
Nuansa pernikahan sudah sangat terlihat. Meskipun ini masih pagi, tapi tampaknya semangat akan itu tidak luntur ditelan rasa kantuk.
Di sebuah ruangan terlihat seorang pria yang berdiri membiarkan para pria itu membantunya bersiap. Tubuh kekar dengan bentuk tubuh yang luar biasa itu, siapapun akan tergugah melihatnya.
Tetapi jangankan menyentuh, mereka hanya bisa menatap dari jauh dan hati-hati dalam menganggumi. Karena pria yang akan menjadi sang pengantin pria itu adalah menantu orang yang berbahaya.
"Bagaimana?" Pintu terbuka menampilkan sosok Dhow yang telah bersiap rapi untuk pernikahan putrinya.
"Sudah hampir selesai Tuan, hanya sentuhan terakhir." Ujar seorang diantara mereka.
"Bagus! Kalian bisa pergi!" Dhow yang telah melihat sosok pria di depannya tersenyum lebar.
"Jadi bagaimana menantu ku? Kau siap?" Tanya Dhow dengan manik yang menatap wajah bertubuh gagah di depannya.
"Aku siap, aku akan melakukan apapun sesuai keinginan mu." Jawaban itu membuat Dhow semakin sumringah.
"Ya, ayo.... Putriku tak sabar untuk itu." Bagai kerbau yang dicucuk lee, mengikuti langkah Dhow menuju altar pernikahan.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan di mata itu selain kekosongan yang tengah dikendalikan saat ini. Dengan pakaian hitam mengkilap dan sebuah mahkota yang senada dengan pakaian nya membuat Lee terlihat mempesona. Tetapi jika diperhatikan lagi, maka ada sesuatu yang tidak baik.
"Dimana putriku?" Tanya Dhow pada pelayan disana.
"Maaf Tuan, nona Nea akan siap sebentar lagi. Dia mengatakan harus berpenampilan begitu cantik di hari pernikahannya."
"Putriku itu... Tidak apa kan Lee? Kau bisa menunggu calon istrimu kan?"
"Ya, aku siap menunggu nya."
__ADS_1
"Bagus!"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Kalian keluarlah! Aku akan segera menyusul! Aku butuh sentuhan terakhir!" Ujar Nea yang begitu cantik dengan pakaian pernikahan berwarna hitam pekatnya.
"Kami bisa bantu nona...." Nea mengangkangi tangannya, bertanda ucapannya tidak boleh dibantah.
"Baik Nona." Setelah para pelayan itu pergi, Nea mengambil sesuatu di kotak perhiasannya.
"Bagaimana aku bisa membiarkan orang lain disini, karena aku akan memakai sentuhan terakhir ku yang membuat Lee tidak akan berpaling dariku, selamanya!" Nea memakaikannya di beberapa titik di tubuhnya dan tak lama memakai penutup kepalanya berjalan menuju pintu yang telah ditunggu oleh pelayan yang siap membawanya ke altar pernikahan.
Dhow tersenyum cerah melihat kedatangan putrinya yang anggun dengan langkah yang diambilnya. "Akhirnya.... Ayo sambut mempelai wanita mu." Lee mengulurkan tangannya menggenggam tangan pengantin wanitanya.
"Ayo, kita mulai pernikahan kalian." Dhow menjadi sosok yang menikahkan putrinya, sekaligus memimpin acara pernikahan itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Kita tidak punya banyak waktu! Kita harus segera berangkat! Sepertinya acaranya sudah dimulai!"
"Acara apa?" Tanya Siu yang sudah kebingungan karena hilangnya Mei.
"Pernikahan, aku yakin Dhow menikahkan putrinya saat ini, dan itu dengan pangeran Lee!"
"Tapi bagaimana dengan putri Mei?"
"Pelayan Siu, kau pasti tau benar dengan itu. Sebaiknya kita segera kesana, karena aku yakin Putri Mei juga kesana!" Jenderal dengan pasukan langsung bergegas berjalan membuat Siu juga ikut segera.
__ADS_1
Jarak yang tak jauh, membuat mereka sudah memastikan akan bisa datang tepat waktu. Siu tidak memungkiri, bahwa Mei juga kesana, tetapi ia sangat khawatir dengan keadaan Mei. Ia bisa saja memburuk karena kehamilannya saat ini.
"Aku benar kan?"
"Acara Pernikahan...." Ujar Siu menatap tempat yang telah dihiasi sebaik mungkin itu.
"Tetapi bagaimana kita kesana? Bukankah kita bisa ketahuan? Mengingat musuh yang kita hadapi?" Tanya Siu yang membuat yang lainnya mengangguk setuju.
"Aku tau...." Jawaban jenderal membuat Siu jadi bertanya-tanya besar.
'Kenapa aku merasa, ada sesuatu yang disembunyikan oleh jenderal?'
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Dihari ini, aku mengikat kalian berdua menjadi pasangan suami istri hingga akhir hayat! Kalian tidak akan terpisahkan apapun yang terjadi. Kau akan membahagiakan istrimu dan mengikuti keinginannya." Ujar Dhow yang berada di depan pengantin itu.
"Aku akan membahagiakan nya." Ujar Lee dengan manik yang kosong.
Sedangkan pengantin wanita hanya mengangguk dan itu membuat Dhow senang bukan main, karena setelah satu langkah lagi. Pernikahan ini sah. "Kau mengikuti saran ayahmu. Sekarang, sebagai tanda cinta, kalian harus membagi minuman bersama dan menyalurkannya melalui bibir kalian."
Perintah Dhow tampak dilakukan Lee dengan segera, seolah dirinya dikendalikan, Lee meminum air yang diberikan kepadanya dan bersiap menyalurkannya kepada wanita di depannya.
"Ayo Lee, buka sedikit tudungnya." Perintah Dhow yang membuat Lee sungguh seperti kerbau dan dicucuk hidung nya.
Karena tidak sabar, tangan mempelai wanita langsung membuat tubuh Lee semakin merapat kepadanya dan dibalik tudung pernikahan itu, keduanya menautkan bibir mereka dan Dhow sungguh tersenyum bahagia.
Tetapi tak lama maniknya menangkap sesuatu dan ditengah acara pernikahan itu, dentingan pedang langsung terdengar. "Kau!" Ujar Dhow dengan urat yang menegang keras.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.