Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Disedot Angin


__ADS_3

Raja yang masih berada di antara kerumunan di festival itu masih belum bergeming dari sana. Ditambah dengan dua gadis yang menjadi kandidatnya berada di sini bersamaann. "Jadi tidak ada yang mau bicara?" Tanya raja sambil melihat dua pendeta yang berada di sisi kanan dan kirinya.


"Hamba tidak tau pasti yang terjadi raja, tapi saat hamba datang, hamba melihat layangan pisau untuk dihantarkan untuk putriku." Jawab Ming ketika yang lainnya belum bicara.


"Hamba juga baru datang raja, dan Putri hamba sudah dalam keadaan kacau." Ryun turut bicara sekarang.


"Hamba bisa mengatakan yang sebenarnya Raja!" Semuanya langsung melihat ke arah sosok yang bicara, terlihat seorang anak perempuan kecil.


"Benarkah?"


"Iya, karena hal ini terjadi karena hamba yang tidak sengaja mengotori pakaian nona berbaju kuning itu." Tunjuk nya tanpa rasa takut.


"Lalu?" Tanya raja lagi, tidak ada yang berani bicara atau menyela pembicaraan raja saat ini, meksipun itu tidak sesuai dengan harapan mereka.

__ADS_1


"Hamba sudah meminta maaf, bahkan nenek hamba juga begitu. Tapi bukannya kata maaf, malah hinaan dan kata-kata yang buruk. Bukan hanya itu ia juga memelintir telinga hamba, lihatlah ini!" Dengan santainya ia mendekat kepada raja dan memperlihatkan telinganya yang terlihat memerah dan juga dihiasi goresan seperti kuku itu.


"Raja itu... Hamba.... Ampun raja tapi hamba tidak sengaja mengatakan hal itu. Ini adalah pakaian yang sangat berarti bagi hamba. Ini bukan salah Ayah hamba raja. Jangan ragukan didikannya karena kesalahan putrinya ini." Tidak tau kemana perginya keangkuhan itu, dia langsung menunduk dihadapan raja yang membuat ayahnya menjadi terpaku.


"Rhuyi." Hanya itu yang dikatakan oleh ayahnya.


"Raja boleh menghukum hamba, tapi semun ini bukan kesalahan ayah hamba. Dan untuk mu gadis kecil serta nenek, aku sangat meminta maaf jika itu melukai hati kalian." Tak peduli dengan pakaian yang berwarna kuning cerah itu sudah kotor bukan main karena tanah.


"Raja, putriku.... Dia..." Raja segera mengangkat tangannya bertanda ia ingin mengatakan sesuatu dengan segera.


"Iya raja."


"Kalau begitu laksanakan segera. Semakin cepat, semakin baik. Prajurit!" Tampak prajurit dengan pakaian yang berbeda dari yang diketahui keluar dari dinding kerumunan yang dibawa raja.

__ADS_1


Mei yang melihat kejadian itu begitu penasaran, karena ia tidak bisa bertanya mengenai apapun terutama kepada baba. 'Apa hukuman di depan publik?' Tebak Mei.


Prajurit yang merupakan seorang wanita dengan wajah yang pendiam dan datar saja tidak memperhatikan wajah seorang prajurit yang diketahui. Ada beberapa orang yang jika dihitung berjumlah lima orang. Keempatnya mendekati putri Rhuyi dan memenangi sepasang tangan Rhuyi, kepala dan bahunya.


Dan yang satunya membawa beberapa helai lidi yang memiliki panjang 10 cm saja.


"Laksanakan!" Raja mengeluarkan perintah nya dan tidak ada yang bicara, semuanya hening seketika bak suara dari kerumunan dan aktivitas jual beli tersedot angin.


Hanya ada air mata dari putri Rhuyi yang mengalir disertai dengan helaian lidi itu menghantam kulitnya. "Satu! Dua! Tiga!" Hanya terdengar suara hitungan sekarang. Wajah pendeta Ryu terfokus pada putrinya yang sedang dicambuk beberapa kali saat ini.


Ditengah hukuman publik itu, Mei dapat melihat manik pendeta Ryu yang menatapnya dirinya bersamaan dengan baba nya, bukan tatapan kesal lagi tapi tatapan mengoyak. 'Apa dia yang terlibat dengan kematian putri baba?'


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2