Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Perpisahan


__ADS_3

Mola gadis yang begitu penasaran dengan sosok istri pangeran Lee langsung dibuat terdiam seketika. Tubuhnya bak membeku sejenak dan matanya memandang lekat sosok yang mendekat itu. Cantik, meskipun tidak memiliki kulit seputih susu seperti dirinya, tapi terlihat sangat sehat dan bersih dan juga wajahnya sangat glowing tanpa noda.


Belum lagi dengan dandanan istri Lee itu yang terlihat seperti bangsawan itu. Tidak mencolok, tapi terlihat sangat pas perpaduan antara pakaian dan perhiasan senada.


'Apa sungguh dia putri pendeta?' tanyanya sendiri sambil menatap Mei yang mendekat ke arah nya.


"Salam Ayah, ayah mertua." Tampak Lee lebih dulu bicara, dan memberikan hormat. Sedangkan Mei yang berada di sebelahnya ikut melakukan hal yang sama.


"Salam baba, salam ayah." Mei berujar gak lupa dengan senyuman manisnya.


"Lihat putri dan putraku sudah datang. Kemari lah, kami sudah menunggu kedatangan kalian." Raja berujar sambil mendekati pasangan pengantin baru itu.


"Ayo, kita segera makan. Sepertinya tenaga kalian sudah terkuras habis, bukan begitu?" Keduanya hanya tersenyum malu karena itu bukanlah hal tabu untuk dibicarakan.


"Ayo, mola. Kenapa masih berdiri?" Mola langsung tersadar dan segera duduk.


Tetapi matanya tidak berhenti menatap Mei yang berada di hadapannya ditambah dengan sikap yang ditunjukkan oleh Lee. "Kau suka ini?" Tanya Lee membuat semuanya menatap melihat tingkah pasangan baru itu.


"Aku suka, dan kau pastinya kau suka juga." Mei langsung mengisi piring suaminya itu.


"Dan tentunya untuk baba, apa ayah juga?" Mei bertanya kepada dua orang yang sudah menjadi Ayah nya itu.

__ADS_1


"Putriku juga ingat dengan kedua ayahnya. Tentu saja mau Mei." Mei langsung menyajikan kepada semuanya dan tentu ketika sampai di piring mola, ia langsung mengentikan nya.


"Aku tidak suka, itu membuat ku gatal." Mei menatap gadis di hadapannya dan terlihat menelisik wajah dihadapannya.


"Kalau begitu, kau pasti suka nasi kan?" Mei langsung mengisikan nasi ke piring mola dan membuat gadis itu tidak menolak, dan Mei tersenyum manis setelah itu.


"Baiklah, kita mulai saja." Ditengah berlangsungnya proses makan itu, tentu mola tidak mengentikan pandangannya.


'Mari kita lihat, bagaimana dia makan yang baik.' seolah tidak kehabisan materi, mola terus melihat apa saja yang dilakukan Mei..


Tapi wanita itu tidak merasa terganggu, karena sikap Lee yang terlihat memanjakannya. Meskipun tanpa suara, karena saat makan, tidak ada yang boleh bicara.


Hawa yang tadinya senang, sekarang terasa berbeda. Karena pendeta Ming bersiap pergi dan tengah pamit dengan putri nya. Mei tentu merasa sedih, karena akan berbeda rumah dengan baba meskipun mereka satu wilayah. "Pangeran..."


"Aku sudah menjadi putra baba juga, kenapa masih memanggil seperti itu, bukan begitu Ayah?" Lee bicara sambil menyenggol ayahnya seolah menyakinkan lagi.


"Ya pendeta Ming, kita menjadi keluarga sekarang."


"Baiklah, aku mungkin belum terbiasa. Lee, aku menitipkan putriku padamu, aku mempercayakannya. Aku yakin dan berharap kau menjaganya dengan baik. Jujur saja, aku awalnya merasa berat, dengan perjodohan ini. Karena aku masih ingin bersama dengan putriku. Tapi seperti kata orang-orang, anak perempuan tidak terasa ketika sudah dewasa dan menjadi putri orang lain." Mei sudah merasakan genangan air di pelupuk matanya dan tentu jika pendeta Ming melanjutkan ucapannya, ia akan menangis.


"Jika putriku masih melakukan kesalahan, aku minta kau membimbingnya. Dia pasti akan belajar dengan cepat, dan yang terpenting.... Jika kau tidak menginginkannya lagi, maka..... Kembalikan dia padaku dengan baik."

__ADS_1


"Baba!" Mei akhirnya menangis juga dan memeluk tubuh pria yang menjadi ayahnya itu, sungguh Mei merasa sedih karena berpisah dengan sosok yang menyayangi dirinya tanpa melihat siapa dia.


"Sekian lama kita bersama, kau akhirnya menangis juga. Putriku sudah besar, kau sudah menjadi seorang istri dan akan menjadi panutan bagi rakyat nantinya. Baba harap, dengan Siu bersama mu kau tidak akan merasa kesepian." Mei mengangguk saja sambil melihat Siu yang tak jauh darinya.


"Ayah tidak perlu khawatir, aku tidak akan membiarkan ada air mata di pipinya lagi. Aku akan membuat ia selalu tersenyum, dan aku tidak akan ada pernah mengembalikan Mei pada Ayah. Kecuali mengunjungi ayah disana. Ayah jangan khawatir, aku akan menjaga Mei, menyayanginya dan ia tidak akan kekurangan apapun disini." Lee ikut memberikan pelukan untuk istrinya.


"Baba harus menjaga kesehatan disana, jangan tidur larut malam, dan sering bertukar pesan denganku. Baba harus ingat itu, kalau tidak. Aku akan kesana, baba tau itu kan." Pendeta Ming mengangguk saja mendengar ucapan putrinya.


"Tentu, Mei juga." Ditengah adegan haru itu, tentu ada yang merasa jengah.


"Astaga, entah kapan berlalunya tangis menangis ini."


"Iya, ternyata dia tidak memiliki ketegasan seperti bangsawan. Mudah sekali menangis."


"Tentu saja, dia dibesarkan di tengah hutan, bersama hewan liar. Berbeda dengan istana yang penuh tata krama dan pendidikan yang hebat."


"Kita lihat saja nantinya, bukankah ada pesta untuk merayakan pernikahan ini. Ada banyak tamu yang diundang oleh raja dan berasal dari wilayah berbeda. Kita lihat wanita itu, bagaimana dia menghadapinya." Ketiganya saling bertatapan dan tersenyum bersamaan.


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2