
Gadis itu masih membeku karena penglihatannya menangkap sepasang pemuda dan gadis yang terlihat melakukan sesuatu yang tabu di zaman itu. "Apa yang kalian lakukan?" Sontak saja sang pembuat adegan ikut panik dan segera berdiri dengan pemikiran yang masih loading lama.
"Nona? Ini.... Aku..."
"Xiong, apa ini? Kau melakukan..."
"Tidak seperti yang nona pikirkan, aku..." Sedangkan Siu yang melihat interaksi antara Xiong dan gadis yang datang serta berbicara dengan Xiong.
"Kenapa kau bicara begitu kekasih ku?" Tentu saja Xiong bak terkena sambaran petir ketika bibir yang menangis sesenggukan itu berubah menjadi lain.
"Apa? Kekasih?"
"Iya, nona ini siapa? Dia ini kekasihku. Dan menurut Nona apa yang sepasang kekasih lakukan?" Baik, Xiong langsung tremor dan tidak dapat bergerak ketika Siu bangkit dan memeluk dirinya, bukan hanya itu tapi gundukan kenyal itu ikut terasa di lengan kekarnya.
"Kekasih?" Tampak gadis itu bingung tapi tak lama.
"Baiklah, sekarang aku ingin tanya, dimana pangeran? Dimana dia? Bukankah biasanya kau bersamanya? Aku hanya menemukan pedang nya saja. Dimana dia?" Xiong yang jaringannya melambat karena terkoneksi kembali dengan cepat karena berkaitan dengan pangeran nya.
"Pangeran? Dia di... si..." Bibir Xiong sekarang yang terkunci. Karena tempat yang ia pikir adalah titik keberadaan pangeran nya, malah kosong melompong.
"Dimana? Kau ini! Katakan dengan jelas!"
"Tapi tadi disini..." Siu yang juga berada di sana, ikut panik karena tidak melihat keberadaan Nona nya.
"Nona? Nona! Nona kau dimana?" Ketiganya tampak mencari meskipun dengan pencarian berbeda.
"Cepat cari!" Tidak peduli dengan keadaan yang terjadi sebelumnya, sekarang adegan sepasang kekasih yang ketahuan berubah menjadi pencarian orang yang hilang tanpa jejak.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Beberapa meter dari tempat pertama, terlihat kedua orang yang tadi sibuk bertarung sekarang sibuk mengeluarkan diri mereka dari zona berbahaya alam. "Aku sudah bilang, jangan. Dan sekarang lihat akibatnya!" Tampak pria itu melihat ke depan dengan wanita yang terjebak bersamanya.
"Kau hanya berkata jangan. Siapapun bisa melakukan nya, kenapa tidak bicara dengan jelas? Kenapa jadi menyalahkan ku? Ini semua karena ulah mu!" Tentu saja sang wanita tidak mau disalahkan begitu saja.
"Mana sempat. Kita sudah dibawa jalan-jalan hingga kemari."
"Kalau begitu pikirkan bagaimana keluar. Karena mu, aku jadi terjebak. Baba pasti khawatir mencari ku."
__ADS_1
"Kita tidak bisa keluar sekarang."
"Jadi?"
"Tunggu malam hari, saat malam pergerakan sulur tanaman ini menjadi lambat karena tidak ada cahaya matahari."
"Aku pikir hanya sekedar cerita saja."
"Kau bilang sesuatu?"
"Tidak." Mei dan Lee berada cukup jauh dari tempat mereka semula. Karena Mei menarik sulur tanaman yang salah dan membuat mereka dibawa jalan-jalan hingga ketempat kediaman para sulur tanaman itu.
Masalahnya, selain pergerakan yang cepat. Mereka juga menutupi jalan keluar seolah mengurung keduanya. "Kau tidak bicara lagi, sudah lelah?"
"Mau bicara apa? Kita tidak saling mengenal."
"Kita sudah beberapa kali bertemu dan kau bilang tidak mengenal? Mau mengenal bagaimana? Aku sudah mengenal mu."
"Kalau begitu jika aku pergi ke pasar dan berbelanja apa bisa disebut juga begitu?"
"Apa kau mata-mata? Atau penjahat?"
" Kenapa bicara begitu?"
"Pertemuan pertama kita, kau hanyut dengan keadaan terluka parah. Pertemuan kedua kita, kau pergi ke tempat buruk itu dan sekarang kau beraninya memeluk ku tanpa izin sehingga aku berada di situasi seperti ini. Dan yang terpenting.... Bagaimana kau tau semua...." Mei tampak mengentikan ucapannya karena jarak keduanya terlihat dekat.
"Identitas mu? Begitu?" Manik Mei kembali membesar karena jarak yang sudah ia berikan, kembali dilewati oleh Lee.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Bagaimana menurut mu?"
"Aku tidak suka pertanyaan ku dijawab dengan pertanyaan kembali."
"Apapun itu, pada pertemuan berikutnya kau akan menjadi istriku."
"Percaya diri sekali." Terlihat wajah Mei melengos sambil mengatakan kepercayaan diri Lee.
__ADS_1
"Apa yang aku katakan, akan terjadi. Maka bersiap-siaplah."
"Kau mengenal ku bukan?" Lee mengangguk cepat.
"Kalau begitu, kau juga tau bagaimana diriku dengan pria. Aku tidak suka dengan pria yang terutama banyak bicara seperti mu."
"Lalu katakan pria seperti apa yang kau suka?"
"Pastinya tidak seperti Vanriel? Bukan begitu?" Lagi-lagi manik Mei membesar.
"Aku suka dengan manik matamu, apalagi saat membesar. Kau kaget dengan kebenaran yang aku ketahui? Jujur saja aku sudah menyukai mu sejak pertemuan pertama kita. Kau berbeda dari yang lain, kau bisa menjadi mawar, menjadi melati dan juga teratai bahkan bunga embun di puncak gunung sekalipun." Dari sisi wanita, tentu pujian yang terlontar dari mulut pria tampan seperti itu setidaknya menarik dirinya.
'Apa pria di zaman ini seperti ini? Atau hanya dia saja?' Mei hanya bisa bicara dalam batinnya sambil menatap wajah itu.
"Jadi.... Kau mau jadi istriku? Aku akan melindungi mu, menjadi tempat berbagi mu dan juga kekuatan mu. Kita bisa menjadi apapun dan melengkapi satu sama lain."
"Apa kau melamar ku?"
"Kenapa?"
"Kau melamar di pertemuan keempat yang seperti pertemuan pertama bagiku dan melamar ku di tempat seperti ini?"
"Bagiku, beberapa kali bertemu, aku sudah bisa melihat semuanya. Dan hutan yang disebut tempat aneh ini adalah tempat terbaik bagiku. Dimana semua keindahan berkumpul, hewan, tumbuhan yang berbagai macam hidup dan memiliki keunikan tersendiri. Hutan ini seperti pemberi kehidupan dan juga kematian jika ada yang mengusik nya. Dia memiliki sejuta keajaiban dengan pesonanya dan juga bisa menjebak dengan pesonanya. Kau seperti itu bagiku, aku tanahnya, kau pohonnya dan buahnya adalah kehidupan baru yang terlahir nantinya." Tidak ada suara selain kicauan burung dan bunyi air yang terdengar mengalir.
Hanya hembusan nafas yang terdengar satu sama lainnya. Bahkan kedua wajah itu saling berhadapan dan maniknya mengunci satu sama lain. "Jadi.... Putri pendeta Ming. Kau mau jadi istriku? Aku bisa menemui ayah mu." Suasana lamaran di hutan dan dikelilingi oleh sulur tanaman itu menjadi kacau dengan berpalingnya wajah Mei yang membuat tatapan Lee berhenti.
"Aku tidak tau kau, katakan siapa kau sebenarnya?"
"Apa itu berpengaruh?"
"Ya, sangat berpengaruh. Baik kau seorang bangsawan atau rakyat biasa memiliki penilaian sendiri bagiku. Jadi jawabanmu, menentukan jawaban ku." Rasa senang meksipun sedikit dan rasa tersipu malu Mei berubah menjadi setelan semula.
Dan bagi Lee, pertanyaan mengenai siapa dirinya menjadi bumerang baginya. Mengingat suami wanita itu yang merupakan bangsawan sepertinya dan ia baru sadar dengan ayahnya yang bisa berbeda pendapat dengan nya. "Dan yang terpenting bagiku adalah, aku tidak bisa menikah dengan setengah restu."
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1