dia harus tau." Mei yang awalnya kesal memberikan ruang untuk Lee bermain di perut nya.


"Hanya anak kita?"


"Kita, kau aku dan anak kita. Aku takut kita akan sulit berkirim pesan nanti, desa yang kutuju butuh waktu seminggu kesana. Aku pastinya tidak akan sanggup menahan rindu selama itu nantinya. Kau tidak?"


"Aku juga, tapi itu adalah konsekuensinya. Tidak semua berjalan dengan mulus, kau bukan hanya milikku tapi juga rakyat. Tapi bukan berarti aku menerima wanita lain seperti posisi ku!"


"Itu tidak akan terjadi, aku memilih mati jika melakukan nya. Ketahuilah hatiku hanya terpaut padamu." Lee yang menggenggam tangan istrinya, melihat perhiasan baru di tangan istrinya.


"Ini...."


"Hadiah dari baba, bagus kan?"


"Iya, sangat bagus. Berkilau seperti mu."


"Baba juga membawakan untuk mu, kita memiliki gelang yang sama lihat?" Mei memasangkan gelang itu pada tangan suaminya dan keduanya mengangkat tangan mereka bersamaan memperlihatkan keserasian gelang mereka.

__ADS_1


"Sangat indah, aku memiliki sesuatu yang sama bersama dirimu sayang."


"Jangan melepaskan nya seperti cincin pernikahan kita." Ujar Mei sambil mendaratkan bibirnya di tangan itu.


"Apa yang dirimu pasangkan dan berikan kepada ku, tidak akan lepas. Kecuali kau meminta nya."


"Maka sampai mati kau akan menunggunya, karena itu tidak akan terjadi." Satu kecupan manis mendarat membuat Mei cukup kaget.


"Jangan mengatakan kata itu, kau akan bersama dengan ku. Kalau pun kita tiada, maka tiada bersama." Mei yang mengatakan apapun lagi, dia memberikan ruang bagi Lee mendaratkan bibirnya di leher lembut nya dan sepasang tangan Lee melingkar di perut nya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Jauh dari istana, sebuah desa yang telah menjadi markas tempat aneh dan penuh kesunyian terdapat pesta dengan minuman. "Jadi kita lanjutkan kemana?" Tanya seorang pria kepada pria berlengan besar dan kekar yang tengah memegang gelas minuman.


"Kemana lagi, tentu ke arah barat. Disana ada harta dan juga yang kita butuhkan."


"Tapi.... Aku dengar istana akan mengirimkan perlawanan kepada kita." Kalimat itu membuat pria dengan rambut panjang yang dijalin beberapa itu tertawa.


"Biarkan saja, aku ingin lihat siapa yang akan raja kirimkan untuk menghadang kita."


"Dari kabar, raja akan mengirimkan putranya kesini."


"Putranya?"


"Benar, pangeran Lee."


"Hanya seorang pangeran, belum tentu bisa menghentikan ku. Mungkin dia dibesarkan di istana, bukan di desa dan hutan belantara. Dia tidak tau itu, dia terbiasa dengan kemewahan, berbeda dengan kita."


"Mungkin saja, lagipula raja hanya bisa mengirimkan putranya itu mengingat hanya itu yang bisa dilakukan."


"Aku dengar putranya baru saja menikah."


"Pengantin baru? Begitu rupanya, sangat disayangkan, para keturunan bangsawan itu harus rela mengahadapi bahaya setelah menikmati surga dunia."


"Aku dengar dia menikah dengan seorang putri pendeta. Aku dengar dia sangat cantik."


"Secantik apa, itu tidak akan berpengaruh bagi kita."


"Tuan yakin? Karena dari kabar, yang ini berbeda." Pria yang memulai pembicaraan itu meminta salah seorang maju dengan membawa sebuah papan yang tertutupi kain.


"Buka!" Papan yang tertutup itu langsung terbuka dan memperlihatkan wujud yang terlukis di dalam sana dengan sempurna, bahkan pria yang dipanggil tuan itu menatapnya lekat sosok yang berbentuk cat lukis di depannya.

__ADS_1


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2