
Sapaan dari udara embun pagi yang masih belum tersentuh matahari, kamar Tania yang terlihat indah telah ditinggalkan oleh pemiliknya. Karena sang pemilik tengah sibuk di tempat aroma perut. "Ratu, biar kami saja. Kami sudah hafal dengan ajaran ratu." Salah seorang juru masak mencoba menghentikan Tania yang tengah asyik mengaduk adonan.
"Tidak apa, lagipula sebentar lagi aku akan selesai dan kalian bisa lanjutkan. Aku suka melakukannya apalagi aroma wangi yang membuat perut ku sangat suka. Ditambah... Memasak itu merupakan kegiatan yang membuat hati semua orang menjadi bahagia. Bukankah begitu?" Semuanya serempak mengangguk.
Ini adalah salah satu rutinitas Tania ketika bangun pagi. Sebelum mandi dengan bunga dan madu, ia akan berkutat dengan alat masak serta pedang beberapa waktu. Kebiasaan bangun pagi yang tidak bisa lepas darinya. Apalagi mengingat dirinya di masa depan adalah seorang keturunan ningrat berkedok artis yang memiliki kegiatan sangat beragam.
"Terkadang aku rindu dengan semprotan kamera mengambil pose dan wajah cantik ku!" Sambil meregangkan otot-otot tubuh nya, Tania teringat akan kehidupannya sebelum terseret ke zaman ini.
"Ratu, makanan nya sudah selesai." Lapor seorang pelayan.
"Bagus! Sebelum semuanya beraktivitas berikan bubur ini yang membuat hari mereka lebih indah. Dan jika lebih bisa berikan kepada rakyat juga. Lagipula semuanya akan berkumpul bukan?"
"Iya ratu." Setelah melihat dan merasa tugasnya selesai. Tania menuju kamarnya untuk segera berendam beberapa waktu sebelum bertemu dengan para kutu yang membuat dirinya gatal itu.
Suasana dapur terlihat sangat sibuk, pelayan menuangkan makanan yang mereka masak serta menyusun nya dengan rapi. Diantara kesibukan itu, ada sosok pelayan yang berbaur disana tapi tidak mengerjakan apapun hanya melihat kegiatan dihadapannya.
Matanya melirik beberapa kali, seperti ada yang ia cari atau pantau. Hingga sebuah suara minuman yang dituang membuat perhatian nya teralihkan. "Itu untuk siapa?" Tanyanya tiba-tiba membuat Pelayan yang menuangkan minuman itu melirik padanya.
"Ini untuk ratu, kenapa? Kau bagian taman kan? Kenapa kesini?"
"Aku haus dan juga sangat tertarik dengan aroma makanan yang baru saja selesai dimasak. Dan rasa penasaranku semakin menjadi saat melihat cairan beraroma enak itu." Sambil bicara, tatapannya tak lepas dari secangkir teh herbal dengan bunga Rosemary itu.
"Kita hanya minum air putih. Dan jus saja, kenapa melirik yang lain? Ini untuk ratu! Kau harus tau sekarang. Sudah, kau membuang waktu ku saja, ratu pasti sudah menunggu." Pelayan itu segera pergi dengan teh herbal di tangannya.
Mata pelayan taman itu terus melihat hingga pelayan itu hilang dari pandangannya.
__ADS_1
Ketukan pintu membuat Siu yang baru saja menyiapkan pakaian serta perhiasan untuk ratunya segera membuka pintu dan tersenyum setelah melihat pelayan yang bertugas seperti biasanya datang juga.
"Akhirnya! Untung ratu masih mandi. Kalau tidak,kau tau kan akibat nya?" Singgung Siu membuat temannya itu mengangguk sambil memberikan segera pada Siu.
"Iya maaf. Dapur sangat sibuk,kau tau kan. Setiap ada resep baru dari ratu, semuanya akan berkumpul bak kupu-kupu dan hinggap di sana."
"Tentu saja, karena tangan Ratu sangat ajaib!" Siu tentu sangat bangga dengan ratu nya yang memiliki bubuk ajaib pada dirinya.
"Iya, selain cantik. Ratu sangat hebat dan membuat semuanya tidak menatap dirinya dengan remehan lagi." Setelah merasa cukup, mereka kembali melaksanakan tugas masing-masing.
Kaki yang indah dengan tetesan air beraroma harum itu melangkah menuju kamar tepatnya ruang ganti. Pakaian yang ingin ia pakai sudah tertata rapi dengan perhiasan yang selaras.
"Mana teh ku?" Siu yang tau rutinitas ratunya langsung memberikan dengan hati-hati.
"Ini ratu."
Suara langkah kaki serta ruangan terbuka ditambah dengan wajah yang bahagia langsung menyambut makanan yang disajikan untuk mereka, terutama anggota kerajaan. Apalagi Myren dengan Vanriel yang lahap memakan bubur yang baru mereka coba.
"Ini sangat enak! Mungkin bisa ku bawa ke rumah ku!" Ujar Myren membuat yang lainnya setuju.
"Paman benar. Aku sangat suka sekarang dengan sajian istana, sepertinya Tania memiliki 1001 resep." Ada rasa tidak suka Myren ketika mendengar keponakannya memuji istrinya itu.
"Kau menyukai nya?" Vanriel cukup bingung dengan pertanyaan Paman nya.
"Tentu saja, ini..."
__ADS_1
"Ingat Vanriel! Dia itu tidak sepadan dengan kita, dan bahkan dia berani menentang peraturan yang sudah hidup selama ini. Seekor keledai tidak akan bisa berubah menjadi kuda."
"Iya, tapi ini makan nya. Maksud ku kita membahas ini kan? Dan masalah peraturan akan segera terjawab di pertemuan nanti.'
"Bagus! Kau hanya pantas bersanding dengan Yuri. Jangan tertipu dengan perubahan Tania."
Pukulan gendang besar telah terdengar keseluruh penjuru istana. Semuanya langsung berkumpul ke ruang pertemuan dewan dengan rakyat. Tidak ada batasan disana karena sudah tersedia tempat yang sangat layak untuk rakyat.
Satu persatu anggota kerajaan langsung meluncur ke tempat pertemuan. Yuri dengan gaya angkuhnya berjalan dan duduk di tempat yang disediakan, begitu juga dengan ibu suri serta Kaisar.
"Yang mulia raja Vanriel memasuki ruangan!"Vanriel tampak terakhir datang karena menemui guru besar yang tinggal di kuil tak jauh dari istana.
Baik rakyat serta dewan menteri memberi salam kepada anggota kerajaan. Kaisar Vander duduk setelah meminum obat untuk dirinya agar bisa mengikuti pemilihan suara ini.
"Seperti yang diketahui, hari ini adalah hari besar untuk semuanya karena akan dilakukan pemungutan suara dan aspirasi pada sebuah permasalahan yang dilakukan oleh ratu Tania." Para rakyat mulai berbisik-bisik menduga apa yang dibicarakan.
"Baik langsung saja, kita berikan tempat untuk ratu Tania." Semuanya melihat ke sebuah ruangan khusus ratu yang disekat dengan tirai emas seperti wanita kerajaan lainnya.
"Dimana ratu?"
Dibalik kebingungan semuanya, sebuah suara kesakitan memenuhi ruangan megah itu.
"Aaghh! perutku!"
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.