Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Ayah vs Anak


__ADS_3

Beberapa langkah sudah dilakukan oleh Lee, ia tampak sudah memasuki ruang makan itu yang terlihat sang raja dengan sosok yang disampaikan oleh Xiong. "Ah itu, pangeran Lee." Ujar seorang wanita yang seusia dengan ayahnya.


Tentu saja ucapan itu membuat semua yang ada di meja makan langsung tertuju pada Lee. "Salam Ayah, dan salam untuk Paman dan bibi."


"Lihat, yang kita bicarakan langsung datang." Tampak pria yang dipanggil Paman itu berujar sambil tertawa kecil.


"Hal apa yang dibicarakan mengenai ku?" Lee bertanya sambil duduk di kursinya dan benar saja ia melihat Mola yang duduk dihadapannya.


"Apalagi, tentu saja mengenai pernikahan mu." Lee langsung menatap ayahnya yang bicara hal yang ingin ia bicarakan.


"Ayah aku...."


"Lee, ayah sudah memilihkan gadis untukmu dan...."


"Ayah...."


"Jangan menyela pembicaraan ayah!" Lee langsung terdiam seketika dan menunggu hingga pembicaraan mengenai calon yang tidak ia inginkan itu.


"Gadis itu sudah ayah temui dan akan menjadi calon istrimu. Beberapa waktu ayah amati, dan itu adalah pilihan yang terbaik untukmu."

__ADS_1


"Aku menjadi penasaran dengan sosok nya, bukankah pangeran Lee juga begitu?" Celetuk paman yang terlihat tersenyum diantara pembicaraan itu.


"Ayah, aku ingin bicara."


"Bicaralah."


"Aku sudah memiliki calon ku sendiri ayah, aku ingin membicarakan nya dengan ayah. Bukankah ayah mengatakan sebelumnya bahwa jika aku suka menemukan pilihan ku, ayah akan mempertimbangkan nya." Raut raja tidak ada perubahan signifikan, karena ini sudah dibicarakan sebelumnya.


"Ya, tapi pilihan ayah juga tidak bisa ditoleransi Lee. Ini adalah yang terbaik, ayah tidak mau melihat yang lain."


"Ayah ingkar janji?"


"Aku jamin ayah akan langsung berkata iya, ia memiliki kualitas yang ayah mau. Aku..." Raja langsung mengangkat tangannya bertanda semuanya harus berhenti.


"Kita makan dulu, dan kita lanjutkan nanti. Dan tidak ada yang pergi sebelum makan!" Raja menekankan ucapannya kepada putranya yang terlihat langsung kesal.


Sedangkan keluarga kecil itu, terlihat tersenyum satu sama lain dan saling memandang.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


Mei yang baru saja menyajikan makanan untuk baba, justru bertemu dengan baba yang terlihat di ruang baca nya. "Kebetulan putriku disini, ayo.... Kemarilah, baba ingin bicara denganmu." Mei langsung menuju baba nya dan duduk di hadapannya.


"Apa baba butuh sesuatu? Atau ada teori yang ingin kita bicarakan bersama?" Tebak Mei sambil tersenyum.


"Ya, baba baru menemukan teori yang harus dibicarakan bersama dengan putri baba."


"Oh ya? Apa itu?" Tanya Mei dengan penasaran.


"Sebelum baba ingin tau, apa Mei menganggap baba seperti ayah mei sendiri?"


"Tentu saja, baba sangat berarti bagiku. Meskipun kita tidak memiliki ikatan darah seperti ayah dan anak seperti yang lainnya. Tapi baba adalah ayahku, aku sayang menghormati dan menyayangi baba. Apa ada yang menganggu baba?" Baba menggeleng cepat.


"Tidak, baba senang mendengarnya. Mei, seperti ayah pada umumnya.... Ketika putri mereka sudah dewasa, maka pernikahan tidak bisa dielakkan dari putri nya." Mei tidak mengatakan apapun, ia mendengarkan hingga selesai.


"Baba memikirkan hal itu, pastinya usia mu sudah memasuki jenjang itu. Baba menginginkan kau menikah dengan seorang pria yang bertanggung jawab, melindungi mu dan menyayangi mu dan menghormati mu. Meskipun baba tidak tau kehidupan mu sebelum nya, dan apa, yang jelas.... Saat ini kau adalah putriku, kau tanggung jawab baba. Dan baba menginginkan hal itu, baba mendapatkan lamaran untukmu. Dari yang baba ketahui, pria itu menjadi kriterianya. Bukan karena rupa dan statusnya, jadi apa Mei bersedia? Setidaknya bertemu lebih dulu. Baba tidak akan memaksa, baba ingin melihat keputusan mu. Jadi....." Mei tampak terdiam setelah penjelasan baba. Pikiran dan hatinya saling bertolak belakang saat ini.


Bersambung......


Sambil menunggu episode berikutnya yuk mampir ke karya baru author, ceritanya tak kalah seru loh!!!!!

__ADS_1


Ikuti pembalasan Flora dalam membungkam mulut para pengejek yang menghina dirinya dengan nilai nol! Dalam novel Skala Kecantikan Flora.


__ADS_2