
Ada yang aneh dan berbeda dari kediaman hutan indah tersembunyi itu. Sudah terdengar suara aktivitas yang tidak dilakukan olehnya sendiri membuat baba yang baru saja bangun sebelum sang surya bangun langsung melangkahkan kakinya ke keluar dari kamar miliknya.
Cahaya sudah dimatikan ketika subuh sudah datang, dengan perlahan ia melihat sesuatu yang membuat dirinya penasaran. Meksipun diterpa kegelapan tak membuat maniknya hitam dan kalah dalam melihat.
Dari jarak yang tidak jauh dari tempatnya, ia melihat sebuah kepulan asap yang mulai menghilang tapi tidak dengan aromanya, membuat baba melangkah mengikuti jejak asap yang aromanya hinggap di indra penciumannya.
Terlihat asap itu mengajaknya berkeliling rumahnya sendiri dan berakhir di pintu utama kediamannya yang berlatar belakang pepohonan yang rindang dengan akar yang menggantung bak sengaja ditata rapi.
"Selamat pagi baba." Sosok yang membawa asap wewangian itu terlihat jelas di depan matanya.
Dengan rambut yang digerai ke samping, serta wajah yang bercahaya dengan manik matanya yang khas mendekat kearahnya. "Kau bangun sepagi ini?" Tangannya dengan manik yang tidak lepas dari sosok yang tersenyum manis dengan langkah yang terus mendekat padanya.
Pakaian berwarna putih dicampur pink dusty di beberapa tempat membuat sang pemakai terlihat cantik dengan riasan sederhana. "Apa baba merasa tersaingi dengan ini?" Balasnya dengan senyuman manisnya.
"Tidak, tapi sepertinya kawanan asap dengan wewangian yang dibawa sosok Dewi hutan membangunkan ku."
"Apa boleh?" Tanyanya yang mungkin saja tindakannya menganggu apa yang sudah ada disini.
"Tentu saja, bukankah kau putriku?" Manik itu tampak berkaca-kaca tapi ia tepis dengan mengarahkan asap wewangian itu ke wajah pria yang menjadi keluarga barunya.
Mengerti dengan hal itu membuat baba memejamkan matanya sambil menikmati hal yang baru baginya. "Ini akan menjadi hari yang baru dan juga keburukan akan menjauh dari tempat ini dan penghuninya."
"Sekarang giliran mu." Tampak bingung sejenak tapi wajah cantik itu segera terpejam melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan.
"Aku sudah memasak ikan bakar dengan sayur jamur, baba ingin makan langsung?"
"Apa Siu sudah bangun?"
"Dia masih bersama mimpinya." Keduanya tertawa bersamaan memecah suara kicauan burung yang mulai mendera.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Seusai janji, tampak pria bermanik emas itu sudah siap dengan tubuh yang segar dan juga stamina yang baik untuk melakukan hal yang tidak sabar untuk dilakukan nya. "Ayo bangun!" Sebuah teriakkan bak bencana langsung membuat sosok yang tengah tertidur pulas itu berjingkrak kaget.
"Pangeran? Ada apa? Apa ada sesuatu?" Dengan wajah bantalannya ia bersimpuh dihadapan pangeran nya.
"Iya, sesuatu yang besar! Kita akan mencari istriku! Ayo segera bangkit! Atau kau lebih suka menyapa dengan pedang ku lebih dulu?" Tentu saja sebelum pedang itu dipisahkan dari sarungnya, sudah membuat Xiong berdiri dengan cepat dan segera bersiap-siap.
"Baik pangeran!"
"Dasar pemalas!" Lee membuka jendela kamar Xiong yang masih tertutup karena jujur saja mentari juga belum waktunya untuk keluar saat ini.
__ADS_1
Sambil menunggu bawahan setianya, Lee duduk sambil menatap keindahan yang masih samar-samar karena diliputi oleh kegelapan. Berbeda dengan kamarnya yang ketika dibuka akan terlihat pemandangan hutan dan juga perumahan warga desa yang dipimpin oleh ayahnya.
"Maaf pangeran." Dengan setelan yang sudah rapi tapi tidak dengan mulutnya yang sesekali menguap karena rasa kantuk.
"Ayo!" Dengan jalan pinguin, Xiong mengikuti Lee dengan melawan rasa kantuknya.
'Apa ada wanita itu yang datang ke mimpi pangeran sehingga membuat pangeran langsung bangun sepagi ini? Sungguh aku mengantuk sekali, aku berdoa semoga wanita yang akan menjadi istri pangeran akan membuat pangeran mengalami hal seperti ku....'
"Jangan mengatakan sesuatu yang tidak baik mengenai ku, Xiong!"
"Tidak pangeran."
Berbeda dengan pelayan dan juga prajurit yang bersiaga sesuai dengan waktu mereka, kedua pria yang berbeda kalangan itu terlihat menuju gerbang istana tapi ketika keduanya kembali melanjutkan langkah mereka, terlihat kedatangan sosok di depan mereka. "Mau kemana sepagi ini?"
"Salam raja." Xiong langsung memberikan salam kepada junjungan nya itu.
"Selamat pagi Ayah." Sekarang Lee berada dalam setelan putra yang baik.
"Matahari belum terbit, kau mau kemana pangeran?"
"Aku ingin menangkap ikan di sungai." Jawaban itu tentu saja membuat ayahnya menaikan alisnya.
"Rasa tangkapan orang lain berbeda Ayah, lebih enak tangkapan sendiri. Ayah sudah janji setelah acara pertemuan aku bisa melakukan apapun."
"Benar, tapi tidak sepagi ini juga, kau mau membuat Xiong menjadi keluarga ikan karena kantuknya itu?" Spontan saja Lee langsung menatap ke Xiong yang membuat pria itu ketakutan setengah mati.
"Pergilah setelah sarapan pagi Lee, jangan melakukan hal seperti wanita hamil." Setelah itu raja langsung pergi meninggalkan keduanya.
"Apa pangeran sudah menembakkan benih pangeran?" Dengan tampang polosnya Xiong bersurat membuat wajah Lee sudah tidak bersahabat.
"Bukan menembakkan, kau akan kutebas!" Xiong langsung tidak berkutik karena serangan otot kekar itu yang sudah bersemayam di lehernya sehingga kejadian yang menjadi hukuman Xiong sudah terdengar di pagi buta itu.
"Ampun pangeran."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Tidak anak tidak sang ayah, baru saja raja itu duduk di kursi kokohnya. Seorang pria berpakaian berwarna biru masuk dengan beberapa gulungan kertas di tangannya.
"Bagaimana? Semuanya sudah?"
"Sudah raja, hamba sudah menuliskan semuanya disini. Ada lima kandidat yang tertulis disini, raja bisa lihat kembali." Beberapa gulungan kertas itu berada di hadapan sang raja.
__ADS_1
Satu persatu gulungan dibuka dan terlihat tulisan dengan lukisan di sampingnya bak ukuran foto ketika melamar pekerjaan. "Satu masih kosong."
"Benar raja, itu adalah putri pendeta Ming yang tidak datang dan tentunya kita tidak tau wajah putri pendeta Ming raja." Sambil membaca tampak pria berpangkat kepercayaan raja itu ingin memulai kembali pembicaraan.
"Maaf raja, hamba ingin tau kenapa raja memasukkan putri pendeta Ming kedalam kandidat ini? Bukan maksud mempertanyakan keputusan raja, tapi kita tau desas-desus yang tersebar."
"Kau percaya?"
"Bukan begitu raja, tapi alangkah baiknya kita bertemu terlebih dahulu dan memastikannya sendiri, atau setidaknya mengutus seseorang untuk melakukannya. Hamba hanya khawatir ada perbedaan antara orang tua dengan anaknya sendiri. Kita tidak bisa berangan-angan dengan bayangan yang belum tentu raja."
"Aku mengerti kekhawatiran mu, tapi aku merasa ada sesuatu dengan tindakan pendeta Ming dalam mendidik putrinya. Siapa yang tau ada hal yang memang sengaja disembunyikan atau memang disembunyikan. Yang jelas, kelima putri ini akan menjadi penilaian ku untuk putraku. Aku ingin yang terbaik, dari yang terbaik dan tentunya memiliki keistimewaan di dalamnya."
"Baik raja. Apa perlu kita mengundang khusus?" Sang raja langsung menggeleng mendengar penuturan kepercayaannya
"Tidak, kau tau bagaimana pangeran Lee. Aku ingin penilaian tanpa diketahui oleh siapapun, terkadang sesuatu yang terlihat indah justru berkebalikan dengan isinya. Aku tidak ingin ada kesalahan, dan lakukan dengan baik."
"Tentu yang mulia." Pria itu langsung pergi setelah memberikan salam nya.
"Mari kita lihat, siapa yang layak untuk menjadi menantu ku."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sungai yang tadinya tidak terlihat sebelum diterpa cahaya sekarang terlihat jelas dengan mengumbar keindahannya. Tampak Tania, Siu serta Mong berkumpul bersama dengan kegiatan mereka tersendiri.
Tania terlihat sibuk dengan anak panah yang ia buat dari kayu, ketika ingin meluncurkan nya ia melihat kedatangan baba. "Baba."
"Apa yang kau lakukan?"
"Tidak ada, aku hanya menatap sungai."
"Begitu ya. Baba tidak sengaja mendengar percakapan kalian, mengenai kota. Kau mau ikut baba kesana? Ada festival tahunan yang mungkin kalian sukai. Apa kau mau ikut?"
"Ya, aku akan kesana. Baba juga akan pergi kan?"
"Tentu saja, kita akan kesana bersama." Terlihat baba bahagia dengan jawaban Tania, tapi gadis itu tampak berpikir lain. Ingatnya tertuju pada surat darah itu.
'Aku akan kesana, dan kita lihat siapa musuh tidak terlihat itu.'
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1