Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Semakin Memanas


__ADS_3

Pelayan dengan napas tidak teratur itu segera menuju kediaman panglima Myren. Ia tidak ingin nyawanya dibayar tunai sekarang. Melihat pintu berdekorasi ukiran pohon itu membuat dirinya langsung melangkah masuk. "Dimana panglima?" Tanyanya segera membuat prajurit yang berjaga langsung menjawab setelah saling memandang.


"Panglima tengah tidak sehat, baru saja tabib datang memeriksa keadaan nya." Mata pelayan itu cukup membulat mendengar jawaban itu.


"Apa yang terjadi? Bukankah sebelumnya baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba..."


"Kami juga berpikir begitu, bahkan panglima Myren sudah bersiap-siap untuk pergi menuju pertemuan. Tapi baru beberapa langkah, beliau sudah berteriak keras karena hantaman di perutnya bukan hanya itu, beliau juga muntah. Tabib segera datang memeriksa dan ternyata alergi panglima terhadap jamur adalah penyebabnya."


Tak peduli dengan pembicaraan yang belum selesai, pelayan itu segera mengambil langkah petir untuk segera sampai kepada ibu suri. Beberapa kali menabrak tidak membuat pelayan itu terhenti karena ia harus segera mengabarkan berita ini.


Kembali ke ruang pertemuan, perdebatan semakin memanas. Tania masih menuangkan pemikiran nya untuk semua rakyat yang ada. "Aku tidak mempermasalahkan mengenai cara mendidik anak laki-laki kerajaan kita. Tapi itu perlu diiringi dengan ketrampilan dan pengetahuan untuk mereka agar tidak salah langkah. Jika dibiarkan saja, itu akan membuat peluang pintu menuju kesesatan terbuka lebar. Anak adalah peniru dan pengamat yang baik, apapun yang dilihat mereka, didengar mereka akan mereka tiru dengan sangat baik. Jika diperlihatkan kebiasaan yang baik, kata-kata yang baik. Maka tumbuhlah dia menjadi pribadi yang baik. Tapi sebaliknya.... Ia akan berubah menjadi pribadi yang buruk dan mengajarkan angkara murka suatu saat nanti. Apakah aku salah?" Tania sekarang bertanya pada semuanya.


"Itu benar, tapi seorang ibu dan wanita yang lain tidak bisa mengajarkan semua itu karena..."


"Katakan saja, ini adalah suara terbuka. Bukan begitu raja?" Tania menoleh sejenak pada Vanriel dan mendapatkan anggukan tipis.


"Kami tidak mendapatkan pendidikan seperti anak laki-laki atau pria. Kami hanya mengurus rumah."

__ADS_1


"Itu adalah takdir wanita!" Ujar beberapa pria yang membuat wanita itu menjadi gentar.


"Kalau begitu, para pria hanya mengangkat senjata, terus berlatih dan terus berperang hingga mati, bukankah itu adalah takdir kalian semua?"


"Seorang wanita memiliki kekuatan melebihi mengangkat sebuah pedang, menarik busur panah. Ataupun mengangkat beban berat dipundaknya. Wanita lebih dari itu, mengandung kehidupan baru di dalam dirinya, membawa itu kemanapun selama berbulan-bulan. Bukan hanya sehari, seminggu atau sebulan. Tapi setiap hari hingga waktu yang ditentukan, dan itu berhasil dilalui, apakah para pria bisa melakukannya? Mungkin bertempur selama seminggu kalian sanggup,karena hanya membawa pedang dan makanan. Tapi membawa prajurit yang terluka sepanjang perjalanan apakah sanggup sendirian? Jawab aku."


"Jika ada yang bisa, aku akan mengabulkan keinginannya bukan dari raja tapi dariku!" Tania dengan tegas menyampaikan ketimpangan sosial yang terjadi.


"Kenapa kami harus repot, bukankah ada prajurit yang lain? Atau tabib?" Tania tersenyum mendengarnya. Mata indahnya perlahan menatap pria itu.


"Ya, itu benar. Bukankah itu sama dengan bekerja sama? Perbedaan antara pria dan wanita bukan berarti menjadi tembok yang tinggi hingga menjatuhkan salah satunya. Masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri, untuk itu dibutuhkan persatuan dan kerja sama hingga permasalahan itu dapat selesai."


"Sama seperti keputusan ku, untuk pergi bersama raja melihat desa yang mengalami kesulitan, apakah salah dengan itu? Bukankah jika raja dan ratu bersatu mungkin permasalahan bisa terselesaikan dengan cepat? Atau seorang ratu hanya duduk manis menunggu rajanya mengurus kecantikannya saja?" Ibu suri yang mendengar hal itu, membuat satu kepalan terbentuk sempurna di balik gaunnya.


"Apakah kalian semua menginginkan itu?" Semuanya saling berpandangan dan terlihat otak mereka berotasi menelaah ucapan ratu mereka.


"Jika kalian setuju dengan ini, aku hanya meminta tangan kanan untuk diangkat, jika tidak berikan tangan kiri kalian."

__ADS_1


Belum ada juga yang tindakan membuat Tania sedikit was-was, tapi hatinya yakin akan hal itu. Hanya saja ia tidak perlu memperlihatkan raut kegelisahan itu.


"Ini tidak boleh dibiarkan!" Ibu suri yang berada di sana segera menyibak tirai itu dan keluar dari sana lalu mengangkat salah satu tangannya membuat rakyat menoleh padanya.


"Ini jawaban ku, ratu Tania!"


Ibu suri melangkah lebih dekat hingga bertatapan langsung dengan manik Tania yang keduanya saling bertolak belakang. "Rakyat akan mengikuti diriku yang sudah bertahun-tahun disini, dibandingkan dirimu yang baru lahir!"


"Kalau begitu kita lihat, siapa yang akan menang. Penduduk lama atau pendatang? Ibu suri." Aura magnet berbeda kutub berhasil disamarkan oleh kedua wanita berpangkat tinggi itu.


"Aku ikut ibu suri!"


Sama seperti mertua yang tengah di download itu, ia berada di sebelahnya dan menatap Tania."Takdir wanita adalah menunggu dan melaksanakan perintah para pria." Bisiknya dengan rapi.


"Sama seperti kau menunggu raja untuk menikahimu bukan?"


"Aku sepakat dengan ratu Tania!" Satu persatu rakyat mulai melakukan pemilihan bukan dengan tangan seperti permintaan Tania tapi berdiri dan berbaris rapi dibelakang kedua kubu itu.

__ADS_1


Bersambung......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2