Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Putri Khayalan


__ADS_3

Sepanjang jalan yang dihiasi rumput nan lembut bak lapangan bola itu, manik itu terus menatap hingga apa yang diinginkannya tiba. Sedangkan gadis dibelakangnya terlihat mengambil beberapa bunga dengan berbagai ukuran serta warna yang akan ia daratkan di pendaratan hitam lembut, panjang, harum, bersinar dan tebal itu.


"Semuanya sudah siap kan Siu?" Tanya Tania sambil matanya terus menatap ke depan.


"Iya Nona semuanya sudah siap." Dengan pelan, Siu menyusun bunga itu di rambut indah Tania tanpa disadari oleh sang pemiliknya.


"Kau juga tidak sabaran Mong? Baba sebentar lagi akan tiba." Mong tampak senang dengan elusan yang diterimanya dari tangan Tania.


Beberapa kali harimau kecil itu mendusel dan berbaring manja di paha Tania. "Aku penasaran apa yang dilakukan baba di kota."


"Mungkin sesuatu hal Nona, karena baba pendeta. Dan ngomong-ngomong mengenai kota, karena anak itu kita kehilangan token kita." Meksipun nada kesal sudah dikeluarkan Siu tapi tangannya tetap bekerja dengan baik.


"Iya, aku jadi kaget. Disini mereka menggunakan anak-anak untuk hal tidak baik. Kalau aku yang jadi ibunya, sudah habis dia."


"Sebelum jadi ibu, Nona harus menikah dulu kan? Benar kan Mong?" Tania tau gadis itu menggodanya.


"Suamiku harus berbeda dari yang lainnya. Dan tentunya harus memiliki kriteria yang aku inginkan."


"Contohnya seperti apa nona? Aku sangat penasaran, kau juga kan Mong?" Sekarang harimau kecil itu tampak seperti ibu-ibu yang ikut gosip sambil menunggu tukang sayur.


"Matanya harus tajam seperti pedang, tangannya harus kuat mengangkat diriku kemanapun aku mau. Bibirnya harus bisa diam ketika aku ingin, wajahnya harus siap ditutupi, langkahnya harus ringan untuk kemanapun, bukan hanya itu bagian darinya harus memiliki nilai tersendiri."


"Kalau tidak ada bagaimana Nona?"


"Kalau tidak ada, maka aku akan ada di kehidupan berikutnya. Kenapa harus pusing?"


"Apa Nona tidak ingin seperti kalangan bangsawan?"


"Dari kalangan manapun tidak masalah, asal memiliki kualitas yang aku inginkan."


"Bagaimana jika dari kerajaan ini Nona? Siapa yang tau..."


"Sudah! Kau terlalu banyak bicara akhir-akhir ini. Bagaimana kalau ambilkan minuman segar untuk ku."


"Baik Nona, aku juga mau."


"Ya, terserah kau saja." Sambil meletakkan keranjang yang berisi bunga beberapa helai lagi, Siu langsung ke dapur mengambil minuman yang menyegarkan nan telah mereka siapkan.


"Mong, kau sudah tidur saja? Dasar... Sesama kucing kalian sama saja." Harimau kecil itu tampak tidak peduli, ia lebih melanjutkan tidurnya sambil menerima elusan lembut di tubuhnya.


"Tempat ini sungguh indah, aku jadi tidak mau pulang kalau begini. Kalau dipikir-pikir ranjang mawar, harus bagaimana caranya? Apa aku tanya baba? Apa itu tidak masalah, mengingat itu sedikit...." Tania tampak berpikir untuk langkah berikutnya.


"Baba!" Panggil Tania yang melihat kedatangan pria itu ke arahnya.


Tania langsung bangkit dari tempat duduknya dan begitu juga dengan Mong yang ikut bangun karena pergerakan tempat tidurnya.


Dari segi penglihatan baba, ia melihat Tania seperti putrinya yang menunggu kepulangannya dan setelah melihat kedatangannya, maka senyuman akan tercetak di wajahnya dan kakinya akan segera berlari sambil berujar "Ayah!"


"Sama, tapi berbeda." Ujarnya melihat Tania yang menuju dirinya dengan sebuah dupa di tangannya.


"Apa ini?" Tanya baba.


Tania tidak menjawab, baba membiarkan apa yang dilakukan oleh gadis yang ia anggap seperti putrinya itu. Tania tampak memutar ke kanan dan kiri sambil asap dari dupa itu mengudara. "Selamat datang kembali, aku senang baba dalam keadaan sehat. Semuanya baik-baik saja bukan? Baba tidak mengalami luka kan?"


Tampak Tania mengkhawatirkan kondisi pria yang seperti ayahnya itu. "Jika ada doa darimu, apa yang akan menimpa ku?" Senyum di wajah Tania terkembang dan membuat baba juga tersenyum senang.

__ADS_1


"Sekarang bertepatan dengan asap yang mengudara dan menghilang ini, maka sesuatu buruk yang mengikuti baba akan hilang juga." Tania mengesampingkan dupa itu sambil merasakan duselan Mong kepadanya dengan gerakan acak.


"Ayo baba, aku sudah membuatkan sesuatu yang tidak akan baba duga." Dengan perlahan baba mengikuti langkah Tania di depannya memasuki kediaman mereka. Dari samping dan belakang tampak Mong juga mengikuti tuannya dengan jalan sempoyongan karena masih mengantuk.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Meja yang biasanya berisi sedikit menu sekarang terlihat hampir semuanya diisi. Dengan semangat 45, Siu dan Tania menyajikan makanan yang mereka buat di meja itu. "Kalian berdua membuat nya?" Tanya baba sambil melihat sajian dihadapannya.


"Iya, baba mau coba yang mana dulu?" Tanya Tania sambil bersiap dengan sumpit nya.


"Yang ini saja, baba tidak bisa menghabiskan semuanya. Dan kalian juga bukan?"


"Baba tenang saja, aku akan memberikan kepada yang lainnya."


"Lainnya?"


"Aku yakin ada tetangga bukan, atau setidaknya desa dekat sini."


"Itu ide yang bagus, tapi cara membagikannya bukan secara langsung."


"Lalu?" Tanya Siu sambil kunyahan di mulutnya sudah hampir selesai.


"Karena tempat baba tersembunyi bukan? Aku yakin jika ada jalan kesini maka hanya bisa dilihat dengan mata batin." Jawab Tania sambil terkekeh kecil.


"Benar, dari pemikiranmu cara bicara mu dan tindakan mu, aku yakin kau bukan kalangan biasa." Siu dan Tania mendadak jadi hening karena penuturan baba.


"Aku ...."


"Dan juga lukamu langsung hilang tanpa bekas. Selama aku pergi, aku tidak menyediakan obat atau ramuan apapun untuk kalian." Baik, sekarang Tania sepertinya tidak akan berbohong untuk itu. Sepertinya karena baru beberapa hari membuat dirinya tidak sadar dimana dan dengan siapa dia saat ini.


"Ayahmu, petani? Atau lebih dari itu?"


"Bisa dibilang ayahku, seorang guru di sana."


"Kau pergi ketempat yang jauh, hanya didampingi oleh seorang gadis. Aku yakin ayahmu tidak akan mengizinkan nya, kecuali..."


"Ayahku tiada saat aku berusia 17 tahun. Aku pergi ke kota tempat aku dibesarkan dan melanjutkan perjalanan ku dengan pencarian yang aku inginkan." Tania berharap baba tidak akan bertanya lebih lanjut lagi, itu bisa membuat dirinya menceritakan segalanya dan Siu turut khawatir akan hal ini.


"Baiklah. Jadi namamu?"


"Meysa, namaku Meysa." Siu yang mendengar nama yang diucapkan nona nya tentu saja kaget tapi gadis itu berpikiran mungkin agar mereka tidak dikenali terutama nona nya.


"Nama yang indah."


"Terimakasih baba. Ayo, kita lanjutkan makanan nya." Terlihat baba kembali menikmati sajian dihadapannya.


'Maaf baba, aku tau kau orang yang baik. Tapi aku saat ini belum bisa menceritakan segalanya.'


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Meskipun siang hari ini terasa panas karena matahari berkuasa dengan sinar terang nya, tapi tidak membuat kulit itu menjadi panas, karena suasana tempat kediaman baru nya. Tania duduk dekat tepi sungai sambil ditemani oleh Siu. Tampak mereka berbincang-bincang melanjutkan pembicaraan tadi yang sempat tertunda.


"Nona sekarang bagaimana kita akan ke kota? Tidak punya token karena itu. Dan juga kita akan disini beberapa waktu, Nona belajar kan? Nona..... Bolehkah aku tidak ikut?" Manik Tania langsung menghunus Siu yang membuat gadis itu menelan ludahnya.


"Nona, aku tidak suka dengan pelajaran seperti ini. Aku lebih suka belajar ilmu bela diri, dan aku sudah bisa. Aku rasa cukup Nona saja yang belajar agar nona ku ini semakin hebat." Setidaknya penuturan nya membuat hunusan itu berpaling darinya.

__ADS_1


"Siu menurut mu bagaimana dengan baba?" Siu menatap nona nya sebentar sebelum menjawab.


"Kebetulan sekali nona bertanya, menurut ku baba sangat baik. Ia seperti seorang Ayah yang memperlakukan kita seperti anaknya. Jika boleh, aku ingin disini menemani nya, jujur saja nona. Aku kehilangan kedua orang tua ku saat aku masih kecil. Setelah itu aku tinggal bersama para penjual budak, meksipun mereka memberikan ku tempat tinggal dan makanan tetap saja rasanya sangat lain.


Semuanya menatap ku sebagai pelayan, bukan sepertinya manusia. Tapi ketika bertemu Nona, Nona memperlakukan ku dengan baik, aku merasa seperti mendapatkan keluarga baru sebagai kakak perempuan. Dan sekarang seorang ayah, sebelumnya aku sempat mendengar percakapan baba dengan putrinya." Kening Tania tentu mengerut mendengar ucapan Siu.


"Maksudnya? Ada putri yang lain?"


"Bukan Nona, tapi di ruangan yang sepertinya kamar putrinya. Aku tidak masuk, aku hanya mendengar saja. Baba bilang ia merasa tidak sendiri lagi disini, seperti saat bersama putrinya. Tapi tak lama ia bicara setelah pelajaran nona selesai, ia akan kesepian lagi."


"Aku senang dianggap seperti putrinya Siu. Hanya saja, aku tidak bisa dalam bayang-bayang orang lain, aku tidak bisa seperti itu...."


"Jadi kau berpikir begitu?" Keduanya langsung menoleh dan terlihat baba dibelakang mereka dengan mengendong Mong.


"Baba..."


"Aku tidak pernah mengatakan kau seperti putriku. Tapi aku merasa memiliki putri yang lain, seorang ayah bisa memiliki seorang putri lebih dari satu bukan? Sama seperti seorang anak yang memiliki ayah yang lebih dari satu meskipun tidak adil ikatan darah. Jujur saja, saat pertemuan kedua aku merasa memiliki putri yang lain. Kau berbanding terbalik dengan putriku Meysa, kalian berdua sangat berbeda. Sisi mana yang bisa membuat kalian disamakan?"


"Kau memiliki banyak hal yang tidak dimiliki oleh putriku. Jika saja aku dan putriku memiliki kepekaan yang lebih baik, mungkin putriku tidak akan pergi karena racun yang berkamuflase seperti madu."


"Baba bukan ayah yang buruk. Jangan berpikir begitu."


"Jadi... Apakah kau masih memiliki keraguan akan itu?" Ditengah percakapan itu, seekor burung terbang menghampiri mereka membuat baba mengambil surat yang terikat di kakinya.


"Pesan dari istana." Tania dan Siu saling berpandangan sambil menunggu baba membaca surat.


"Apa baba akan pergi lagi?"


"Ini hanya surat untuk datang menghadiri festival tahunan." Sedikit kata terbaca oleh Tania.


'Kenapa ada anak perempuan?' Baba terlihat meninggalkan mereka dan pergi dengan surat itu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Menjelang malam, Tania mendengar suara auman Mong yang tengah berada di luar. "Mong ada apa? Kau tau baba sedang berdoa kan?" Tania mendekat harimau kecil itu yang tampak marah.


"Kenapa kau melihat kesana?" Hari yang sudah mulai gelap membuat Tania mengambil penerangan dan juga melangkah karena Mong secepat kilat kesana.


"Mong! Tunggu dulu!" Tania turut mempercepat langkahnya, mereka berlari cukup jauh dari kediaman mereka dan ketika disana ia melihat pemandangan yang buruk.


"Astaga..... Siapa yang melakukannya?"


"Nona.... Aghhh!" Siu berteriak ketakutan tapi Tania segera menutup mulutnya agar tidak menganggu baba.


Mong tampak mendusel ke arah bangkai yang berada di tanah itu. Seekor bangkai harimau kecil bewarna putih berada di hadapan mereka. "Nona ini.... Lebih baik kita menguburkannya."


"Tunggu!" Tania melihat sesuatu di kaki putih itu.


Sebuah surat yang berlumuran darah menghiasi kertas itu. "Surat ini aku yakin sudah sampai padamu bukan Ming? Jika tidak ingin makhluk lainnya bernasib sama seperti ini, maka lebih baik kau tetap bersembunyi bersama putri khayalan mu itu."


Tania meremas surat itu hingga tak berbentuk. "Putri khayalan? Sepertinya ada yang ingin bermain dengan keluarga baruku. Aku tidak akan membiarkan nya, kau akan lihat putri khayalan lainnya ini datang dan justru membuat mu bersembunyi!" Siu langsung terlihat takut dengan ekspresi nona nya yang diiringi oleh angin yang cukup kencang menerpa mereka.


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2