
Beberapa waktu mengobrak-abrik apa yang kacau, akhirnya desa yang menjadi singgahan Lee setidaknya terlihat lebih baik. Ada rasa lega yang menyelimuti hati Lee melihat yang terjadi dan juga tampak pria yang merupakan penerus desa itu merasa senang dengan hasilnya.
"Jadi, pangeran tengah dalam perjalanan menuju mereka?" Sekarang setelah pekerjaan selesai, tampak semuanya duduk dijamu dengan persediaan yang ada. Lagipula Lee juga membawa persediaan makanan yang dibutuhkan oleh desa ini.
"Ya, mereka membuat kekacauan. Tentu harus segera diatasi, dan itu adalah tugasku."
" Aku berharap semoga dan berhasil. Jujur saja usia ku belum memiliki tepak terjang untuk ini, kehilangan ayahku menjadi pukulan telak bagiku. Aku tadinya ingin menyerang istana mengenai kedamaian yang hilang dari desa kami."
"Aku bisa mengerti, meksipun kau berpikir aku tidak mengalaminya. Tetapi keluhan rakyat dapat kurasakan juga."
"Terakhir aku dengar, mereka berniat menuju istana." Lee mendengarkan dengan seksama.
"Sekarang?"
"Mereka ke arah timur. Aku dengar ada markas mereka disana, tidak terlihat tapi bisa dimasuki tanpa sadar." Ada rasa tertarik bagi Lee mengenai ucapan itu.
"Maksudnya, mereka membuat sarang di tempat yang sangat menguntungkan?"
"Benar sekali pangeran. Mereka mengambil tempat di tengah pegunungan dan aliran sungai yang mencukupi dan begitu menunjang kehidupan mereka. Selain itu disana juga menjadi tempat penyimpanan senjata terlarang mereka."
__ADS_1
"Penyelundupan."
"Hmm, aku melihat berbagai senjata yang aneh dan sepertinya sangat berbahaya. Mereka telah menggunakannya saat menyerang desa kami."
"Bisa kau jelaskan lebih rinci?"
"Aku bisa menggambarkan nya." Lee tampak senang dengan itu dan Xiong mengeluarkan alat yang dibutuhkan.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Gulungan kertas yang berisi pesan itu membuat senyuman itu tersungging. "Bagus, akhirnya ada informasi yang berguna juga. Aku tidak perlu menghabisi nyawa seseorang dulu, untuk mendapatkannya."
"Tapi, maaf tuanku..... Kondisi pasukan kita belum memungkinkan tuanku, ini bisa mempengaruhi keberhasilan kita nantinya. Lagipula menunggu beberapa hari, lagi tidak masalah..... Setidaknya tiga hari ini." Dengan harap-harap cemas, pria itu mengeluarkan pendapatnya.
Dan tentu saja, dia mendapatkan tatapan maut dari ucapannya. Wajahnya segera menunduk ketika mendapatkan tatapan tak bersahabat itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Baba pergi dulu, jaga dirimu Mei."
__ADS_1
"Iya baba,dan jaga diri baba juga. Aku akan berkunjung dan baba seringlah kemari, bukan begitu ayah raja?"
"Ya, tentu saja. Sering lah berkunjung, aku juga senang dengan kedatangan besan ku." Dengan tawa raja membalas ucapan Mei.
"Tentu Mei, baba akan datang lagi. Dan raja, sampai bertemu lagi."
"Aku akan menjadi Mei, dia putriku juga... Jangan berpikir dia hanya putrimu." Mei hanya tersenyum mendengar percekcokan dengan kadar humoris itu.
"Aku tidak bilang apapun." Pendeta Ming perlahan menjauh dari gerbang istana dan Mei menatap sambil melambaikan tangannya hingga tubuh baba nya menghilang dari pandangannya.
"Ayo masuk kembali, ada pesawat untukmu."
"Pesan? Apa dari...." Belum sempat nama Mei sebutkan, raja langsung mengangguk dan membuat Mei tersenyum cerah dan segera menuju kamarnya.
Siu tidak lupa, mengikuti kemana langkah tuan putri itu yang langsung membuka pintu dan maniknya segera mengunci gulungan surat di tempat tidurnya.
"Lee...." Mei dengan tak sabaran membuka gulungan kertas itu dan membaca pesan yang ditulis oleh suaminya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.