Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Janji


__ADS_3

Sorak gembira terdengar oleh telinga para bangsawan itu. Para warga tak henti-hentinya meneriaki nama putra putri mereka dan mengikuti langkah kaki untuk memeluk tubuh yang mereka rindukan itu.


Adegan haru tak terelakan lagi, air mata kebahagiaan sudah tak dapat terbendung lagi saat ini. Isak tangis begitu terdengar mengalun di telinga semuanya.


"Kakak En!" Suara teriakkan An menggema dengan kecepatan kakinya yang menuju sang kakak yang sekarang bisa ia lihat dan peluk, bukan lagi sekedar khayalan dirinya saja.


Pelukan itu tidak akan dilepas meksipun sedetik saja. Hingga senyuman nya terbit ke arah Tania di hadapannya. "Terimakasih ratu." Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Tania.


"Itu adalah tugas ku. Mengembalikan senyuman mu, dan yang lainnya."


Semuanya menyoraki Tania dan Vanriel dengan penuh keagungan dan semangat serta kepalan tangan yang mengudara. "Di tengah kebahagiaan itu, terlihat suara kuda yang menuju mereka dan beberapa orang dengan pakaian yang dikenali dengan baik.


"Kau bahagia, sedangkan adikku hampir dinodai, kau tidak tau raja?" Tangan Vanriel menunjukkan sebuah kode yang membuat sang pemimpin masuk beriringan dengan nya.


"Aku menunggu kedatangan mu Jenderal Kendrick."


"Kau menyambut ku dengan ramah, sedangkan adikku menangis ketakutan tapi kau seakan tuli? Apa kau sengaja?" Terlihat Yuri masih ketakutan dan berada di balik punggung kakaknya.

__ADS_1


"Sepertinya ada kesalahpahaman disini, aku tidak melakukan apa yang kau pikirkan jenderal." Di dalam tenda itu, mereka para darah biru duduk bersama sambil menyalurkan uneg-uneg serta solusi.


"Salah paham? Kalau aku tidak memenggal kepala tua bangka itu maka apa yang akan terjadi?" Tania memilih diam karena belum bagiannya untuk bicara saat ini.


Maniknya akan memproses wajah pria yang bertubuh tegap dengan celak yang membuat matanya semakin tajam. "Yuri bisa menjelaskan, tapi tidak saat ini. Aku akan katakan, kami pergi ke tempat persembunyian musuh yang menghisap darah warga desa dan itu juga sudah ku sampaikan kepada Yuri meskipun tidak sepenuhnya melalui surat. Bukankah kau menerimanya? Mengangguk lah jika iya."


Tubuh yang masih gemetar itu masih belum bisa berucap, apalagi saluran pernafasannya yang terasa sempit sekarang. Meskipun dirinya kesal dan penuh bara tapi tidak bisa ia salurkan, ditambah dengan pertanyaan Vanriel padanya.


"Lihat?" Semua mata dapat melihat anggukan yang tersendat itu di hadapan mereka.


"Ya, tapi kau tidak memberikan penjagaan untuk adikku?"


"Aku juga mengalami kesulitan disana, hanya satu kesimpulan yang aku ambil, tuan putri Yuri tidak membaca hingga habis, aku menuliskan semuanya disana karena ia belum kembali dari pemandian. Hmmm?"


Yuri belum menjawab, tapi kakaknya lebih dulu menyimpulkan dengan opini nya sendiri. "Kau sudah salah dan ..."


"Sayangnya kami punya salinannya. Jenderal bisa lihat, Sebenarnya..... ini surat untuk tuan putri Yuri, tapi karena sedikit sobek dan terkena tumpahan tinta maka dibuat salinan baru. Tapi untuk isi lebih jelasnya masih bisa dibaca." Manik dengan celak itu menatap sosok yang angkat bicara dengan nya.

__ADS_1


Tampak wanita dengan kulit eksotik yang begitu berkilau meksipun di malam hari yang tidak sesempurna siang hari. Ditambah dengan pakaian besi yang sesuai untuk gelar yang disandangnya, dan sedikit luka di bibir berisi yang basah itu.


"Kau ...."


"Istriku, ratu Tania." Entah mengapa Vanriel begitu lantang mengatakannya hingga membuat manik tajam itu menjadi menyipit tapi tidak mengurangi ketajamannya.


"Wah, sepertinya kau melupakan sesuatu raja. Bisa kita bicara berdua saja?"


Perlahan semuanya pergi, termasuk Tania yang kebetulan ada ketidak ingin tahuan serta ingin membersihkan dirinya. Sedangkan Yuri dibawa ke tendanya dibantu bersih-bersih dan tidur karena tenaga nya yang terkuras.


Sepasang pria dengan darah bangsawan yang berbeda gelar di tangan mereka saling berhadapan tanpa siapapun lagi. "Katakanlah raja, aku akan mendengar lebih dulu."


"Apa kau akan bicara sebagai jenderal atau seiring kakak?"


"Seorang kakak dan aku ingin kau bicara sebagai pria tanpa pangkat apapun yang mendatangi ku dengan janji membahagiakan adikku sebagai istri mu!"


Bibir Vanriel terasa berat untuk bergerak mendengar kata janji yang terlontar di bibir pria yang sering ditemuinya dulu.

__ADS_1


Bersambung.........


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2