Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Turut Bertindak


__ADS_3

Langkah demi langkah diambil dan terdengar bunyi melangkah bersamaan. Jalur yang merupakan tanah bewarna coklat dengan hiasan kerikil serta rerumputan yang tidak besar.


Manik yang mengiringi setiap langkah itu nyatanya tidak menangkap apapun.


"Sepi sekali, kemana semuanya?" Tanya Lee sambil terus melangkah.


Jika dilihat, sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan pangeran. Sepertinya ada sesuatu yang membuat mereka menutup diri, bersembunyi seperti ini." Ujar Xiong yang mengutarakan pendapatnya.


"Apa desa ini juga dijarah?" Tanya Lee yang melihat situasi desa itu seperti desa mati.


Lee akhirnya berhenti dan turun dari kudanya. Ketika dia menuju salah satu rumah, tampak beberapa orang langsung keluar bersamaan dan menghadang mereka, dan membuat pasukan yang bersama pangeran langsung mengambil ancang-ancang.


"Lindungi pangeran!" Teriak Xiong yang berdiri di depan Lee.


"Siapa kalian? Apa kalian warga desa?" Tanya Lee menatap orang-orang di hadapannya.


Tapi bukannya menjawab, mereka hanya menatap Lee dan yang lainnya dengan wajah dan tatapan tak bersahabat.


"Aku tidak berbuat jahat, kami hanya melintas. Jika kalian membutuhkan bantuan, kami bisa bantu." Lee terus mencoba untuk mengajak bicara orang-orang yang ia yakini adalah warga desa.


"Kami bosan melihat dan mendengar perkataan yang sama yang berbanding terbalik dengan sebenarnya. Serang!" Sepertinya berunding yang diupayakan tidak menghasilkan hal yang bagus.


Justru dentingan pedang yang menjadi jawaban dan benar saja, Lee yang mendapatkan serangan tentu melakukan balasan dengan gerakan mempertahankan diri.


"Aku pangeran Lee, aku bisa membantu jika ada kesulitan.... Aku...." Serangan perlahan berhenti dimulai dari pria yang menyerang Lee dan diikuti oleh yang lainnya.


Xiong dan yang lainnya tetap waspada dengan ini, meskipun serangan berhenti. "Kau adalah pangeran Lee?" Tanya seorang pria yang sepertinya dihormati disini.


"Ya, aku pangeran Lee." Jawab Lee dengan tegas.


"Kalau begitu, buktikan ucapan itu!"


"Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Lee yang sepertinya memulai negoisasi.


"Kembalikan nyawa yang telah hilang!" Jawaban itu tentu membuat Lee dan semuanya terkejut.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Beberapa waktu menunggu, Mei akhirnya melihat wajah Siu yang menghilang dari pagi menjelang siang ini.


"Siu, kau darimana?" Tanya Mei dengan nada panik.


"Maaf putri, aku terlambat bangun. Dan tentunya terlebih dahulu menyelesaikan tugas ku di dapur pagi ini." Ada jadwal tugas yang yang dibagi oleh pihak kerajaan dan itu harus dikerjakan tidak peduli pelayan biasa dan tidak.


"Kau baik-baik saja kan? Aku khawatir. Aku pikir terjadi sesuatu padamu...."


"Tidak terjadi apapun padaku putri. Putri jangan berpikir banyak."


"Dengar dulu, memang terjadi sesuatu padamu, cinta dan rindu itu yang melanda dirimu." Ucapan Mei membuat wajah Siu tampak merona, membuat Mei terkekeh dan semakin menggodanya.


"Putri bisa saja. Apa putri ingin sesuatu?" Tanya Siu yang melihat Mei tampak menyulam.


"Tidak, temani aku saja. Baba akan pergi sore ini." Siu mengerti perasaan Mei yang merasa sepi karena kepergian suami dan ayahnya.


"Tentu putri." Siu duduk di sebelah Mei sambil membantu gulungan benang yang nantinya kusut atau jatuh.


"Putri....."


"Mengenai bising yang terjadi dan menganggu pendengaran kita, aku mengetahui penyebabnya putri." Seketika sulaman Mei berhenti.


Mei menatap wajah Siu cukup lekat, dan tak lama menyingkirkan sulamannya dan mendekati Siu dengan jarak yang sangat dekat.


Tepukan tangan Mei membuat penjaga dan pelayan yang berada di sekitarnya langsung menjauh sejenak dan meninggalkan Mei bersama Siu. "Katakan, apa ini penyebab kau terlambat?" Tanya Mei dengan manik yang menatap dengan lekat.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Katakan pangeran, apa kau bisa?" Tanya pria yang melontarkan pertanyaan kepada Lee tampak menunggu keheningan pangeran itu.


"Aku tidak bisa mengembalikan apa yang lenyap, tetapi pergi.... Itu bisa kubawa kembali. Aku bukan dewa atau seseorang yang memiliki kekuatan untuk itu." Jawab Lee yang membuat pria itu diam dan semakin menatapnya.


"Kalau begitu kau terlambat pangeran. Karena tidak ada gunanya lagi. Ayahku tiada karena mempergunakan desa kami dan nama kerajaan berlandas hukum kerajaan. Itu yang ia dapatkan, apa balasan dari istana untuk itu pangeran?"

__ADS_1


"Aku bisa mengembalikan desa yang seperti dulu lagi, itu pastinya adalah kebahagiaan dari ayahmu."


"Pemberontak itu juga membawa beberapa gadis desa kami. Aku tidak tau apa yang akan dilakukan kepada mereka, tetapi yang jelas itu tidak baik. Apa kau bisa membawanya kembali pangeran? Karena selain orang tua yang menanti anak perempuan mereka, juga ada suami dan kekasih yang menunggu itu. Para pemberontak itu membuat desa kami hampir seperti desa mati. Aliran air dan juga pasokan makanan mereka bawa dan hancurkan. Mereka membuat kami perlahan-lahan mati di tanah kelahiran kami sendiri."


"Aku akan membantu memulihkannya, aku kemari untuk memberantas mereka. Desa ini dan kalian adalah tanggungjawab istana, aku berkewajiban akan itu, meksipun aku dirasa terlambat. Aku akan memperbaikinya..." Pria itu tersenyum kecil mendengar ucapan Lee.


"Kalau begitu tunjukkan pangeran. Karena kami sudah menunggu seminggu ini."


"Tentu."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Bagaimana?" Sosok yang sejak tadi tampak menunggu, duduk berbalik posisi menunggu jawaban.


"Tuan, belum a...."


"Aku tidak ingin mendengar kekosongan semata! Aku ingin jawaban! Kalau kau tidak bisa, maka mati saja!" Dengan tidak berperasaan, dengan amarah tangan itu melakukan serangan yang membuat pria dengan informasi kosong itu berteriak kesakitan.


"Tuan..."


"Apa?" Dengan rambut yang sudah tak rapi lagi, dia melihat anak buahnya yang datang.


"Ada sebuah pesan Tuan."


"Dari siapa?" Tanyanya dengan aliran merah yang telah menghiasi beberapa tubuhnya.


"Dari informan kita."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Bagus, kau boleh pergi." Meli yang berada di sebuah pasar rampak berpisah dengan seseorang yang memakai tudung dan menjauh darinya.


"Putri, apa putri yakin?" Tanya Siu yang juga menyamar.


"Kita akan tau setelah mencobanya. Kita kembali dan melihat kelanjutannya, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang pekat mengacaukan jernihnya kolam ku!"

__ADS_1


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2