Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Saling Menyerang


__ADS_3

Mata yang terpejam serta tangan yang tenang itu berubah seratus delapan puluh derajat. Sekarang pedang yang ingin berkerja itu langsung dihalangi sebuah belati yang membuat kedua pemilik saling bertahan dan menyerang.


"Jangan berpikir, singa ini tertidur!" Tania membuat pedang itu menjauh dari hadapannya dan sang pemilik terlihat kesal.


"Ternyata kau memang berbeda. Tapi bukan berarti kau akan menang ratu."


"Dan ternyata kau juga bukan saudara kepala desa bukan." Mendengar itu, senyum kecil terbit di bibirnya.


"Mata dan pikiran mu sangat berbahaya ratu."


"Dan kau seharusnya lebih waspada lagi." Di dalam tenda yang dapat menampung mereka, keduanya menunggu untuk melancarkan serangan satu sama lain.


Dion lebih dulu inisiatif dan dibalas dengan Tania dengan baik. "Mungkin kau tidak terkecoh, tapi warga desa...."


"Kau akan melihat sebuah pertunjukan setelah ini. Aku tidak suka dengan kedatangan tamu yang tidak diundang dan mengambil habis makanan tuan rumah." Tania mendekat dan melayangkan serangan pelan tapi tepat yang membuat Dion hampir kehilangan fokusnya.


"Aku tidak suka tempat ini." Dalam sekali tebas, tenda itu sudah tak berbentuk lagi.


"Kena kau!" Manik Dion berkerja keras mencari keberadaan Tania yang tadi dihadapannya.


"Si@l!" Runtuhan tenda menjadi bantuan untuk melukai Tania yang tentu tidak tau, tapi sayangnya tidak semudah itu.


Keadaan di luar menjadi adu pedang bukan adu lelap serta mimpi indah lagi. Baik Vanriel dan Tania melayangkan serangan mereka yang menghadapi Dion serta Rola.


"Akhirnya kau menunjukkan tubuh sehat mu." Rola menatap remeh wanita cantik dihadapannya.


"Dan setelah ini, ratu yang akan menggantikan ku!" Pertempuran duo vs duo itu semakin memanas dan tidak akan berhenti hingga ada yang terluka.


Tangan yang memegang belati, tergantikan dengan jarum mini yang melesat dan mengenai tangan Dion. "Kau!"


"Tenanglah, baru serangan pertama."


"Sepertinya pertempuran anak kecil ini tidak cocok lagi. Serang mereka!" Tania dan Vanriel tentu menatap lekat dari rerumputan yang menunjukkan pasukan berpakaian hitam dan pedang dengan berbagai bentuk yang tak kalah mengkilap.


"Siap ratu.." Tanya Vanriel sambil menatap istrinya.


"Aku siap! Kita bermain!"

__ADS_1


"Serang dan hancurkan desa ini!" Dion terlihat begitu b3rhasrat untuk menghabisi semuanya.


Dentingan pedang sekarang bukan sekedar pukulan drum lagi tapi sudah alunan musik. Bukan lawan duo lagi tapi sudah bak keroyokan yang bisa dihandle saat ini oleh pemimpin istana itu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Bebatuan yang menjadi penghalang kedatangan mereka telah dihancurkan dan bisa mereka lewati, meksipun memakan waktu tapi sekarang mereka tidak punya waktu lagi. "Segera bergegas!"


"Baik jenderal!" Langkah kaki yang tadinya sudah besar itu sekarang menjadi lebih cepat dan terdengar bak gemuruh.


Tanpa penerangan mereka tetap bisa melihat dengan baik karena kemurahan hati Dewi rembulan yang indah malam ini. "Ingat formasi, kita semakin dekat dan jangan gagal!"


"Kami mengerti jenderal!" Hampir sampai di tugu besar, sekelompok orang itu akhirnya berpencar dan menghilang dengan tugas masing-masing.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Minuman yang dituang dengan suara khas itu membuat pria dengan wajah berciri khas luka itu bergoyang kaki. "Bagaimana? Sudah kirimkan?"


"Sudah golden, sesuai pesan dari tuan di sana."


"Bagus! Jika kolam ikan itu sudah berlumut maka hancurkan dan tinggalkan saja. Karena ikan nya sudah berada disini." Tawanya terdengar menggema di seluruh bagian goa yang bersekat itu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Lapangan yang tadinya berisi rerumputan dan digunakan sebagai latihan sekarang berubah menjadi cucuran cairannya serta tubuh yang rebahan dengan berbagai posisi yang tinggal dipilih.


"Jadi...." Tania tampak mengambil napas setelah cukup mengeluarkan tenaga dan pakaian bersihnya telah menjadi corak abstrak.


"Jangan senang dulu raja dan ratu, karena pertunjukan masih berlanjut." Dion menatapnya ke arah pemukiman warga yang sudah dikepung oleh anak buah Dion dan Rola turut tersenyum sambil mendekap sesuatu.


"Bagaimana dengan sebuah teriakkan kecil ratu?" Manik Tania menangkap An berada dalam dekapan wanita sakit abal-abal itu.


"An....."


"Ratu!" An masih memanggil Tania sambil matanya menatap wajah sepasang suami istri itu.


"Bagaimana ratu? Mungkin kalian sulit ditaklukan tapi bagaimana dengan yang ini? Aku lihat ratu begitu dekat dengan anak ini, bukan begitu?"

__ADS_1


"Turunkan senjata kalian, atau tidak.... Anak serta warga desa akan menjadi sasaran berikutnya."


"Apa yang kau inginkan sebenarnya?" Akhirnya Vanriel bersuara.


"Sangat mudah raja, apalagi kalau bukan uang. Gaji dari istana tidak mampu menutupi kehidupan mewah ku, apalagi dengan pekerjaan yang lebih mudah, dan mendapatkan uang yang banyak."


"Tanpa kau sadari raja, desa di wilayah mu merupakan ladang bagi ku dan Tuan besar ku."


"Kalian hanya pencuri."


"Ya, anggap saja begitu. Tapi kami lebih hebat kan? Dan uang yang kami berikan sepadan dengan tenaga kerja yang diberikan oleh sepasang suami istri yang raja percayai, sangat disayangkan sekali." Dion tampak duduk karena merasa lelah selama pertempuran.


"Sekarang tidak perlu basa-basi lagi! Kita akhiri saja semuanya... Karena kami sudah menunggu keberangkatan kalian dengan suka hati tapi sepertinya kalian lebih suka duka."


"Oh ya? Kau ingin menyerang yang mana dulu?" Tanya Tania yang membuat Dion menjadi dongkol.


"Mungkin lebih baik dengan warga yang sudah tua renta itu, karena aku punya perlakuan khusus untuk anda ratu."


"Jaga matamu!" Pekik Vanriel yang tidak suka dengan tatapan mata itu.


"Jaga bicara mu raja, karena anak ini berada dalam dekapan ku."


"Kita mulai saja pertunjukan nya. Bunuh semua!" Tampak kaki anak buah Dion bergerak dengan pedang mereka menuju pemukiman warga.


"Sambil menunggu teriakan warga, bagaimana kalau kita berbincang sejenak." Tawar Dion dengan seringai nya.


"Ya, tentu saja. Aku juga penasaran dengan pemimpin kalian yang bersembunyi di goa, aku benar?"


"Kalau begitu, aku akan membawa raja dan ratu kesana. Golden pasti suka dengan hadiah dari ku."


"Tapi sebelum itu, nikmati hadiahnya dari kami!" Teriakan memang terdengar tapi setelah Dion dengar lebih baik, matanya membulat.


"An!"


"Aghh, mataku!" Pekik Rola yang kesakitan.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2