
Wajah yang tadinya begitu bersemangat sekarang menjadi kesal. Ditambah ucapan sosok yang dihormati nya membuat dirinya menghentakkan kakinya. "Kenapa lama sekali Ayah? Kapan pernikahan ku?" Nea sudah benar-benar kesal sekarang. Dirinya tidak dapat bertemu dengan Lee dengan waktu yang ditentukan oleh ayahnya.
"Bersabarlah Nea. Ayah kan sudah bilang, pernikahan mu akan terjadi. Tunggulah beberapa saat lagi. Kau ingin Lee selalu berada di samping mu bukan?" Nea menganggukkan kepalanya.
"Kau akan mendapatkannya, sekarang ayah harus membuat Lee tidak memikirkan apapun lagi selain dirimu saja."
"Sungguh Ayah? Hanya namaku yang akan ada di hatinya?"
"Ya, bahkan aliran darahnya hanya mengalirkan namamu saja."
"Oh Ayah! Aku bahagia sekali! Aku tidak sabar!" Sungguh Nea langsung berubah seketika.
"Hanya malam ini.... Besok pernikahan kalian. Tidurlah, agar wajah putri Ayah semakin berseri."
"Aku sudah cantik. Apa aku bisa bertemu dengan Lee sebentar Ayah?" Dhow menggelengkan kepalanya.
"Tidak, besok dan seterusnya ia akan berada di depan mu." Setelah mendengar perkataan ayahnya yang membuat hatinya bahagia, Nea menuju kamarnya untuk mempersiapkan dirinya besok di hari pernikahannya.
Sedangkan Dhow menuju kamarnya dan membawa sesuatu. "Bagaimana?" Tanyanya pada pria yang sudah pasti pengikutnya.
"Beres guru, hanya saja perlu tenaga ekstra untuk itu."
"Bulan akan datang dengan lingkaran sempurna nya. Kita lakukan segera, kau sudah mempersiapkan segalanya bukan?"
"Sudah guru, tidak ada yang terlewatkan."
"Bagus, ikut aku." Langkah Dhow diiringi oleh pria yang tampak masih muda itu di belakang nya.
Hingga langkah mereka terhenti dimana Lee sudah terlentang dengan ikatan di tangan dan kakinya. "Siap Lee? Apa perlu aku memberikan mu sedikit rasa kasihan untuk mengingat istri yang akan tidak akan kau ingat lagi. Ah... Lebih tepatnya, hanya putriku yang akan menjadi istrimu."
"Kau masih berlagak sok seperti ini. Setelah ini kau tidak akan lagi bisa memandangi ku dengan tatapan seperti itu. Melainkan menunduk dan mematuhi ucapan ku." Lee tentu hanya bisa menatap nyalang karena bibirnya tersumpal saat ini.
"Kau lihat? Bahkan rembulan malam juga berpihak padaku. Pegangi dia, mulutnya harus terbuka lebar meminum air penyambutan menjadi menantu ku." Dengan batok kelapa yang mengkilap beserta air yang mengisinya, Dhow mendekat kepada Lee yang mulutnya dipaksa untuk meminum air yang pastinya bukanlah hal yang baik.
"Pegangi dia dengan baik! Air ini harus masuk dalam satu tegukan!" Dhow memerintahkan kepada pemuda yang memegangi Lee, karena Dhow tau kemampuan fisik Lee. Jadi, dia menggunakan beberapa orang untuk melumpuhkannya.
"Ini akan terasa lezat Lee, jadi minumlah.... Dan jadi anak yang baik." Manik Lee yang mengungkapkan ketika dirinya perlahan meminum air itu.
"Tidak boleh ada yang keluar!" Dengan kekuatan tangannya, Dhow menghalangi air yang akan dikeluarkan oleh Lee.
Tangan dan kakinya yang terikat membuat Lee hanya beberapa meronta ketika ia merasakan sesuatu setelah air itu masuk ke tubuhnya. "Lepaskan! Biarkan ramuannya bekerja."
Beberapa kali tubuh Lee meronta-ronta. Tetapi tampaknya perlawanannya tidak berarti lagi ketika ia tak sadarkan diri. "Siapkan pernikahan dengan meriah! Karena pengantin pria nya sudah siap!"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
"Putri?" Siu yang tidur ayam langsung bangun ketika melihat Mei terbangun dengan peluh yang luar biasa.
"Lee...." Siu mengembilkan air dan berharap Mei meminumnya.
"Tidak, aku melihat Lee.... Dia... Aku merasakannya disini .. Tadi dia disini Siu. Dia tadi disini." Mei tampak mencari keberadaan sosok yang Siu pastikan tidak ada.
"Itu hanya mimpi putri. Pangeran akan segera kembali bersama putri......"
"Ssshhhh." Mei meringis ketika merasakan sakit di perutnya.
"Putri ayo beristirahat. Tidak baik begadang putri, kita akan berangkat besok. Kita akan menemukan pangeran dan yang lainnya."
"Aku yakin dia disini..." Mei masih kekeh dengan ucapannya, ia merasakan kehadiran suaminya yang membelai dengan lembut rambutnya.
"Lee!" Mei langsung bangun ketika melihat suaminya berada di hadapannya.
"Kau akhirnya kembali! Aku sangat merindukanmu! Aku sangat merindukanmu Lee!" Dengan erat Mei memeluk tubuh suaminya.
Lee mengelus punggung istrinya dengan hangat. " Aku juga merindukanmu dan anak kita. Kau datang menjemput ku?"
"Kau pikir aku akan duduk tenang menanti kepulangan mu? Kau membuat ku khawatir." Lee tidak bicara lagi sejenak ,dia hanya memeluk Mei seperti yang dilakukan oleh istrinya itu.
"Anak kita ikut bersama ibunya, dan membantu ayahnya. Bukankah sudah terlihat darah kita mengalir deras padanya."
"Tentu, dia adalah anak kita. Ayah dan ibunya seorang ksatria dan pejuang yang tangguh. Anak kita merindukan mu, aku juga, sangat.... Lee" Mei mengatakannya dengan mata yang sudah berbinar-binar.
" Aku juga Mei, dan ingatlah.... aku mencintaimu, dan aku hanya milikmu!"
"Ya, aku juga dan aku tau itu." Mei memejamkan matanya menikmati sentuhan suaminya,tetapi ketika ia membuka matanya ia tidak menemukan sosok Lee disana.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Sudah putri, mari tidur. Masih ada beberapa waktu lagi untuk memejamkan mata." Siu terus mengajak agar Mei kembali terlelap. Karena wanita hamil itu harus mendapatkan tidur yang cukup.
Mei perlahan-lahan membaringkan tubuhnya dan membuat Siu juga duduk dengan manik yang tidak lepas dari Mei.
Setelah memastikan Mei tertidur pulas, Siu yang juga mengantuk membuat dirinya turut memejamkan matanya. Siu dan Mei berada di ruang yang berbeda dari jenderal dan pasukannya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Siu yang tertidur merasa ada suara yang memanggil dirinya. "Pelayan Siu, dimana putri Mei?" Tanya jenderal yang membuat Siu langsung kesadarannya pulih seketika.
Maniknya mencari keberadaan Mei yang sudah tidak nampak di tempat tidurnya. "Putri?" Jenderal yang sudah bangun di pagi hari tidak menemukan Mei setelah memanggil serta mencari keberadaan istri pangeran itu. Sehingga ia kemudian membangunkan Siu untuk menanyainya.
"Putri tidak ada, apa mungkin....."
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Tampaknya kurungan besi itu telah menjadi teman Xiong beberapa waktu ini. Dengan keadaan yang bisa dikatakan tidak banyak, Xiong harus tetap bertahan agar segera pergi dari sini. Maniknya yang terasa sakit karena kurang tidur dan juga gangguan dari para musuh itu membuat dirinya memaksimalkan potensi matanya.
Tampak seperti biasanya seorang pria yang bertugas memberi makan dirinya dan yang lain akan datang. "Ini makanlah, aku berikan makanan enak. Karena setelah ini kalian akan tiada. Kalian begitu loyalitas, jadi inilah yang akan kalian dapatkan. Lagipula..... Tuan ku juga tidak membutuhkan orang seperti kalian, dia akan memimpin istana bersama kami bawahan setia nya." Sambil mengoceh, pria itu membagikan makanan untuk semuanya.
Hingga dia terhenti di depan Xiong. "Dan kau tau.... kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi, istri junjungan mu akan menjadi istri tuan ku. Dan juga istana, kami telah melakukan penyerangan kesana, dan untuk pangeran mu itu.... Dia juga akan memiliki istri baru lagi." Tak lama setelah mengatakannya, ia tertawa. Xiong hanya diam hingga pria itu berbalik dan ......
"Aghhh!" Suara teriakan kencang langsung menggema dan tak lama padam.
"Kita harus cepat!"
"Baik panglima!" Mereka langsung bergegas meninggalkan kurungan yang telah menjadi tempat tinggal mereka.
"Panglima yakin tidak apa?"
"Tidak, bahkan aku tidak akan mati! Mereka yang akan mati. Kau dan tuan mu itu, akan tiada. Aku akan membawa kembali junjungan ku, kau tidak tau lawan yang kalian hadapi!" Xiong bergegas keluar dengan tangannya memegang erat sebuah gantungan dari kayu yang mengkilap dengan sebuah tulisan di sana.
"Aku akan kembali Siu."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Berjalan cukup banyak, akhirnya langkah itu terhenti setelah tenggorokannya terasa kering. "Aku sangat haus." Manik Mei melihat sekitarnya dan tak lama ia kembali melangkah ke arah barat.
Tangannya langsung menampung air yang segar yang berada dalam lingkaran cekung itu.
"Kita akan menemukan Ayah mu sayang, ibu yakin itu." Setelah merasa tenggorokannya basah, Mei kembali melanjutkan langkahnya.
Hingga sebuah kerumunan membuat dirinya mengawasi dari jarak yang aman. "Ayo cepat! Kau tidak mau besok tidak bisa melihat matahari lagi kan?" Ujar seorang wanita yang membawa karangan bunga.
"Ini terlalu pagi! Aku masih ngantuk."
"Dan kalau kita terlambat, besok matamu akan tertutup selamanya dan kau bisa tidur!"
"Aku tidak menyangka, ilmu itu benar adanya, dia..." Belum selesai ucapan wanita itu, temannya sudah memberikan isyarat.
"Lebih baik tutup mulut mu, apapun yang terjadi jangan mengatakan apapun. Kita hanya melaksanakan tugas, mengantarkan bunga ini dan pergi. Cukup lakukan, tidak perlu mengurusinya."
"Lagipula apa yang bisa dilakukan? Kita tidak berhak masuk ke kubangan hitam itu. Antarkan dan pergi!"
"Iya." Keduanya kembali melanjutkan langkah mereka diikuti oleh yang lain dengan tergesa-gesa.
"Bunga itu untuk upacara pernikahan. Apa itu....."
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1