Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Bisikan VS Pesan


__ADS_3

Adukan sendok dengan minuman manis menyegarkan itu terhenti ketika sebuah tangan ikut campur didalamnya. "Kenapa?" Tentu saja Rola bingung dengan tingkah suaminya.


"Kali ini pastikan diminum oleh semuanya atau tidak batalkan!"


"Apa maksudnya?"


"Sebenarnya malam itu aku tidak berhasil masuk ke kamar ratu Tania, ia masih terjaga di tengah malam." Sontak saja membuat mata yang sudah besar itu ingin keluar dari tempatnya.


"Kenapa baru bilang?" Adukan yang penuh semangat tadi langsung buyar berganti dengan tatapan tajam.


"Aku lupa, apalagi dengan kejadian sekarang ini? Besok aku akan menemui para golden ditambah lagi dengan raja memeriksa gudang yang untung saja barang bantuan itu belum ku kirimkan kepada mereka. Kalau tidak bisa mati kita!" Tampak kepala desa mendadak pening dengan apa yang terjadi tidak sesuai dengan perkiraan nya.


"Kalau begitu, bagaimana? Aku kira minuman ini adalah senjata ampuh kita. Nyatanya tidak! Ingatan mu itu ganti saja! Pikun!" Bukannya memberikan senang justru tambah pening yang dirasakan nya.


"Itulah yang sedang ku pikirkan! Belum lagi dengan pertanyaan air yang mulai mengalir ke sumur, aku rasanya masuk kandang buaya setelah hampir dimakan singa."


Rola yang tidak melihat jawaban suaminya, berpikir memikirkan jalan keluar mereka. "Pucuk dicinta ulam pun tiba." Wajah Rola yang tadinya bak benang kusut sedikit terurai melihat Yuri yang tengah duduk di luar tenda.


"Apa?" Tanya suaminya.


"Lihat, tuan putri Yuri. Kalau dari ku tidak bisa, maka kita mulai dari boneka sekarang."


"Kalau begitu tunggu apalagi, ayo lakukan!" Ujar suaminya tak sabaran.


"Iya, aku lakukan! Dasar!" Keluar dari rumah yang menyimpan rahasia mereka, Rola berjalan perlahan menuju Yuri.


Merasakan ada langkah kaki berdendang di telinga nya membuat wanita berambut pirang itu menoleh. "Pergilah, aku tidak ingin diganggu!" Sentak nya dengan cepat ditambah nada yang tidak bersahabat.


"Tuan putri, tidak baik di malam yang dingin ini duduk sendirian. Apalagi wajah cantik tuan putri menjadi santapan angin serta nyamuk dan serangga." Yuri spontan menyentuh wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa Tuan putri tidak bersama raja? Setahu hamba, bukankah Tuan putri akan menikah dengan raja?" Yuri sedikit menoleh pada Rola tapi tak bertahan lama.


Meskipun tidak mendapatkan jawaban, tapi Rola tau Yuri mendengar ucapan nya. "Putri sangat cantik, tidak kalah dari ratu. Bahkan putri lebih dari ratu, dan terutama bukankah putri adalah belahan hati raja? Ratu Tania hanyalah sebuah kayu yang menempel di rumah impian putri bersama raja? Kalau putri disini bukankah itu menjadi peluang bagi ratu untuk menghabiskan waktu bersama raja? Siapa yang tau, ditengah kebahagiaan warga desa juga akan menjadi kebahagiaan bagi ratu karena mungkin di rahimnya akan segera hadir penerus istana." Manik yang tadinya masih normal saja sekarang menjadi abnormal seketika.


Aliran darah yang tadinya bak sungai dengan ketenangan dan dingin berubah menjadi pusaran air nan mendidih. Anak? Tentu saja Yuri tidak akan membiarkan Tania melahirkan keturunan Vanriel, hanya dia.


'Bagus, terbakar lah karena kau akan menjadi kayu pengorbanan ku.'


"Itu tidak akan terjadi! Hanya aku!" Pekik Yuri yang sudah memanas.


"Tuan putri tenang lah! Hamba bisa membantu, hamba memiliki ramuan yang menghambat kesuburan."


"Aku tidak memerlukannya, karena raja tidak akan menyentuh Tania!"


"Mungkin sekarang benar, tapi siapa yang menjamin nanti? Jika tumpahan minyak tidak segera diatasi maka bisa membuat kita tergelincir tuan putri. Dan bukankah itu juga baik, karena rakyat akan kecewa ratu mereka tidak bisa memberikan keturunan dan nama yang diagung-agungkan itu akan memudar, bukankah itu yang tuan putri inginkan?" Yuri tentu saja kaget mendengar penuturan Rola yang tau akan isi hatinya.


"Kenapa kau membantuku? Apa jaminan nya kau tidak berkhianat? Rola tersentak ketika merasakan cengkraman dileher nya.


"Aghhh!"


"Uhuk!" Rola meraup napas sebanyaknya dan Yuri terlihat melepaskan amarahnya dalam udara.


"Hamba bersumpah tidak memiliki hal buruk pada putri." Yuri masih belum bereaksi, tapi jangan harap Rola akan putus asa karena hanya ini kesempatan baginya.


"Berikan padaku!" Hati Rola bersorak gembira melihat keputusan Yuri, tidak sia-sia dirinya hampir mati.


"Gunakan cara halus putri. Mari ikuti hamba." Yuri menuju kediaman Rola yang ditunggui oleh kepala desa.


Di tenda.....

__ADS_1


Sepasang suami istri itu tampak serius membicarakan tindakan mereka berikutnya.


"Aku yakin batu itu sengaja diletakkan disana untuk menghambat aliran air. Dan mungkin ada di beberapa titik."


"Apa alasan kepala desa melakukannya?"


"Uang, kekuasaan serta wanita tiga itu menjadi kegelapan mata. Bukan begitu raja? Bahkan kita bisa menjumpainya di istana, lalu kenapa tidak disini?"Tania mengamati denah desa sambil menarikan tinta di sana.


"Padahal aku memberikan hak yang pantas untuknya, tapi ia berkhianat."


"Kesetiaan sangat sulit di dapatkan, apalagi jika sudah tergoda tiga hal itu."


"Aku sudah mengirimkan surat kepada istana, untuk mengirimkan beberapa prajurit...."


"Bukan beberapa! Tapi seperti peperangan." Vanriel membulatkan matanya mendengar penuturan istrinya.


"Kita hanya menghadapi kepala desa dengan beberapa orang, kenapa meminta bantuan begitu banyak?" Tania mengentikan pergerakkan tangan nya lalu mendekatkan wajahnya seketika.


"Bukan kepala desa pimpinnya, tapi ia hanya anak buah. Ingat goa timur? Kita akan berperang disana, bukan disini. Dan kepala desa yang akan menjadi pintu pembuka nya. Kepala desa bukan melakukan setahun saja tapi bertahun-tahun selama ia menjabat, apa raja yakin hanya sedikit?"


Vanriel tidak bisa berkata-kata bukan karena soal kepala desa serta bala bantuan tapi kedekatan wajah nya dengan sang istri yang begitu dekat bahkan hembusan nafas Tania terasa oleh nya.


Tania kembali fokus dengan denahnya, seolah tidak merasakan apapun setelah apa yang ia lakukan. "Kenapa diam? Kita harus segera mengirim pesan, butuh waktu bagi mereka kesini."


"I.... Iyaa, tentu saja. Tapi bagaimana mengetahuinya? Kita langsung kesana?" Tania menggeleng dengan cepat.


"Kita tidak bisa bertindak terburu-buru, kita juga harus menyiapkan warga desa."


"Apa?"

__ADS_1


Bersambung........


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2