Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Janji dan Penantian


__ADS_3

Ditengah sinar rembulan yang menyinari tempat itu. Dapat terlihat oleh manik yang tajam itu sebuah hiasan pedang yang terbuat dari butir mutiara yang cerah ditambah disapa olah cahaya bulan membuat butiran mutiara itu terlihat indah.


"Untukku?" Sepertinya kepala Xiong belum panas, sehingga kinerja otak nya belum sampai.


"Menurut mu?" Tanya Siu yang terasa sangat sulit bicara banyak.


Xiong tidak berbicara lagi, ia melihat gantungan yang ia diamkan seperti acara ngambek itu dipasang oleh Siu di sarung pedang nya.


"Sudah, bagus.... Kau suka?" Meskipun terasa sesak Siu tetap bicara. Walaupun saat ini jantungnya terasa ingin meledak.


"Bagus..." Dengan manik yang masih menatap sarung pedang nya, Xiong bicara pelan dan sedikit.


Entah karena tidak ada lagi pembicaraan atau suasana yang tidak mendukung atau mereka saling tidur menduga akan hal ini, entahlah.... Yang jelas keduanya tampak hening.


Karena hening yang terasa lama walaupun sebenarnya sebentar itu membuat Siu yang sudah dingin dan beku tidak karuan langsung mengambil langkah seribu dengan napas yang telah dikumpulkan sebanyak-banyaknya.


"Kalau begitu aku pergi dan jaga diri....." Siu yang sudah membeku sebelumnya langsung berubah menjadi patung es karena dekapan yang mendera tubuhnya serta sebuah ucapan yang tidak pernah ia bayangkan atau hanya ada dalam angan-angan nya saja.


"Aku akan menikahi mu setelah kembali." Dengan keheningan malam dan sinar rembulan yang menyoroti mereka berdua bak di lantai dansa saat ini, telinga Siu dapat mendengar dengan jelas lamaran secara tidak langsung itu.


"Aku akan kembali dan menikahi mu, Siu." Sekarang manik Siu ikut terpejam sesaat setelah ucapan Xiong berikutnya dan juga sebuah kecupan manis pertama kalinya mendarat di keningnya.


Tentu saja Siu merasa campur aduk saat ini. Dirinya tanpa terasa ikut mendekap tubuh Xiong. Untuk sejenak keduanya berpelukan erat meskipun berpacu dengan waktu. Hanya senyuman yang bisa menjelaskan perasaannya saat ini, tidak ada kata balasan dari Siu, tapi Xiong mengerti dengan jelas jawaban gadis itu.


Suara ringikkan kuda membuat keduanya tersentak dan melepaskan pelukan mereka. Sejenak manik mereka bertatapan dan hanya ada keheningan disana. "Aku pergi..." Ujar Xiong sambil menatap wajah malu merona seperti ceri itu.


"Hati-hati dan kembalilah. Aku menunggu janjimu." Dengan wajah yang masih menunduk dan curi-curi pandang sesekali, membuat Xiong merasa gemas dan tersenyum cerah seperti rembulan dengan sinar terangnya.


"Jaga dirimu juga." Perlahan Xiong berlawanan arah melangkahkan kakinya. Siu tidak bergeming dari tempatnya dan hanya melihat kepergian Xiong yang mulai menjauh darinya.


Hanya tangannya yang akhirnya dengan sekuat tenaga ia kumpulkan bisa ia gerakkan agar tetap terlihat oleh Xiong. Hingga akhirnya sinar rembulan yang menutupi wilayah mereka menjadikan posisi Xiong gelap dan tak terlihat lagi.


Hanya suara langkah kaki dan juga tapak kaki kuda yang terdengar melewati dirinya dan perlahan-lahan menghilang dari pendengaran nya.


"Aku menunggumu dan mendoakan mu, Xiong." Dengan mendekap dada nya yang terasa berdetak kencang, Siu perlahan kembali ke istana tempat menunggu kepulangan Xiong.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Meksipun kegelapan masih berlanjut dan ditemani oleh sinar rembulan, tetap saja Mei memilih tetap terjaga tanpa tidur kembali. Sembari duduk dengan menjulurkan kakinya, Mei sesekali mengelus perutnya.


"Ayo kita berdoa agar ayahmu kembali dengan kemenangan dan baik sayang. Ibu tidak tau, kapan ayahmu kembali..... Tapi yang jelas ibu yakin ayahmu akan kembali seperti saat dia pergi." Kamar yang biasanya menjadi tempat istirahat dan candaan serta menghabiskan waktu bersama meskipun sejenak. Sekarang, terasa berbeda terlihat begitu kentara hanya ada dirinya sendiri dan sang buah hati.


Ditengah lamunan itu, sebuah ketukan pintu membuat Mei yang tengah duduk bersandar tidak terganggu dan hanya membalas dengan ucapan.


"Masuk!" Terlihat sosok Siu dengan beberapa nampan yang diketahui jelas oleh Mei.


"Siu, aku pikir siapa. Ayo masuklah." Dengan senyuman kecil serta tetap diposisi semula, Mei menyambut Siu yang sudah seperti adiknya.

__ADS_1


"Putri tidak tidur?" Tanya Siu.


"Tidak, aku tidak mengantuk." Setelah mendengar jawaban Mei, Siu meletakkan nampan yang dibawanya dan mulai mempersiapkan untuk diminum.


"Kalau begitu, ayo minum dulu putri. Semalam putri belum minum ramuan."


"Ya, Lee sepertinya lupa... Begitu juga aku. Kau tau kan?" Ujar Mei sambil tertawa kecil.


"Iya putri, dan pangeran memberikan tanggung jawab kepada ku, untuk menjaga putri dan si kecil."


"Aku tau." Menerima segelas ramuan yang sudah menjadi satu dan segera meminumnya.


"Apa putri butuh yang lain?" Tanya Siu sembari mengambil gelas yang sudah kosong itu.


"Tidak, kau masih memanggil ku dengan itu, aku sudah bilang. Kalau kita berdua panggil..."


"Aku sering lupa, maaf ya kakak." Mei hanya tersenyum menanggapi ucapan Siu yang sama.


"Jadi... Bagaimana?" Siu tampaknya bingung di awal membuat Mei menggodanya kembali.


"Aku tau..... Jangan berpura-pura atau lupa." Wajah Siu langsung ia alihkan dengan bersemu merah itu.


"Dia akan menikahi ku setelah kembali." Mei tampak bahagia mendengarnya.


"Akhirnya... Kau pasti sangat bahagia kan?"


"Xiong pemuda yang baik, tentu dia mengerti harus apa. Dia tidak akan melewatkan waktu sedikit pun, setelah tau perasaan kalian masing-masing." Siu tampak malu-malu meong membuat Mei tersenyum sembari terus menggoda nya.


"Putri...." Siu menatap Mei yang tampak terkantuk-kantuk dan akhirnya rebah di ranjang itu.


"Putri butuh istirahat." Dengan perlahan Siu menyelimuti tubuh Mei yang sudah tertidur. Sembari mengingat apa yang Lee amanah kan padanya.


'Setelah aku pergi, Mei tidak akan tidur. Tapi saat ini tidak memungkinkan, jadi tambahkan sedikit herbal untuk rasa kantuk. Dia harus cukup tidur, aku percayakan padamu.'


"Selamat beristirahat putri." Siu perlahan pergi menutup pintu dan meninggalkan Mei yang telah tertidur pulas.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sembari berpacu dengan mentari yang akan datang, Lee memulai percakapan yang membuat Xiong ingin menghilang saja. "Jadi... Kapan? Apa setelah kita kembali?" Lee langsung tembak mengenai sasaran yang membuat Xiong tepat disebelahnya berkuda terdiam sejenak.


"Iya pangeran..." Sungguh Lee menjadi tertawa melihat reaksi Xiong yang sungguh berbeda sekarang.


"Itu sangat bagus! Siu adalah gadis yang baik, dan tepat... ya, meksipun pertemuan kalian selalu tidak benar." Jika diingat Xiong akan tertawa mengenai pertemuan dirinya bersama Mei yang selalu dihiasi pertengkaran.


"Takdir penuh kejutan."


"Ya, itulah kehidupan. Setelah ini kau akan merasakan bagaimana ada seseorang yang menanti kepulangan mu dan sambutan serta kehadirannya membuat hidup mu menjadi lebih indah." Lee tampak menatap jalanan sambil mengingat kebersamaan bersama Mei.

__ADS_1


"Aku yakin kita akan kembali sebelum putri Mei melahirkan pangeran."


"Ya, tapi aku tentu melewatkan perkembangan nya. Aku menanti tendangan pertamanya, pasti sangat hebat."


"Siapa yang tau pangeran, kita mungkin kembali dalam waktu dekat ini."


"Semoga saja."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sambil ditemani oleh wanita panggilannya, pria dengan rambut kepang panjang itu mendengar informasi.


"Aku dengar akan ada bala bantuan yang akan datang tuan, tapi...."


"Apa?" Wanita yang tengah melayani tuannya itu tampak tidak terganggu dengan aksi penyaluran informasi itu.


"Itu tuan.... masalahnya.... tidak ada rute yang jelas karena rute dari pria itu tidak terbukti...." belum selesai bicara, layangan pisau langsung menancap di dinding membuat wanita yang tengah bersimpuh itu langsung kaget bukan main.


"B0doh! Kalau begitu cepat cari! Serangan pertama membuat jalur kita terhambat, cari tau segera, aku ingin menghabisi secara cepat kedatangan pangeran itu! Setelah itu, menuju hadiah utama ku...." dengan seringai nya,dia menatap lukisan yang terpajang di hadapannya.


"Baik tuan!" Pria pembawa informasi itu langsung pergi karena tidak mau diamuk lagi.


Mereka baru saja beristirahat setelah melakukan pertempuran yang cukup sengit dengan jenderal yang dikirimkan oleh raja. Tapi dengan rencana yang telah disokong oleh informasi sebelumnya membuat mereka menang meskipun mengalami kerusakan dan kematian anggota mereka.


"Langsung saja, aku ingin tau bagaimana rasanya kecantikan desa ini!" Dengan cukup kasar, tangan yang baru saja melempar posts itu menarik rambut dan tubuh molek itu dan tak lama terdengar suara yang hanya dilakukan oleh pasangan yang sesungguhnya.


"Ya, terus! Aku tidak sabar.... Bagaimana dengan rasa kecantikan serta keindahan dari mu, sayang..." Sambil dipacu saat ini, pria itu terus menatap lukisan dengan maniknya dan otaknya yang tengah membayangkan saat ini.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Jenderal... Anda sudah baikan?" Ditengah gelapnya gua yang dibantu dengan satu penerangan kecil beberapa orang harus bertahan hidup dengan luka yang cukup besar.


"Bagaimana? Apa ada kabar dari istana?" Tanyanya dengan napas yang tersendat sembari menahan luka.


"Sekarang belum ada jenderal. Tapi sepertinya pangeran Lee sudah menuju sarang pengkhianat itu."


"Aku tidak tau siapa pengkhianat sebenarnya... bagaimana bisa, pemberontak itu tau mengenai kita. Tapi aku yakin pangeran akan menyelesaikan nya. Setelah luka dan stamina kita pulih, kita segera menyusul!"


"Baik jendral!" Semuanya bersorak dengan semangat meksipun kondisi mereka tidak saat ini.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Siu yang baru saja selesai dengan pekerjaannya menuju kamarnya saat ini. Sembari melangkah melewati lorong istana yang cukup terang, Siu yang melangkah dengan mendengarkan suara kakinya cukup kaget dengan sesuatu yang terlihat oleh maniknya.


"Apa itu?" Merasa ada yang janggal, Siu mendekat kesana dengan langkah yang sangat hati-hati.


Bersambung.......

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2