Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Metode Baru


__ADS_3

Sepertinya beberapa menit berlalu, tapi sosok tampan itu tidak mengerti juga hari melakukan apa pada sepiring makanan itu. "Panglima Xiong!" Panggil seseorang membuat dirinya tersadar.


"Ya?" Tanya Xiong pada seorang pria yang merupakan salah satu prajurit.


"Maaf panglima, tapi.... Makanannya bisa jatuh kalau dipegang begitu." Xiong langsing memperbaiki posisi makanannya yang sudah miring beberapa derajat itu.


"Apa ada masalah dengan makanannya panglima? Kenapa belum dimakan juga." Entah mengapa pertanyaan prajurit itu membuat Xiong merasa bingung.


"Maksudnya?"


"Maksudnya.... Jujur saja saat makan malam tadi aku sudah kehabisan ikan bakar dengan bumbu pedas itu. Jadi aku merasa bingung kenapa panglima mendapatkan nya, bukan maksudku lain, tapi terasa aneh saja. Seperti ada seseorang yang sengaja menyisakan nya, untuk panglima. Sayang kalau belum dimakan."


"Kembalilah ke tempat mu! Tidak boleh makan terlalu banyak! Dasar!"


"Iya panglima." Setelah kepergian prajurit itu, Xiong menatap makanan yang begitu lengkap di tangannya.


"Apa Siu sengaja menyisakannya untuk ku?" Tanya Xiong pada dirinya sendiri.


Entah mengapa, beriringan dengan maniknya yang menatap sepiring makanan itu bibir nya bukannya mengunyah malah tersenyum. "Ikan bakar."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Jangan dipikir waktu malam akan segera berakhir, satu sesi pertempuran terlihat sudah selesai. Tapi sesi berikutnya tentu akan berlanjut, sepasang suami istri itu terlihat saling berpelukan mesra tanpa penutup apapun yang melekat pada kulit mereka berdua.


Tetesan keringat begitu kentara terlihat, hanya senyuman yang mereka lontarkan satu sama lainnya. "Apa anak kita suka?" Lee bertanya sambil mengelus perut istrinya.


"Tentu, dia sangat senang dikunjungi oleh ayahnya. Kau tidak lihat penyambutan nya?" Balas Mei sambil bermain dengan sebidang kekar itu dengan senang.


"Penyambutan yang luar biasa, aku bahkan tidak mampu pulang." Mei hanya tersenyum sambil mengambil tangan Lee dan menautkan kedua tangan mereka.


"Gelangnya terlihat indah ketika malam hari dan disinari oleh rembulan. Bukan begitu?"


"Ya, sangat indah. Kau juga." Mei mengangkat lehernya sedikit karena mendapatkan serangan disana.


"Hasil kerja keras ku juga indah. Lihatlah, begitu banyak tersebar dengan pola nya sendiri. Itu membuat dirimu lebih tampan." Lee tentu tau hasil kerja keras istrinya yang juga ia lakukan.


"Siapapun yang melihat tentu akan tau, betapa beringasnya istri sang pangeran."


"Dan jika mereka melihat ku, mereka akan berpikir yang sama." Wajah Lee tampak berubah setelah mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


"Tidak ada yang boleh melihatnya! Apa yang ada padamu adalah milikku. Hanya rambut dan tangan serta kaki mu yang orang lain lihat. Aku tidak suka." Lee menenggelamkan wajahnya ke sepasang bongkahan padat kencang itu.


Baru sejenak Lee merasakan betapa empuknya sepasang bulatan itu langsung hilang, karena Mei terlihat bangkit menuju salah satu meja dari ranjang mereka. "Ada apa sayang?" Tanya Lee yang melihat istrinya tampak mengambil sesuatu.


"Apa itu?" Manik Lee melihat gulungan kertas di tangan istrinya yang kembali menuju ranjang.


"Pelajaran. Aku akan mengajarkan mu sesuatu sayang, dan kita mulai...." Mei membuka gulungan kertas itu dan Lee dapat melihat dengan jelas isinya.


"Ini....."


"Baba mengambilnya di perpustakaan, apa ayah sudah memberikan nya?" Tanya Mei kembali mendudukkan bongkahan belakang nya.


"Belum, aku tidak tau." Mei mengangguk saja mendengar jawaban Lee.


"Baiklah suamiku, sekarang kita mulai pelajaran nya. Perhatikan dengan baik! Telinga ini.... Mata ini.... Dan pikiran ini.... Mulai bekerja." Mei bukan hanya menyentuh tapi juga bermain sedikit disana membuat Lee memejamkan matanya.


"Semua yang kau tunjuk sudah penuh akan dirimu dan anak kita." Jawab Lee sambel merengkuh tubuh istrinya yang tadinya diberi jarak.


"Kalau begitu tambah persenan nya, karena pelajaran ini... Jika berhasil suamiku ini pahami maka akan dapatkan hadiah." Mendengar kata hadiah membuat senyuman Lee terkembang.


"Apa hadiahnya? Kalau tidak menarik aku tidak mau." Lee seperti anak-anak yang mencoba kompromi.


"Lee...."


"Sungguh?" Tanya Lee memastikan dengan tangan yang belum lepas dari satu tombol power itu.


"Ya sayang, tapi kalau gagal... Jangan harap!"


"Jangan ragukan diriku sayang! Aku sering mendapatkan pujian karena unggul dalam pelajaran."


"Kalau begitu buktikan." Di atas ranjang besar itu, Mei mengeluarkan sisi pengajar nya dengan Lee muridnya.


Pelajaran yang hanya dan khusus dilakukan oleh suami istri saja, karena dilihat dari tutorial nya sangat tidak ramah dan baik bagi pasangan yang belum memiliki ikatan.


Sepanjang Mei menjelaskan, Lee mendengar dengan baik, sungguh seperti siswa teladan. "Ada yang mau ditanyakan?" Mei sepertinya selesai dengan materi pertama.


"Tidak, lanjutkan guruku yang cantik!"


"Murid nakal!" Ujar Mei yang membuat Lee tertawa kecil.

__ADS_1


Mei mengambil beberapa kertas dan kembali menjelaskan, sungguh di mata Lee istrinya luar biasa dan tampak lebih menggoda dengan adegan seperti ini.


"Baiklah, sekarang jelaskan kembali. Dengan tepat dan benar!" Jelas Mei diujung kalimatnya.


"Tentu guruku tersayang." Mei memberikan materi tadi kepada suaminya dan ia berbaring sehingga perutnya terlihat membuncit jika posisi seperti itu.


Sedangkan Lee memulai presentasi nya kembali atas materi yang sudah diberikan kepadanya. Meskipun telinga Mei mendengar dengan baik, tapi matanya justru fokus pada arah yang lain. Pedang sakti mandraguna suaminya itu tampak bangun.


"Jadi.... Bagaimana guru?" Tidak tau kapan Lee sudah berada di hadapannya dan begitu dekat.


Mei menyingkirkan kertas yang berada di satu tangan Lee dan bertanya seperti ujian saat ini.


"Jelaskan arti warna serta gambar nya!" Lee menjawab seperti aliran air yang sangat lancar meskipun maniknya tengah saling menatap dengan istrinya.


"Jadi guruku, bagaimana jawaban ku... Serta nilainya?"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sama-sama tanpa sang istri. Pendeta Ming serta raja dan tengah duduk meskipun sy larut malam. "Aku tidak menduga, kau terlebih dahulu memberikan kepada Lee."


"Aku hanya melihatnya raja, dan terlihat raja juga sedang sibuk. Aku ingin membantu sedikit." Jawab pendeta Ming.


"Ya, musuh selalu saja datang tanpa diduga-duga. Sungguh, aku merasa yang ini sangat lain. Tapi aku sudah mengirimkan jenderal hebat istana kita sebelum Lee kesana. Aku harap sudah berhasil ditangani." Raja menjawab dengan maniknya menatap langit.


"Tentu raja, sehebat apapun musuh. Kita jauh lebih hebat. Semuanya akan berjalan menuju kemenangan meksipun dengan jalan yang berbeda." Raja mengangguk mendengar ucapan besan nya.


"Aku akan mengajarkan pada Lee terlebih dahulu...."


"Itu tidak perlu raja, karena Mei sudah melakukan nya."


"Sungguh?" Raja tampak tak percaya, bukan karena meragukan.


"Iya raja, dan kita bisa tunggu hasilnya besok."


"Tentu, aku juga penasaran bagaimana hasilnya."


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2