Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Pola Pikir


__ADS_3

Ada kericuhan serta angin yang berbisik di kalangan rakyat. Belum lagi dengan keberadaan antara panglima Myren serta ratu Tania yang belum terlihat di manapun. Selain dengan rating buruk yang akan melanda keduanya, juga akan berpengaruh bagi kerajaan di mata rakyat.


Keresahan juga terjadi pada Mita sang ibu suri yang terlihat melirik ke arah pintu masuk melihat keberadaan Kakaknya. "Dimana kakak? Aku harap semuanya berjalan dengan baik."


"Raja, dimanakah ratu? Bukankah ini permintaan ratu?" Salah seorang rakyat mulai bicara membuat Vanriel serta yang lainnya saling melirik.


"Jika Ratu tidak datang juga, maka keputusan tidak akan berubah." Mita tersenyum samar mendengar nya, tidak masalah jika kakaknya tidak datang karena yang terpenting adalah Tania yang menjadi penghalang.


Vanriel memberikan kode tangan nya agar semua rakyat kembali tenang. "Baiklah, kalau begitu dengan ini...."


"Tunggu raja!" Suara diantara kerumunan membuat semuanya langsung menoleh mencari sumber suara.


Mereka saling melirik dan menajamkan penglihatan mereka. Sebuah langkah terdengar dari kerumunan serta terlihat sosok wanita diantara rakyat menuju ruang pertemuan. Sosok itu datang bersama anak yang berusia 5 tahun di sebelahnya dengan luka di kaki nya.


"Anakku!" Dipastikan Ibu dari anak itu langsung menghambur keluar dan memeluk bocah itu.


"Terimakasih ratu." Senyum yang akan menjadi kemenangan ibu suri langsung tertepis, tangannya langsung menyibak tirai di hadapannya dan melihat sosok Tania di sana.


"Tania?"


"Ratu Tania, kau...."


"Salam untuk raja, Kaisar dan semuanya. Aku sangat menyesal terlambat kesini, karena ada hal yang lebih penting untuk ku lakukan."

__ADS_1


"Memangnya apa yang lebih penting dibandingkan pertemuan ini?" Tidak mau kalah, Ibu suri mengeluarkan pendapat nya.


"Apa ratu Tania tidak tau, bahwa rakyat sudah menunggu sejak tadi? Apa mereka tidak berarti?" Bisik-bisik kembali terdengar membuat Ibu suri akan memastikan Tania tidak menang, bahkan peluang untuk itu tidak akan dibiarkan.


"Aku tidak mengatakan penantian mereka tidak berharga. Aku sangat menghormati penantian mereka semua, tapi disini ada sosok yang akan menjadi prajurit, kstaria serta menteri hebat kerajaan kita yang membutuhkan bantuan, tapi permintaan tolong kecil ini, tidak terdengar oleh siapapun. Anak ini hilang diantara kerumunan rakyat bukan hanya itu ia juga terjatuh ke dalam parit pintu masuk dan tidak ada yang melihat sejenak untuk anak ini, apakah karena bukan bagian dari keluarga? Bukankah sebagai rakyat dibutuhkan persatuan dan kesatuan? Semuanya sibuk untuk segera masuk tanpa memedulikan anak ini, apakah semuanya buta?" Semua rakyat saling berpandangan satu sama lain.


Sesaat sebelumnya.....


Tania lebih memilih untuk bersiap-siap segera karena melihat kerumunan rakyat dari jendela kediamannya. Dan karena tangannya licin akibat pelembab kulit nya membuat gelas teh nya terjatuh dan teh nya tumpah menyapa karpet indah itu.


"Astaga! Siu, bereskan segera.."


" Hamba akan membawa teh lagi ratu."


"Baik ratu, hamba akan segera menyusul ratu." Siu segera membersihkan cairan beraroma itu seiring dengan langkah Tania yang keluar dari kediamannya.


Netra Tania begitu terkesima melihat kerumunan rakyat yang akan hadir. Senyum Tania terlihat samar karena ini akan menjadi peluang untuk membantu pemikiran rakyat nya agar lebih baik lagi terutama bagi perempuan.


Melihat dekorasi pintu masuk istana membuat Tania menjadi penasaran. "Tidak ada salahnya berjalan sebentar." Itulah pemikiran Tania, langkah kaki Ratu cantik itu segera menuju gerbang, tapi telinganya tiba-tiba mendengar teriakan pilu yang tak jauh darinya. Sejenak ia mencari, dengan ketajaman pendengarannya terdengar seorang anak laki-laki yang terjatuh ke dalam parit yang tak jauh dari penjagaan prajurit. Bahkan Tania saja dari radius itu mendengar dengan jelas tapi kenapa semuanya seperti tidak terjadi apa-apa.


Hati kecil Tania yang tidak terima membuat langkahnya langsung besar menuju parit itu. Bahkan prajurit sering rakyat yang lain menatap sang ratu yang berjalan keluar disaat semuanya berbondong-bondong untuk masuk. "Ibu, tolong aku!" Tidak perduli dengan pakaian yang baru saja dipakai untuk hari ini, Tania langsung terjun kebawah dan membuat pakaian bawah terkena air parit yang mengalir.


"Tenang, aku akan membawa mu naik dan bertemu dengan ibumu." Suara lembut Tania membuat manik yang sudah basah itu langsung menatap dengan harapan besar.

__ADS_1


"Kakiku sakit, terluka karena kerikil." Adu anak itu.


Segera saja Tania menggendong anak itu dan menatap tajam prajurit yang seperti patung dengan menunduk salah. "Aku tidak menyangka prajurit untuk seharusnya melindungi rakyat justru tutup telinga akan hal ini, aku akan bicara pada raja dan kaisar!" Baju yang sudah basah serta robek membalut luka anak itu membuat penampilan Tania tidak berkurang.


Dengan sosok anak di gendongannya, Tania memasuki istana kembali, beberapa kali ia berbincang dengan anak itu untuk menghilangkan rasa sakit di kakinya. Sejenak Tania kembali ke kediamannya mengambil sebuah ramuan untuk mengobati kaki anak itu sebelum kembali ke ruang pertemuan.


Setelah dirasa cukup, bahkan Siu turut hadir karena melihat ratunya yang seharusnya sudah sampai di ruang pertemuan justru kembali dengan seorang anak. Tania yang menjelaskan sambil mengobati membuat Siu mengerti dan kasihan serta kesal dengan tindakan yang sangat disayangkan itu.


Kembali lagi dengan sekarang....


"Itulah yang terjadi raja, apakah satu anak tidak berarti dibandingkan pertemuan ini? Kita akan melakukan aspirasi bukan? Tapi sepertinya sikap berdasarkan nilai kemanusiaan juga sebaiknya ditanamkan. Apakah seperti ini sikap dari orang kerajaan kita?"


"Bagaimana jika itu terjadi dengan kita, atau anak kita, apakah kita diam saja? Tidakkah ada rasa kasihan? Apa semuanya bisa menjelaskan?" Tania menatap semua rakyat yang ada dihadapannya.


Tidak ada yang menjawab sementara waktu. Hingga sebuah suara pria keluar diantara keheningan. "Ratu seorang anak laki-laki harus bisa mengatasi rasa sakit dan kesulitan yang dialaminya itu adalah pengajaran yang turun temurun untuk melatih kekuatan anak laki-laki."


"Memang benar, tapi jika tidak diiringi dengan pengetahuan maka tidak akan bisa diatasi. Sama seperti ketika anak diberikan sebuah pisau saat mereka masih belum berakal apakah itu baik? Atau mengajarkan menjadi ksatria sejak kecil?"


Terlihat para rakyat berfikir dengan pemikiran mereka masing-masing setelah mendengar ucapan Tania. Membuat Mita semakin tidak akan tinggal diam dan sambil berfikir dimana kakaknya. "Cari tau dimana panglima Myren, sekarang!"


'Orang yang kau tunggu tidak akan datang ibu suri, karena apa yang kulakukan tidak akan terhalangi oleh siapapun juga! Pemikiran buruk ini harus dirubah demi kebaikan kerajaan. Agar tidak ada manusia dengan pemikiran seperti kalian yang akan membuat kerusakan!'


Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2