Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Terburu-buru


__ADS_3

Setelah memberikan pelepasan menggunakan metode terbaru. Mei yang tangannya sudah bersih dari jutaan penghasil keturunan milik suaminya tengah berbaring menunggu Lee yang tengah membersihkan diri.


Di atas ranjang sambil menatap jendela yang disapa oleh angin, ingatan Mei teringat akan sesuatu.


Sesaat sebelumnya......


Mei yang tengah beristirahat total, tentu tidak beranjak dari ranjang. Hingga rasa kantuk menyerang dirinya dan baru saja matanya terpejam, suara langkah kaki terdengar mendekat dan berada dalam jarak yang sangat dekat.


"Siapa kau?" Mei langsung melihat seorang gadis yang dibawah usia dari Siu tengah berdiri menatap dirinya.


Pertanyaannya yang belum dijawab membuat Mei menggerakkan tangannya untuk mencari senjata yang ia sembunyikan disana.


"Aku bukan orang jahat Putri. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu." Mei masih berjaga dengan matanya yang ia perbesar untuk melihat dengan jelas wajah yang mungkin ia kenali itu, tapi sayangnya ia tidak mengenal wajah itu.


"Kau bukan pelayan di istana, siapa kau?"


"Siapa aku tidak penting Putri. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa seseorang yang sudah memberikan ku luka bakar juga tengah terbakar saat ini." Mei refleks memejamkan matanya ketika sesuatu dilempar ke arah nya.


Tapi yang dilempar itu adalah buah dan ketika manik Mei terbuka, sosok gadis muda itu tidak terlihat lagi. "Dia bisa masuk seolah sudah mengenal istana. Sstt....." Mei yang ingin beranjak untuk memeriksa, tidak jadi. Karena perutnya yang tidak bisa bekerjasama saat ini.


"Apa maksudnya?" Mei mencoba berpikir keras sejenak, mengingat wajah gadis itu.


"Tunggu...." Mei tampak teringat sesuatu.


"Apa berkaitan dengan Mola?" Berpikir yang terlalu keras membuat perutnya terasa kram.


Hingga Siu datang dengan ramuan dan minuman segar yang menyehatkan.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Aku harap semuanya baik, apapun itu. Entah karena baik atau buruk...." Mei terhenti karena suara langkah dengan sosok yang ia kenali dan membuat senyuman dirinya terbit.


"Kau tersenyum manis, ada apa?" Lee yang sudah segar dengan tubuh yang lebih wangi membuat Mei menyukai nya.


"Tidak ada, aku tersenyum karena melihat suamiku. Dan sepertinya anak kita juga begitu." Mei meletakkan tangan Lee ke perutnya yang masih belum bisa melakukan tendangan itu.


"Aku juga tersenyum ketika istri dan anak kita tersenyum bahagia." Lee yang berniat membaringkan tubuhnya bersama sang istri langsung tertidur bersama dengan pelukan yang hangat.


"Aku dengar ada masalah di pasar, tugas apa yang ayah berikan padamu?" Mei bertanya di sela-sela pelukan hangat mereka.


"Ada beberapa penjual gelap dan juga beberapa orang yang menganggu ketenangan warga, apalagi di malam hari." Mei mengangguk sambil mendengarkan permasalahan yang tengah mendera istana mereka.


"Aku rasa kita harus memperketat pintu masuk, dan juga melihat mungkin ada beberapa orang yang sengaja melakukannya demi kilauan emas." Lee mendengarkan pendapat istrinya yang merupakan sebuah solusi bagus.


"Benar, sepatuh-sepatuhnya mereka, ada yang ingkar. Aku akan meminta pada ayah untuk melakukan pemeriksaan."

__ADS_1


"Tapi jangan terlihat jelas...." Ucapan istrinya membuat Lee sedikit berpikir keras.


"Jadi?" Tanya Lee yang membuat dirinya berekspresi imut dan membuat Mei ingat mengigit nya.


'Kalau tidak hamil, sudah ku makan dirimu sayang.' Mei hanya bisa mengatakan dalam hatinya, sungguh jiwa liar dan hot modern nya tengah menggebu-gebu saat ini.


"Sayang?" Ucapan serta kecupan manis di keningnya membuat Mei tersadar.


"Maksudnya... Lakukan tanpa terlihat, gunakan sedikit permainan. Aku yakin, kita akan menemukan sumber masalah nya."


"Menyamar?"


"Ya, suamiku ini sangat hebat!" Mendengar kata pujian serta dekapan yang semakin hangat, membuat beberapa ciuman mendarat diantara keduanya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Ada perasaan lega, ada juga perasaan cemas melihat keadaan yang merupakan pelipur lara nya masih belum bangun seperti biasa. " Jangan khawatir, putri Tuan dan Nyonya akan segera pulih dalam beberapa hari. Semalam ini akan sudah terlihat, hanya perlu istirahat semalam ini." Kedua orang tua mola mengangguk bersamaan melihat Mola yang sudah sadar tapi sangat lemas.


"Aku merasa haus bu." Bibir Mola yang terlihat kering meminta air segera agar dia mendapatkan tenaga.


"Ini sayang..." Mola dibantu ibunya segera minum dan dirinya lebih baikan.


"Ibu akan membuatkan sup ikan. Tunggu ya." Mola hanya mengangguk karena tubuhnya terasa lemas dan ini sungguhan tanpa drama seperti sebelumnya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Keadaan yang sudah membaik membuat Mei sudah bergerak seperti biasanya. Karena merasa bosan dengan aktivitas yang itu-itu saja, Mei menuju ruangan yang dimana suaminya sedang berkutat dengan masalah dalam bentuk tinta dan kertas.


Beberapa waktu belakangan ini, Lee ditugaskan oleh ayahnya mengurus permasalahan menerjang kerajaan mereka. "Masuk!" Lee yang berpikir itu adalah Xiong atau pelayan belum melihat sosok yang masuk.


"Ada apa?" Tanya Lee yang masih belum sadar dengan sosok yang datang.


"Ada yang bisa ku bantu pangeran?" Lee langsung tau setelah suara merdu itu mengalun di telinganya.


"Sayang?" Mei duduk disebelah suaminya yang tengah tenggelam dengan kertas.


"Aku ingin membantu suamiku. Kau terlihat bekerja keras belakangan ini." Lee merasa senang dengan istrinya yang datang, seperti biasanya. Istrinya itu akan mengeluarkan pendapatnya yang membuat dirinya terbantu.


Baik Lee dan Mei, keduanya akan saling mengeluarkan pendapat mereka mengenai masalah yang tengah melanda kerajaan. "Masalah perampokan, lagi?" Mei cukup heran dengan beberapa masalah yang sama.


"Aku juga heran sayang, ada beberapa desa yang mengatakan hal yang sama. Beberapa tahun sebelumnya, tidak ada hal seperti ini. Karena itu, Ayah meminta ku menyelesaikan masalah ini."


"Sayang, menurutku... Kita tidak bisa hanya mengandalkan para pria saja. Maksudnya... Bukan hanya prajurit berupa laki-laki saja, tapi juga wanita. Bukan berarti wanita khusus, tapi kita berikan pelatihan untuk itu. Tapi kita lakukan secara berkala, untuk menghindari kecurigaan.... Kita gunakan pesan melalui beras yang kita kirimkan. Dan berikan satu perwakilan yang terpercaya ke sana." Lee merasa kagum dengan pemikiran istrinya itu.


"Terkadang aku merasa kau bukan dari sini." Mei hening sejenak mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


"Lalu darimana?" Tanya Mei yang begitu penasaran dengan maksud suaminya.


"Dari dunia dewa!"


"Dan kau adalah dewa nya!" Lee menyatukan kening mereka beberapa saat dan tersenyum manis.


"Aku akan katakan pada ayah mengenai solusi yang telah ada." Mei hanya mengangguk sambil merasakan elusan di rambut nya.


"Aku berharap Ayah memikirkan nya, dan semuanya segera selesai, kerajaan kita menjadi tenang dan aman."


"Ya, aku juga begitu." Hujan perlahan datang yang membuat Mei langsung bangkit dan Lee menjadi kaget.


"Sayang!"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Astaga Mong, aku baru saja berniat menemui putriku. Tapi sudah hujan, jika aku sendiri tidak masalah. Tapi....." Pendeta Ming menatap bawaan yang ia siapkan untuk bertemu dengan putrinya yang sangat ia rindukan.


Mong yang mengerti dengan keadaan tuanya mendekat seolah menghibur yang membuat pendeta Ming mereka terhibur. "Kau sungguh menggemaskan dan semakin besar."


Sepasang kaki yang tengah berlari itu membuat matanya jadi tidak fokus dan .....


"Aghh!" Kening yang beradu serta hilangnya keseimbangan membuat keduanya langsung jatuh bersamaan.


Dua pasang mata itu saling menatap dan juga dengan tangan yang sudah tidak terkondisi. 'Bagaimanapun aku menampiknya, dia sungguh tampan!'


'Bibir yang cerewet serta selalu mengajak ku berdebat ini sungguh memancing ku!'


"Menjauh! Kau berat!" Seketika yang menimpa langsung tersadar dan keduanya langsung berubah.


"Mana matamu? Aku sedang terburu-buru!" Ujar Xiong dengan kesal.


"Jadi hanya kau yang merasa terburu-buru? Aku juga, lihat! Karena kau ramuan untuk putri Mei jadi terbuang!" Siu juga kesal karena bawaannya jatuh ditengah rintik-rintik hujan itu.


Meksipun Xiong kesal, dia membantu Siu dan keduanya kembali bertatap mata sejenak. "Sudah, aku harus pergi!"


"Kau mau kemana? Apa ada sesuatu?" Tanya Siu yang mengerti ada sesuatu.


"Aku ingin bertemu dengan pangeran, kau melihatnya?"


"Ya, pangeran bersama putri di paviliun." Xiong langsung bergegas ke sana dan membuat Siu bertanya-tanya.


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2