Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Tamu


__ADS_3

Setelah celingak-celinguk mencari keberadaan Tania, Yuri akhirnya kembali ke tenda Vanriel. Tapi entah mengapa Yuri merasa takut sekarang, seolah jalan yang sudah ia lewati tadi berubah menjadi seram, seakan-akan ada yang akan menangkap nya.


Hawa dingin mulai melewati lehernya, udara yang tadinya baik-baik saja dekat menjadi dingin bukan main. "Kenapa dingin sekali? Ujar Yuri yang melangkah dengan cepat tapi nyatanya pelan, sungguh tidak sesuai ekspektasi.


Dari belakang Yuri, ada sosok yang menuju dirinya, ketika merasakan hal itu, Yuri langsung menoleh dan berteriak keras. "Aghhh!" Pekikan Yuri tentu saja membuat Vanriel keluar segera.


"Yuri!" Panggil Vanriel sambil mencari keberadaan Yuri.


Manik Yuri jadi membulat dengan tubuh yang gemetar. "Astaga, kenapa kau berteriak?"


"Kau seperti siluman! Kenapa kau tiba-tiba muncul? Hah! Kau ingin membunuh ku?" Pekik Yuri dengan kecepatan tinggi sambil menatap Tania.


"Kau sendiri kenapa berjalan tanpa penerangan? Kenapa sendiri?"


"Aku mencari mu! Dasar!" Tania merasa bingung dengan jawaban Yuri, sejak kapan wanita itu peduli dengan nya.


"Wah, aku cukup terkesima dengan perhatian mu. "


"Kau darimana?" Yuri sungguh penasaran darimana saja Tania sehingga ia tidak menemukan rivalnya itu dimanapun.


Belum bagi Tania menjawab, Vanriel menemukan keduanya dengan beberapa pengawal. "Apa yang kalian berdua lakukan disini?" Tanya Vanriel melihat wanita yang menjadi bagian hidup nya.


"Aku baru menemukan nya. Tapi dia datang seperti siluman." Adu Yuri sambil mendekat pada Vanriel.


"Kau darimana Ratu?" Vanriel beralih menanyai ratunya.


"Aku hanya berkeliling sejenak. Lalu menemukan Yuri berjalan sendirian tanpa penerangan, karena itu aku hampiri."


"Dia mencarimu dan jangan lagi pergi tanpa pemberitahuan ratu. Ayo, kita kembali." Vanriel mengambil jalan tengah dan ketiganya kembali ke tenda.


Yuri melangkah lebih dulu ke tenda untuk menyajikan minuman spesial pada Tania, tapi ketika dirinya mendekat ke meja maniknya terlihat mencari dan kebingungan.


"Dimana tadi?" Yuri bak anak ayam yang kehilangan arah hingga menjadi tontonan bagi Vanriel dan Tania.


"Kau cari apa Yuri?" Tanya Vanriel yang tidak menghentikan aksi Yuri.

__ADS_1


"Minuman yang aku bawa tadi Vanriel, dimana itu?"


"Oh, itu sudah dibawa kembali. Gelas kosong tentu segera dicuci kan?"


"Apa? Kosong? Kau minum semua?" Tanya Yuri yang menatap lekat Vanriel.


"Iya, kau membuat nya. Aku haus dan kalian belum kembali, jadi aku minum kan. Rasanya enak, kau pandai Yuri." Yuri hanya bisa mematung mendengar ucapan Vanriel yang terlihat santai dan duduk kembali.


"Kau habiskan semua...." Tania mengamati Yuri seolah kehilangan hal yang berharga.


"Memang kenapa? Itu bagus kan? Raja menyukai nya, kau membuat itu untuknya kan?"


"Iya, tapi aku juga membuatkan untukmu. Tapi..."


"Kau ini aneh sekali, bukankah itu baik? Tapi reaksi mu berbeda. Apa ada sesuatu disana?" Yuri menjadi diam sejenak setelah mendengar ucapan Tania.


"Ya, aku tidak masalah. Hanya saja aku merasa semuanya tidak sesuai karena aku juga ingin membuktikan padamu bahwa aku juga bisa memasak atau membuat minuman yang enak." Tukas Yuri yang akan mengelak mengeluarkan jurus bicaranya.


Tania tidak bicara lagi, ia fokus menatap Vanriel yang membuat raja itu menatap balik. Tatapan Tania sesekali merujuk pada kuas yang tintanya mulai mengering.


"Kalian membicarakan sesuatu?" Tanya Yuri tak bersahabat.


"Tidak ada." Jawab Vanriel.


*********


Kepala desa baru saja kembali ke rumah nya setelah baru pulang dari kandang harimau yang hampir menghabisi nyawanya. "Bagaimana?"


"Astaga! Kau mau membuat ku mati berdiri?" Kepala desa itu kaget bukan main, jantungnya terasa meloncat lalu balik lagi.


"Aku hanya bertanya, kenapa reaksinya begitu?" Tanya istrinya pantang kalah.


Kepala desa melangkahkan kakinya ke tempat duduk yang berbentuk memanjang seperti kursi pantai. "Tidak ada yang baik, aku hampir kehilangan jari ku!"


"Lalu?"

__ADS_1


Rola bersimpuh sambil menatap wajah suaminya yang penuh keringat dingin. "Apalagi, untung saja aku pandai bicara dan memasang wajah meyakinkan. "


"Baguslah, jadi bagaimana tanggapan mereka? Mereka tetap memberikan kita uang bukan?" Rola bertanya secara beruntun membuat kepala desa makin panas.


"Aku akan jelaskan! Jangan tanya apapun, kepalaku rasanya mau pecah sekarang!" Melihat kemarahan suaminya membuat Rola memanyunkan bibirnya.


"Baiklah, ayo jelaskan. Aku tidak akan bertanya lagi." Rola duduk di sebelah suaminya yang kakinya sudah ia turunkan tidak seperti tadi.


Terdengar beberapa kali ia menarik napas sebelum bicara dan dengan sabar tapi setengah Rola menunggunya.


"Aku katakan semuanya pada golden, mengenai kedatangan raja beserta ratu dan apa saja yang ia lakukan di desa, golden tentu marah dengan titik batu yang dibongkar oleh ratu. Belum lagi pasokan makanan dari kerajaan yang seharusnya sudah dikirimkan. Dan bukan itu saja, aku juga mendapatkan cacian karena mereka mengatakan aku pecund@ng. Golden memerintahkan salah seorang untuk ke desa melihat sendiri bagaimana ratu Tania. Ia akan datang besok pagi, aku akan mengatakan ia adalah saudara kita yang datang tanpa terduga."


Rola mengangguk mendengar penuturan suaminya yang panjang lebar. "Baiklah, aku yakin golden bisa mengatasi nya, diatas langit masih ada langit."


Malam berlalu dengan cepat, pagi datang dengan kebahagiaan, warga desa kembali membongkar batuan yang menghambat aliran air mereka. Sedangkan yang lain terutama wanita menuju ladang, tawa anak-anak terdengar begitu lepas karena menikmati aliran air yang mereka dambakan.


Dari kejauhan, tepatnya gerbang masuk desa seorang pria bertubuh tinggi berkulit putih melangkah masuk, matanya menyipit menatap sekeliling. Tawa anak-anak yang tadinya terdengar keras mulai menyusut karena melihat kedatangan orang asing di tempat mereka dari jauh.


Tania tidak baru saja bergabung dengan warga melangkah menuju ladang untuk mengolah ubi kayu yang terlihat berserakan.


"Bawa dan cuci semuanya, kita akan mengolah nya menjadi makanan enak." Para warga dengan rasa penasaran nya mengikuti titah ratu mereka.


Vanriel yang melihat pengawal nya tengah menghadang seseorang langsung menuju ke gerbang. "Ada apa ini?" Tanyanya.


"Begini raja, ia ingin masuk ke desa." Lapor pengawal nya.


"Siapa kau?" Vanriel menatap lekat pria dihadapannya ini.


"Hamba saudara tuan mandar, raja." Jawab nya menunduk.


"Vanriel, ayo kita...." Tania tidak melanjutkan ucapannya karena maniknya menatap pria itu.


'Ratu Tania.' Matanya langsung mengunci Tania dengan ekspresi datar nya.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2