
Lee yang tengah menuju paviliun, dibuat kaget dengan sosok istrinya yang tengah berdiri di depan pintu dengan wajah yang mengintograsi. "Sayang...."
"Kau dari mana, suamiku?" Mei langsung melontarkan pertanyaan kepada Lee yang membuat pangeran itu tersenyum.
"Baru saja menemui ayah, kau bangun. Ada apa?"
"Bagaimana aku tidak bangun, suamiku tidak ada saat mata ku terbuka aku tidak melihat mu. Kau tau aku khawatir dan bingung." Tidak tau kemana raut wajah sebelumnya, air mata Mei langsung mengalir tiba-tiba saja dan membuat Lee langsung memeluk istrinya.
"Kau tadi tertidur, aku hanya pergi sebentar."
"Kau pergi cukup lama. Aku menunggumu dengan lama. Setidaknya tinggalkan pesan padaku. Aku selalu tau dari orang lain, aku tidak suka itu, apa aku ini istrimu atau tidak sebenarnya?" Lee memeluk dan membawa tubuh yang diisi dua nyawa itu ke dalam sambil mendengarkan keluhan istrinya sambil menangis.
"Maaf ya, aku tidak ingin menganggu mu sayang. Aku akan katakan apa yang ingin kau ketahui, hmm." Bukannya duduk di lembutnya ranjang, Mei duduk di sepasang paha suaminya.
Lee tentu mengerti dengan perubahan istrinya yang terkadang tidak bisa diprediksi. Kadang begitu kuat, terkadang mudah menangis, seperti beberapa kepribadian.
"Katakan, aku tau ada pesan yang datang."
"Ya, aku membicarakan nya bersama Ayah. Aku pergi besok, tetap seperti rencana awal, hmm."
"Kita menunggu kabar baik dari utusan istana. Semuanya akan baik-baik saja, jangan khawatir. Aku tidak mungkin pergi tanpa mengabari mu, sayang." Lee menangkup wajah istrinya yang terlihat membulat di bagian pipi semenjak kehamilan dan membuat Lee semakin gemas.
"Aku tau." Mei hanya mengatakannya dan memeluk erat tubuh suaminya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
Seperti janji, Lee menghabiskan waktu bersama istrinya seharian ini dan berharap tetap begitu. Tampak Mei dengan senyuman membawa beberapa makanan yang dibuat oleh Ibu hamil itu.
"Sudah selesai. Ayo sayang, makanlah. Aku buatkan dengan khusus." Lee menatap beberapa makanan yang beragam dimasak oleh Mei dan tentunya dibantu oleh Siu serta beberapa pelayan, tapi yang memasak adalah Mei. Tidak mungkin, wanita hamil itu membiarkan ada campur tangan lain untuk makanan suaminya.
"Sudah semua?" Tanya Lee memastikan karena beberapa kali istrinya bolak-balik dengan beberapa makanan.
"Sudah." Jawab Mei sambil duduk disebelah suaminya.
"Aroma nya sangat menggoda, dan juga tampilannya. Seperti orang yang memasak nya." Lee melontarkan pujian untuk istrinya sambil melihat makanan yang tersaji di depannya.
"Ayo cicipi. Aku suapi ya." Lee menerima saja dan melihat Mei tampak bersemangat sekali. Seperti seorang ibu yang menyuapi anaknya, Mei mengambil beberapa menu dengan nasi yang diberikan kepada suaminya.
Beberapa kunyahan, Lee juga menyuapi istrinya. Membuat pemandangan itu menjadi impian semua mata yang menatapnya.
"Istriku dan anak kita juga harus makan. Anak kita harus tau, bagaimana lezatnya makanan yang dibuat oleh ibunya ini." Lee tak lupa mengelus perut istrinya dengan lembut.
"Aku juga begitu. Kau adalah warna dalam duniaku dan ditambah dengan warna anak kita. Duniaku menjadi lebih indah saat kau hadir sayang."
Sebelum malam datang, Lee meminta tabib memeriksa kandungan istrinya yang telah berjalan tiga setengah bulan. "Kandungan Putri sangat sehat. Tidak ada masalah pangeran, dan diharapkan agar putri menjaga istirahat dan makanan serta tidak banyak pikiran." Tabib itu pergi setelah mendapatkan bayaran atas kerja kerasnya.
"Aku semakin senang, mendengar keadaan anak kita."
"Dia akan baik-baik saja, karena ada kau yang menjaga ku dan anak kita."
"Selalu."
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Pendeta Ming yang pergi besok hari saat ini tengah bersama raja membicarakan sesuatu. "Jadi bagaimana raja?" Tanya pendeta Ming.
"Kau benar, Lee memahami semuanya dengan baik. Aku tidak tau metode apa yang digunakan oleh Mei. Bukan berarti aku meragukan kemampuan Lee, hanya saja ia cukup sulit untuk memulai." Ujar raja dengan kekehan yang membuat pendeta Ming juga ikut terkekeh.
"Ngomong-ngomong raja, sepertinya ada sesuatu yang akan segera kita dengar."
"Begitukah? Cepat sekali, aku merasa gagal dengan adanya pengkhianatan ini. Kita pantau dulu, jangan sampai salah langkah lagi."
"Tentu raja, aku sangat penasaran dengan alasannya. Apakah dengan alasan yang sama seperti yang kita ketahui?" Jelas pendeta Ming.
"Aku harap tidak."
Lentera mulai dinyalakan, beriringan dengan terbenamnya matahari. Setelah latihan pedang bersama dan bermain panahan bersama istrinya. Lee tengah menyisir rambut hitam berkilau istrinya yang membuat Mei tersenyum manis.
"Kau sudah menyisir cukup lama, tidak lelah?" Tanya Mei.
"Tidak, rambut sehalus ini membuat tanganku tidak bosan. Aku sangat suka, memang apa yang tidak aku sukai dari istriku ini?" Lee bicara sambil menyelipkan kepalanya ke ceruk leher nan wangi itu.
"Sekarang giliran suamiku yang aku urus." Ketika keduanya sibuk bercengkrama dan bersantai sebelum tidur. Gedoran pintu membuat keduanya saling menatap.
"Ada apa?" Tanya Lee yang melihat prajurit mendatangi kamarnya.
"Maaf pangeran, tapi raja meminta pangeran bersiap dan segera pergi sekarang juga." Mei yang mendengar tentu dibuat kaget dengan kabar itu.
__ADS_1
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.