Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Tinta merah


__ADS_3

Layangan pedang kembali menderu Vanriel bertubi-tubi, mulai dari atas, samping dan bawah tapi Vanriel berhasil menghindar serta menangkis. Beberapa kali Vanriel mengambil napas karena latihan sejak tadi cukup menguras energi nya ditambah sekarang dengan serangan Dion yang membabi buta.


"Kau terlihat menghadapi musuh." Ujar Vanriel sambil melihat serangan Dion.


Tapi Dion tidak menjawab ia hanya tersenyum aneh sambil terus melayangkan serangan. "Apa raja tidak bisa bertahan? Atau sudah lelah?"


"Kau ingin menguji darah bangsawan?"


"Buktikan saja raja." Dibilang begitu tentu saja Vanriel mengeluarkan keahliannya. Sekarang acara latihan itu justru terlihat memanas, bahkan warga yang tadinya ada raut kegirangan berubah menjadi cemas melihat adu pedang ini.


"Apa ini latihan baru Ayah?" Tanya seorang anak yang melihat aksi adu pedang itu.


Sang ayah tidak menjawab, hanya matanya yang menjawab dengan terus menatap adu pedang itu. Seorang wanita berlari keluar dari arena latihan dan menuju bagian belakang terlihat Tania sedang melihat proses masak yang dilakukan untuk makan malam.


"Ratu!" Panggilan itu tentu saja membuat Tania yang asyik melihat tarian minyak dan sendok itu terhenti seketika.


"Ada apa?" Tanya Tania yang melihat wanita itu habis lari maraton.


"Ratu, raja tengah latihan pedang bersama warga."

__ADS_1


"Itu bagus kan?" Tania tersenyum sedikit sambil terus mendengarkan cerita wanita itu.


"Iya ratu, tapi.... Saudara kepala desa maju dan itu bukan terlihat latihan pedang lagi melainkan seperti adu pedang ratu. Gerakannya bukan sekedar menyerang tapi melukai!" Tania segera bergegas setelah mendengar kata saudara yang menjadi objek observasi mereka.


Benar saja ketika Tania sampai disana, adu pedang itu masih berlanjut. Vanriel terlihat terus mundur sambil menangkis serangan Dion. "Raja sudah berlatih sejak tadi, raja terlihat kelelahan tapi suara dentingan pedang belum juga berakhir."


Tangan Tania tanpa sadar masih membawa ubi kayu yang sudah putih dan langsing bak idol langsung melemparkan ubi kayu itu hingga membuat pedang Dion terlempar dan terlepas dari tangannya membuat semua mata langsung tertuju dan membuat latihan terhenti.


Manik Dion membola sambil melihat ke arah belakangnya tempat asal ubi kayu itu. "Salam Ratu." Semua warga memberikan salam melihat kedatangan ratu mereka.


"Terlalu bersemangat, hingga lupa waktu. Ini saatnya makan malam, semua kegiatan dihentikan selain kegiatan masak, Dion. Jika raja tidak bisa memutuskan aku yang memutuskan, bukan begitu raja?" Vanriel mulai berdiri dengan tangannya yang melekat dengan pedang kebanggaan nya.


"Maaf ratu, hamba terlalu bersemangat." Dion menunduk sambil mengambil pedang nya yang terlempar cukup jauh dari tempat semula.


"Semuanya bersiap, kita akan segera makan malam." Para warga mulai bubar, dari semuanya tentu ada kepala desa yang menyaksikan semuanya.


"Dion, apa yang kau lakukan?" Tentu dia berpura-pura marah padahal hatinya sudah takut bukan main.


"Maaf Paman, aku terlalu bersemangat. Raja, hamba meminta maaf."

__ADS_1


"Aku senang mendapatkan lawan yang sepadan. Sampai jumpa lagi, ayo ratu." Vanriel beranjak dari sana diikuti Tania yang sekilas menatap Dion.


"Sebaiknya kau perlu melatih tangan mu dengan baik, contohnya ubi kayu ini? Karena genggaman tangan mu seperti nya longgar." Tania tersenyum kecil sembari kembali melangkah meninggalkan Dion yang diam tapi tidak tangannya yang sudah bergetar menahan amarah hingga pedang itu melukai tangannya.


Kepala desa yang masih menunduk, mengangkat wajahnya dan tentu melewati tangan Dion. "Darah! Apa yang kau lakukan!" Kepala desa menjadi panik dan segera mengarahkan Dion ke dalam.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Beraninya dia!" Kepala desa tidak dapat melakukan apapun lagi selain menjaga jarak menenangkan Dion yang melempari barang yang ia beli dengan mahal.


"Tuan... Mari obati dulu...."


"Diam! Luka ini... Luka ini menandakan tidak ada lagi serangan lembut. Ratu itu ingin berperang, aku akan mengirimkan pesan kepada golden!" Dion beranjak menuju kamarnya membuat kepala desa itu terus mengikuti bak anak ayam.


"Apa maksudnya?" Tanya nya dengan kebingungan bukan main.


"Serang langsung!" Dion mengaliri darah segarnya di lembaran kertas coklat itu.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2