
Malam mendera, diatas pohon yang menatap langit cerah berbintang itu kedua gadis cantik itu tidur bak burung bercampur kera di sana. Jika bagian atas terlihat ketenangan dan bersiap tidur, maka tidak dengan bagian bawahnya yang terlihat gelisah bercampur was-was meskipun ia mencoba menguatkan dirinya.
"Kau tidak akan jatuh Siu, tenang saja."
"Nona..... Bagaimana kalau aku terjun tiba-tiba atau saat berbalik aku langsung menyapa tanah?"
"Kau akan bercluman mesra dengan tanah, bukankah itu baik?" Tania terkekeh menyambut ucapan Siu.
"Nona... Aku sungguh-sungguh!"
"Kau tidak percaya padaku? Aku mengikatnya dengan baik, dan juga memiliki kelenturan yang bisa disesuaikan sehingga tubuhmu terbalut nyaman. Ini akan menyenangkan.... Lihatlah! Mata kita disambut langit yang berhiaskan bintang, disapa angin yang berhembus. Dan hujan yang segar jika datang."
"Terserah Nona saja, aku sudah mengantuk! Aku tidak jatuh kan nona?" Siu meksipun kesal, tapi ia diselimuti rasa takut.
__ADS_1
"Tidak! Kalau sekali lagi berbeo, aku akan memutuskan talinya dan kau akan tidur serta bertemu dengan penyamun, mau?" Siu menggeleng cepat dan segera memejamkan matanya.
"Tidak Nona, selamat malam nona."
"Hmmm, kau juga." Setelah beberapa saat, Tania melihat Siu yang sudah tertidur, manik itu menjelajah ucapan Tania padanya.
"Kau memilih ini, maka aku akan memberikan bantuan sedikit padamu. Kerajaan sungai dihuni lebih banyak oleh para pendeta, mereka kental dengan itu. Akan lebih aman, kau berbaur dengan mereka, karena itu mulailah dari kuil di pedalaman sungai."
"Tidak."
Kembali lagi kemasa sekarang....
"Pedalaman sungai? Aku baru saja menempuh perjalanan, bahkan tidak tau bagaimana pendeta itu? Apa yang harus ku lakukan?" Karena rasa tubuh yang lelah, Tania akhirnya tertidur.
__ADS_1
Seperti dugaan, tengah malam terdengar suara langkah kaki serta wajah yang ditutupi oleh kain hitam. "Ayo mulai!" Seorang pria memberikan titah dan yang lainnya bergerak, mereka melewati pepohonan yang menjadi penginapan Tania serta Siu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Kenyamanan begitu terlihat di kamar besar itu, sang pemilik kamar terlihat masih terjaga dengan sebuah kuas ditangannya. Tangannya terlihat diselimuti warna yang dipilih nya untuk menyelesaikan lukisannya.
"Aku sudah memberikan warna yang sesuai, tapi matamu tetap tidak terbentuk sempurna, ratu Tania... Atau aku harus menyebut mu apa sekarang? Nona? Nyonya? Tidak.... Tapi istriku. Kau terlihat lebih cantik dengan rambut yang terurai. Tidak seperti tatanan rambut di sana, aku tidak suka. Apa kau tau? Manik mu membuat ku tidak terlelap tidur, bahkan semalam pun. Bahkan kain yang kau gunakan untuk menyembuhkan lukaku masih ada sekarang. Kau sangat berbeda.... Jika semua orang terpesona dengan wajah dan tubuhku, kau tidak sedikitpun. Apa ada magnetik di dalam matamu, atau sihir? Yang membuat ku tidak bisa tidur, bahkan melirik wanita manapun. Aku yakin kita akan bertemu, sungai yang mempertemukan kita aku percaya. Jika dulu aku terbawa arus ketempat mu, maka sekarang kau yang akan menuju kesini."
Setelah dirasa cukup, kuas itu diletakkan ke tempat nya. Atasan yang membalut tubuhnya dibuka perlahan, meksipun itu terkadang sering menjadi tontonan. Tapi tidak ada yang bisa menyentuhnya bahkan tidak satupun, pria keturunan satu-satunya sang raja itu memiliki sikap yang sama persis dengan ayahnya. Kesetiaan dijunjung tinggi oleh pria berbeda generasi itu, lampu yang dinyalakan tetap menyala meksipun malam akan berakhir.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1