Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Kunjungan Baba


__ADS_3

Berselang beberapa saat setelah pembicaraan bersama Siu, terlihatnya Lee menuju dirinya yang membuat Siu langsung pergi memberi salam. Mei yang merasa gelisah langsung memeluk tubuh tegap itu dan mendapatkan sambutan yang tak kalah eratnya.


"Ada apa? Apa ada yang sakit?" Tanya Lee yang mendapatkan gelengan dari istrinya itu.


"Bukan, tapi aku yang bertanya padamu. Apa ada sesuatu? Aku merasa ada sesuatu yang sedang tidak baik." Lee memberikan senyum kecilnya dan memandu istrinya menuju ranjang.


Dengan perlahan, tubuh istrinya mendarat di ranjang yang begitu empuk. "Ada kabar, dari desa di salah satu wilayah kerajaan."


"Apa? Jangan menutupi sesuatu." Mei langsung mengeluarkan pendapat dirinya sebelum suaminya itu menutupi sesuatu darinya dengan dalih kesehatan.


"Aku akan pergi menghentikan pemberontakan. Ada beberapa yang mulai membangkang, jika dibiarkan akan menjadi bahaya nantinya." Mei mendengarkan penjelasan suaminya dengan baik disela-sela dekapan hangat itu.


"Kapan?" Tanya Mei yang tau suaminya akan pergi dalam waktu dekat.


"Jika bisa....."


"Besok?" Jawab Mei melanjutkan ucapan suaminya.


Lee mengangguk dengan jawaban istrinya yang tepat sasaran. "Aku bisa pergi lusa...." Mei menggeleng mendengar penuturan suaminya.


"Tidak, pergilah besok. Aku tidak ingin menjadi penghalang keberangkatan mu, aku ingin... Baik aku dan anak kita adalah penyemangat serta kemenangan untuk mu Lee. Jangan khawatir dengan keadaan ku, aku baik-baik saja. Masalah rakyat dan kerajaan adalah prioritas utama mu, aku sudah mengerti dengan konsekuensi ketika menikah dengan seorang putra bangsawan." Mei mengutarakan hal yang menganggu pikiran Lee.


"Kalau aku bisa pergi lusa, kita bisa menghabiskan waktu bersama sebentar. Ketika aku sudah pergi ke sana, bisa saja sebulan lebih untuk kembali. Kau tau?" Mei mengangguki ucapan suaminya.


"Aku tau, tidak ada kapal terbang yang membawa mu kembali secepat itu." Meksipun mendengar kata baru bagi telinganya, tapi Lee mengangguk saja menimpali ucapan istrinya.


"Tapi ada kapal tempat berlabuhnya diriku kembali pada mu dan anak kita." Manik Mei terpejam membiarkan Lee melingkari perutnya yang belum terlihat.


"Sudah katakan pada ayah?"


"Aku akan menemui ayah setelah ini, kau mendukung apapun bukan?" Mei lebih mendekatkan dirinya lagi.


"Tentu saja, apapun keputusan suamiku adalah yang terbaik." Keduanya tidak bicara lagi, hanya ada pelukan yang terjalin disana.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Setelah langit kembali cerah dab matahari terlihat menyapa, sepasang kaki itu begitu riang dan ringan menuju istana yang merupakan kediaman putrinya.


Dengan beberapa barang yang berada di pundaknya, pria berumur hampir setengah abad itu tak henti-hentinya tersenyum.


"Mei pasti akan sangat senang, aku sangat merindukan putriku." Pendeta Ming terus melangkah menuju istana yang sudah beberapa waktu tidak ia pijaki.


Ditengah perjalanan, perjalanan pendeta Ming disambut oleh pembicaraan dan interaksi warga yang seperti biasanya. "Aku dengar pemberontakan sudah semakin membesar."


"Iya, aku merasa sangat takut untuk melakukan perjalanan jauh ke desa lain saat ini."


"Mereka bukan hanya mengincar harta tapi juga nyawa."


"Aku merasa ngeri dengan mereka."


"Iya, dan aku dengar raja sudah mulai bertindak."


"Benarkah?"


"Lee akan pergi?" Raut wajah pendeta Ming tampak berubah dari bahagia setelah mendengar percakapan warga.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sambil menunggu Lee yang tengah berbincang dengan raja, Mei yang ditemani oleh Siu memberikan makan pada ikan didatangi oleh seorang pelayan.


"Maaf putri." Mei yang tengah asyik mengayunkan tangannya di riak air yang dibuatnya menegakkan kepalanya menatap pelayan itu.


"Ada apa?" Tanya Mei yang merasa malas untuk bangkit dari pembaringannya.


"Pendeta Ming datang bertemu untuk menemui putri." Rasa malas yang mendera tubuhnya langsung berubah menjadi semangat empat lima dan membuat gerakan yang mengejutkan Siu.


"Sungguh? Baba ku datang! Dimana? Minta kesini!" Pelayan itu menjadi senang karena melihat reaksi junjungannya yang tidak sabar bertemu dengan ayahnya.

__ADS_1


"Kau dengar Siu? Baba datang!"


"Putri jangan berlari! Hati-hati putri!" Siu memperingatkan Mei yang berlari kecil diantara jalanan istana yang berkilau dan dihiasi oleh rerumputan hijau nan melembutkan telapak kakinya.


"Baba!" Mei langsung berhambur ke dalam pelukan baba nya yang langsung dibalas tak kalah erat.


"Putriku! Baba sangat merindukanmu!" Mei merasa begitu bahagia bertemu dengan baba yang sangat dirindukannya.


"Aku juga merindukan baba, baba sehat kan?" Mei memeriksa keadaan ayahnya itu yang membuat pria itu tersenyum sumringah.


"Baba sangat baik sayang, bagaimana dengan putri baba? Bagaimana dengan cucu baba? Semuanya sehat?"


"Ya, aku sangat sehat dan juga cucu baba. Apalagi setelah melihat baba. Aku merasa sangat senang."


"Syukurlah, baba merasa senang." Siu ikut datang dan mendapatkan pelukan hangat dari baba.


"Kau baik Siu?"


"Baik baba."


"Kau menjaga Mei dengan baik."


"Tentu saja baba, aku akan menjaga putri Mei dengan baik." Ketiganya berjalan menuju tempat duduk yang tersedia di taman dan di bawah pepohonan, dengan pelayan yang tengah menyajikan makanan dan minuman.


"Ini untuk mu, baba bawakan setelah pulang dari kuil." Tampak beberapa kotak yang berhiaskan kayu coklat mengkilap menyapa manik Mei.


"Apa ini baba?" Tanya Mei yang penasaran.


"Ada perhiasan kecil dan ramuan kesehatan serta ini...." Pendeta Ming tampak mengambil salah satu kotak dan membukanya.


"Ini...."


"Untukmu dan suamimu." Ujar pendeta Ming dengan tangannya yang sudah terisi sesuatu.

__ADS_1


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2