
Di istana ada detak jantung yang kembali normal setelah melihat kedatangan sosok yang ditunggu untuk kembali. "Mei! Kau darimana nak?" Tanya raja sambil mendekati Mei yang tampak melangkah besar masuk ke dalam.
"Ayah, aku.... Ada yang penting saat ini untuk kulakukan ayah." Mei tampak bergegas.
"Apa yang terjadi nak? Ada apa? Kau terlihat kotor, kau darimana Mei?"
"Sebuah pesan, aku ingin menuju tempat Lee Ayah. Dia kesulitan saat ini." Ujar Mei menjelaskan dengan tangannya yang tampak berlumuran tanah.
"Mungkin itu hanya pesan palsu Mei. Bisa saja pancingan, Lee akan baik-baik saja. Jangan khawatir, itu bisa mengakibatkan kesehatan mu terganggu,kau sedang hamil saat ini."
"Kesehatan ku sudah terganggu ayah, aku merasa tidak tenang. Aku ingin pergi ke teman Lee, aku merasa dia sedang kesulitan saat ini. Jika ayah mengkhawatirkan ku, maka izinkan aku pergi. Aku juga yakin, ayah juga merasakan sesuatu bukan? Tidak ada kabar dari Lee atau siapapun yang diutus kesana ayah. Aku sungguh khawatir." Raja akui, dia tentu merasakan kekhawatiran karena memang benar, belum ada kabar apapun yang datang mengenai putranya atau pasukannya, hanya dari jenderal saja.
"Ayah akan mengutus seseorang kesana, atau bala bantuan. Kau tidak bisa kesana, keadaan mu tidak memungkinkan. Ayah tidak meragukan kemampuan mu Mei, tapi saat ini kau tengah berbadan dua."
"Percayalah ayah, aku akan melakukannya tanpa menyakiti diriku ataupun kandungan ku. Karena itu izinkan aku pergi, sungguh, aku merasa tidak tenang ayah. Ada sesuatu yang terjadi saat ini, dan itu yang ingin ku ketahui."
"Ayah akan sampaikan pada baba mu. Kau tidak bisa pergi sebelum itu."
"Tidak bisa diundur ayah."
"Ini hampir malam, tidak baik untuk berangkat. Ayah tidak izinkan kau pergi, tunggu besok pagi."
__ADS_1
"Menunggu besok pagi bisa membuat pedangnya semakin menebas diriku ayah. Aku tidak bisa menunggu." Mei langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari raja.
"Segera utus seseorang ke kediaman pendeta Ming!"
"Baik raja."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ada beberapa luka yang tampaknya mulai mengering, tetapi ada juga yang masih basah dan mengalirkan cairan merah itu.
Di tempatkan di dalam sebuah kotak yang terbuat dari besi dengan penghuni yang hampir melebihi kapasitas. Xiong menjadi salah satu disana, dengan memikirkan cara untuk keluar dari situasi ini dan mencari keberadaan Lee.
"Aku yakin kalian lapar! Makanlah! Setidaknya aku masih kasihan pada kalian..." Sepiring makanan dengan porsi dan lauk yang tidak sesuai dengan seharusnya, dilayangkan kepada para kurungan itu.
"Tatapan mu seperti harimau. Kau ingin mencabik-cabik ku? Tunggu.... Biar aku tebak, kau memikirkan pangeran mu? Untuk apa memikirkan Xiong. Pangeran mu tidak akan memikirkan dirimu saat ini."
"Kau tidak mengetahui apapun, untuk apa bicara?"
"Kau tampaknya meremehkan ku. Aku dengar ada seseorang yang....." Manik Xiong semakin membesar menatap pria yang belum ia ketahui namanya itu.
"Siapa namanya?" Tanya pria itu pada salah seorang anak buahnya.
__ADS_1
"Dia merupakan pelayan setia putri Mei Tuan."
"Ya, dia...."
"Jangan pernah menyentuhnya!"
"Lihat, harimau ini semakin beringas. Kau pilih yang mana Xiong? Cintamu atau kesetiaan mu?"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sepasang tangan itu tampak lihai memasangkan kain dengan fungsi berbeda di tubuhnya. Meskipun mentari mulai padam, tetapi gerakan nya yang dilandasi oleh keinginan yang besar tak membuatnya padam.
"Putri....."
"Aku serahkan pilihan padamu Siu. Kau ikut atau tidak? Tetapi yang jelas, aku tidak memiliki waktu untuk itu." Siu yang baru datang, langsung kena ulti oleh Mei meksipun mereka tidak berhadapan.
"Aku akan ikut, aku juga pandai. Kita akan menghadapinya bersama putri." Jawaban Siu membuat Mei mengangguk.
"Kalau begitu bersiaplah, kita tidak bisa memakai pakaian seperti ini bukan?" Siu mengangguk dan langsung mengambil pakaian seperti yang dipasang oleh Mei.
Tangan Mei yang bersiap untuk mengencangkan ikatan di bagian perutnya membuat Mei terhenti sejenak. "Kau bersama ibu sayang, tidak akan ada apapun yang terjadi padamu. Kita akan menghadapi bersama, kita akan membawa ayah kembali sayang. Ibu tau kau anak yang kuat!" Dengan hati-hati Mei mengikat lapisan pada perutnya, dan mengikatnya rambutnya yang membuat juntaian hitam itu tertutup.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.