
Tampaknya malam yang telah merajai langit tidak akan membuat manik yang terbuka lebih dari seharian itu tertutup.
Sedangkan manik dengan bulu mata melenting itu tampak berbinar-binar karena bisa melakukan apapun pada sosok di depannya. "Kau tau, ini adalah impianku sejak lama. Melihat dan menyentuh dirimu seperti ini, ini hal yang terindah bagiku Lee." Sungguh mau menghindar bagaimana, Lee hanya menatap tajam Nea yang tampaknya bukan takut, tetapi menjadi daya tarik sehingga gadis itu tampak semakin bersemangat.
"Apa aku begitu cantik, sehingga tatapan mu seperti ini?"
"Kau tidak bicara saja sudah membuat diriku bergetar, apalagi melakukan sesuatu atau gerakan dengan bibir mu ini." Dengan penuh s3nsu@l, Nea menggerakkan jari nya, Lee merasa jijik dan menghindari hal itu.
"Kau pernah dengar, ucapan adalah sesuatu yang ganda? Aku merasakannya, terkadang membahagiakan dan terkadang menyedihkan. Aku masih ingat dengan jelas, kita belajar bersama, kau memanggilku dengan Nea, sangat indah dan merdu ditelinga ku. Seluruh tubuhku ikut merasakan nya, tetapi semuanya berubah menjadi menyedihkan ketika kau mengatakan nama orang lain yang menjadi istrimu. Aku tidak suka dengan itu, itu.... Membuat aku sakit disini.... Ya , disini." Nea menunjuk dada nya dimana semua perasaan bersemayam di sana.
"Sangat sakit, aku melihat mu duduk bersama dengan wanita yang melenyapkan impian ku. Seharusnya aku yang disana, bukan dia!" Nea yang awalnya berbicara dengan nada bahagia langsung berubah menjadi marah.
"Tatapan matamu, terlihat berbeda saat menatap nya. Lihat aku, Lee.... aku juga cantik, apa kurangnya aku dimata mu? Apa kurangnya aku? Kita tumbuh bersama, kita mengetahui kesukaan masing-masing. Makanan, warna, senjata dan segalanya. Apa yang kau lihat darinya? Dia bahkan tidak tau apapun tentang mu! Aku yakin tau! Kenapa kau pilih dia Lee? Sejak kau kembali ke istana, aku menunggumu untuk mengatakan.... Nea, apa kau mau ke istana dan menjadi istriku? Tapi tidak! Kau memang datang, tetapi mengatakan hal yang tidak ingin aku dengar dan tersirat dalam benakku. Kau meminta ku datang ke istana sebagai tamu undangan pernikahan mu! Aku tidak suka!" Lee hanya melihat Nea yang seperti radio rusak dengan ucapan nya.
"Jika kita menikah, aku akan memasak makanan kesukaan mu, aku tau semua itu. Contohnya ini! Lihat! Aku bawakan makanan kesukaan mu, sup lotus dengan ikan. Kita sering makan dulu, kau sangat suka." Nea tampak melangkah sejenak dan kembali dengan sepiring makanan paket komplit.
"Kau pasti lapar kan? Aromanya sangat wangi." Lee melihat sajian makanan dihadapannya, dan sepertinya ia memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Ya, aku sangat lapar. Tapi... aku sulit untuk makan, tanganku terikat."
"Benar, tangan mu terikat." Jelas Nea sambil menatap Lee di depannya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Secepat angin kencang, Mei melajukan kudanya memecah hening nya malam, setelah berpamitan meksipun dengan setengah hati dari raja. Tidak membuat Mei mengurungkan niatnya, ditemani Siu di belakang, keduanya menuju tempat dimana keberadaan Lee saat ini.
Meksipun Mei tidak bisa menjamin, dia akan sampai dengan cepat. Karena kehamilannya yang menemani dirinya, tapi Mei akan berusaha dan tentunya dengan strategi.
"Putri, ini sudah cukup. Putri perlu minum dulu, dan ramuannya." Siu yang telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan Mei terutama janin nya sudah hafal dengan baik waktunya untuk itu.
"Kau juga minum. Sepertinya ini sudah dini hari, kau masih sanggup?" Tanya Mei pada Siu.
"Putri sendiri?" Siu bukannya menjawab, justru bertanya balik yang membuat Mei merasakan kondisi tubuhnya.
Jujur saja, Mei merasa tubuhnya berbeda saat kehamilan ini. "Ada gua, beberapa meter lagi. Kita istirahat disana."
__ADS_1
"Baik putri." Dengan pakaian seperti musafir, sungguh tidak terlihat rupa mereka seperti wanita. Karena Mei yang ahli dalam penyamaran sudah memikirkannya dengan baik.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Seperti perhitungan yang telah Mei lakukan. Dirinya tampak melingkari tempat yang telah ia lewati. "Sebentar lagi makanan akan masak Putri."
"Siu, akan lebih baik.... nantinya kita mengganti nama panggilan. Terlebih setelah ini, kita akan bertemu dengan banyak orang yang mungkin saja musuh. Itu bisa menjadi sangat berbahaya untuk kita."
"Baik, aku harus panggil apa?"
"Panggil Tuan saja, dan rubah sedikit suara mu. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Dan ya...." Mei tampak mengeluarkan sesuatu dari kantong nya.
"Apa itu?" Tanya Siu.
"Ini akan sangat berguna untuk perjalanan misi kita." Jelas Mei dengan sesuatu di genggamannya.
'Aku tidak tau keberadaan dan keadaan mu Lee, tetapi aku yakin kau bisa melewatinya. Sama seperti ku dan anak kita, yang juga berjuang untuk itu." Sambil menatap langit-langit gua, Mei tentu ingat akan suaminya yang tidak ia ketahui dengan jelas saat ini.
__ADS_1
'Xiong, dimana pun kau berada, aku minta bertahan lah! Meksipun aku yakin, kau ahli dengan itu. Aku akan datang padamu...' Sejenak, keduanya menutup mata mereka yang perlu istirahat yang perjalanan berikutnya.
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak