Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Bingkisan Kecil


__ADS_3

Kunjungan pangeran dan Xiong telah berakhir, sebelum pendeta meminta mereka kembali. Keduanya sudah bersiap pergi atau lebih tepatnya di jemput oleh pengawal yang diutus oleh sang raja karena putranya pergi tak kunjung balik dan terpenting sekali adalah laporan mengenai pangeran yang pergi menuju hutan, tentu saja sang raja langsung memerintahkan untuk menjemput putranya.


"Terimakasih pendeta, telah memberikan kami kesempatan untuk berkunjung." Ujar Lee sambil memberikan rasa hormat nya.


"Sama-sama pangeran. Saya hanya bisa mengantarkan sampai disini, dan sampai jumpa lagi." Melihat para pengawal yang sudah berada di depan pangeran Lee. Pendeta langsung melangkah menyusuri jalan yang tadi mereka lewati tapi entah mengapa Lee dan yang lainnya tidak lagi melihat jalan itu seolah-olah ada sesuatu disana.


"Mari pangeran, raja begitu khawatir." Seorang jenderal kepercayaan ayahnya langsung menjemput pangeran yang terlihat masih memandangi jalan itu.


"Itu..."


"Pendeta Ming tidak akan membiarkan orang lain mengetahui jalan menuju kediamannya pangeran, itu sudah rahasia umum."


"Pantas saja tidak ada yang tau. Sangat menarik."


"Mari pangeran." Lee melangkah segera dan menaiki kudanya, begitu juga dengan Xiong dan mereka langsung kembali ke istana.


Sepanjang perjalanan, Lee tampak mengingat dan berpikir keras yang membuat Xiong menjadi penasaran. "Apa yang pangeran pikirkan?"


"Mengenai pendeta Ming. Begitu banyak rahasia di sana, tapi ia tidak memperlihatkannya."


"Itu sudah hal yang diketahui banyak orang pangeran dan raja juga tau. Karena itu semua orang mengatakan berbagai macam hal mengenai keluarga pendeta Ming."


"Seperti apa?"


"Maaf pangeran, tapi dibalik kepandaian, kebijaksanaan dan juga sikap putih pendeta Ming. Orang-orang berpikir bahwa putrinya seorang buruk rupa bahkan aneh karena dibesarkan di lingkungan seperti itu. Bahkan tak jarang mengaitkan nya dengan kutukan." Bukan Xiong yang menjawab, tapi jenderal yang mendengar pembicaraan keduanya.

__ADS_1


"Itu hanya rumor kan?"


"Benar pangeran, tapi orang-orang menjadi yakin dengan pendeta Ming yang tidak melakukan apapun untuk membuktikan atau membantah kabar itu."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sedangkan pendeta Ming tampak kembali membuat Tania yang sedang membaca langsung menghampirinya. "Baba, apa mereka sudah pergi?"


"Darimana kau tau ada tamu?"


"Aku bisa melihat beberapa bekas cangkir dan juga pakaian yang hilang, baba tentu saja tidak melakukannya." Tania menjawab dengan senyumnya membuat baba juga tersenyum seolah itu penyakit menular.


"Baiklah, tapi kalian tidak ada kaitannya bukan?"


"Maksud baba?" Tanya Tania sambil mengikuti langkah baba menuju ruangan obat.


"Tentu saja tidak baba, kami tidak bertemu dengan siapapun, benarkan Mong? Kau juga tidak mencakar siapapun kan?" Melihat pertanyaan dioper padanya, harimau kecil itu tampak ikut berbohong dengan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan imut.


"Sungguh Mong?" Harimau kecil itu tampak terintimidasi sekarang, dan membuat wajahnya langsung diturunkan dan berpaling dari baba.


"Baba, ceritakan padaku bagaimana festival itu. Aku sangat penasaran." Baba yang mengetahui sesuatu, kembali menimpali percakapan putrinya.


"Itu sangat indah, ada banyak makanan dan juga penampilan menarik, kau akan suka nantinya."


"Tampaknya begitu. Aku bantu baba, ini dihancurkan kan bukan? Dan kita beri dengan ramuan ini?"

__ADS_1


"Kau tampak paham, baba senang." Tania melanjutkan pekerjaannya meracik obat dan tak lama baba pergi tanpa disadari oleh Tania.


Ketika Tania sedang asyik dengan tugasnya, sebuah tangan berada di depannya dengan bungkusan persegi. "Ini... Baba?"


"Bukalah, ini untuk putri baba." Tania tampak antusias dan merasa senang dengan hal itu dan segera membukanya perlahan sambil ditemani oleh baba.


Perlahan dan pasti benda yang dibungkus itu memperlihatkan wujudnya dan membuat manik Tania berbinar. "Ini...."


"Kau suka? Baba tidak tau kesukaan mu. Tapi baba harap ini...."


"Aku suka, sangat! Terimakasih baba." Tampak baba langsung terpaku dengan pelukan yang Tania berikan padanya.


"Baba senang ketika putriku senang." Tania merasakan kasih sayang yang mengingatkan dirinya dengan kakeknya meskipun keras tapi ia sangat lembut dalam memperlakukan Meysa terutama semenjak kedua orang tuanya tiada.


"Terimakasih, aku sangat suka."


"Pakailah besok saat festival. Kita akan berangkat besok bersama-sama."


"Nona lihat, baba memberikan ku....." Siu tampak terhenti ketika melihat adegan dihadapannya.


"Siu..."


"Terimakasih baba." Siu mengucapkan rasa terima kasihnya dengan tulus dan ikut mendekat dan ketiganya tampak memiliki hubungan darah.


"Grrr." Mong tampak ikut berhamburan di tengah adegan bahagia itu membuat ketiganya tertawa bersamaan.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2