Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Kamuflase


__ADS_3

Dirasa tubuhnya sudah bersih, Lee segera meninggalkan paviliun dan meninggalkan istrinya yang tengah tertidur pulas saat ini. Jika di zaman modern, jam masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Hanya beberapa jam dari angka mereka memejamkan mata mereka.


Lee memastikan jendela ditutup dan melihat istrinya sebelum melenggang pergi. Mei tampak tidak terganggu apapun, ia begitu pulas meksipun tanpa dekapan suaminya yang biasanya ia dapatkan.


"Tidur yang pulas sayang." Setelah memberikan kecupan manis di kening istrinya, Lee akhirnya pergi sedangkan Mei tersenyum dan mendekap erat guling yang ia pikir adalah suaminya.


Lentera yang menyala bak tak padam di sepanjang perjalanan Lee menuju ruang rapat membuat prajurit yang bertugas menundukkan kepala mereka.


Mereka tentu bertanya-tanya ada gerangan apa yang membuat pangeran mereka di jam seperti ini berjalan seperti itu.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Raja terlihat bicara dengan wajah yang kesal karena apa yang seharusnya menjadi rahasia bisa tersebar dan membuat hal buruk bagi kerajaannya. "Bagaimana bisa hal ini bisa tersebar? Para pemberontak itu mengetahui semuanya? Apa ini! Jawab! Semuanya hening seketika melihat amukan raja.


Sedangkan raja menatap semuanya dengan lekat sambil mengambil napas untuk dadanya yang terasa sesak. "Raja, kami tidak melakukan apapun. Sungguh, kami tidak bicarakan ini kepada siapapun." Jawab salah satu menteri.


"Kalau begitu, angin mana yang berhembus membawa kabar ini?" Terdengar nada sindiran dari kalimat itu.


Semuanya mengutarakan pendapat mereka, sidang dadakan itu sungguh terasa panas di tengah udara yang dingin. Dari banyaknya kalimat yang diungkapkan ada sebuah bibir yang tetap bungkam dan memainkan matanya melihat debat itu.


Ditengah adu debat itu, pintu terbuka membuat semuanya melihat bersamaan dan juga memancing amarah raja. "Siapa yang berani masuk melanggar titah ku!" Ketika raja memalingkan wajahnya ke pintu ia melihat putranya yang membuat dirinya cukup kaget.


"Lee....."


"Salam pangeran." Semuanya memberikan salam melihat kedatangan putra raja itu.


"Ayah...." Raja tentu tau apa maksud kedatangan putranya, dilihat dari jarak yang tak jauh dari posisi putranya dapat terlihat sosok Xiong yang dipastikannya membawa kabar itu.


Raja hanya mampu menghela nafasnya melihat apa yang ia sembunyikan ketahuan juga."Masuklah." Hanya itu yang bisa dikatakan oleh raja melihat putranya yang sudah berada di batas saat ini.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Tampaknya sepasang mata itu mulai bergerak dan tak lama membuka bersamaan. Netra indah itu melihat perlahan melihat sekeliling dan dirinya langsung terbangun ketika tidak melihat sosok yang dicarinya. "Sayang?" Panggilan Mei yang tidak melihat sosok suaminya.


Mei mengambil pakaiannya yang terletak di salah satu kursi kecil nan lembut dan segera memakainya. Beberapa putaran Mei lakukan mencari keberadaan suaminya, dan juga memanggil nama Lee, tapi tampaknya suaminya itu memang tidak berada di sana.

__ADS_1


"Kemana dia?" Mei tentu merasa ada yang aneh, karena langit yang masih terlihat gelap, ditambah di ruang ganti yang dipastikan suaminya membersihkan diri terlebih dahulu.


"Siu!" Mei mengeluarkan kepalanya dan suaranya langsung terdengar membuat prajurit yang tak jauh dari sana segera memanggil pelayan setia istri pangeran mereka.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Ketika Siu datang, maniknya melihat tuan putrinya duduk dengan rambut yang masih basah. "Putri, ada apa? Putri butuh sesuatu?" Tanya Siu.


Mei tak lama mengangkat wajahnya dan menatap lurus Siu yang sejajar dengannya. "Dimana pangeran? Aku tau kau mengetahuinya." Mei langsung menembak saja, tanpa perlu salam pembuka atau pertanyaan basa-basi.


"Itu putri...." Tidak tau ada angin atau suhu apa membuat Siu merasa berhenti sejenak ditambah memegang kepalanya.


"Siu..."


"Baik putri! Pangeran bersama raja dan yang lainnya di ruang pertemuan!" Daripada junjungannya pergi, Siu lebih memilih mengatakan sebelum kakinya Mei melangkah keluar.


"Pertemuan? Ada apa? Sesuatu yang penting tengah datang bukan? Tebak Mei yang membuat Siu diambang kebingungan.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Meksipun yang lainnya sudah pergi, tapi tampaknya sepasang Ayah dan anak itu terlihat masih berbincang serius. "Aku bersungguh-sungguh Ayah." Lee tampaknya mengulangi kalimat itu beberapa kali.


"Aku bisa tidur nyenyak setelah semuanya selesai ayah. Sepertinya ada pengkhianat diantara kita. Tidak mungkin, informasi ini bisa bocor Ayah." Raja mengangguk menyetujui ucapan putranya.


"Benar, tapi ayah tidak tau siapa. Kau tau?" Tanya raja menatap putranya.


"Tidak bisa secepat itu Ayah, tapi jika dibiarkan ini tidak baik. Aku juga merasa pembicaraan kita tadi juga didengar dan bisa disampaikan kembali kepada pemberontak itu."


"Mungkin ayah belum tau orangnya. Tapi untuk itu, Ayah bisa mengatasinya." Lee tampak menunggu ucapan ayahnya.


"Ayah hanya bisa menduga, tapi belum tau alasan dibalik ini jika benar. Tapi percayalah, hasil rapat kita tadinya bukanlah yang sebenarnya."


"Maksud ayah?" Raja tersenyum menatap putranya dan mendekati putranya.


"Karena itu ayah katakan, kamu lebih baik pergi besok. Pengkhianat itu tentu akan menyampaikan bahwa kau akan pergi hari ini dengan rute yang telah kita bicarakan. Tapi nyatanya...."

__ADS_1


"Tidak!" Jawab Lee.


"Tepat sekali. Lagipula sebelum kau pergi, ayah tentu harus mengetes pengetahuan mu yang telah diajarkan oleh Mei." Lee menjadi tersenyum dengan pipi merona membuat ayahnya tersenyum menggoda putranya.


"Ada apa? Kau menjadi ceri. Apa ada sesuatu saat pelajaran?" Tanya ayahnya membuat ingatan Lee melalang buana.


"Aku sudah paham Ayah." Jawab Lee setelahnya menepis pikirannya tentang kejadian semalam.


"Sungguh? Kalau begitu, pangeran ini tidak keberatan diuji bukan?"


"Tentu saja raja." Raja tampak mengambil beberapa lembaran dan Lee duduk persis saat ia dites oleh ayahnya selama menempuh pendidikan.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Berlomba dengan matahari yang akan datang, seorang pria yang memacu kudanya terlihat begitu kencang. Seolah ditangannya terdapat sebuah benda yang berharga yang harus diberikan segera.


Melewati hutan yang terlihat tenang dan gelap karena belum disapa matahari membuat jalanan ikut mencekam dan sesekali disapa burung yang berterbangan.


Hingga berjalan cukup lama, akhirnya ia sampai dan terlihat disambut oleh seseorang. "Jadi kabar apa?" Tanya seorang pria bermanik nyalang seperti ular.


"Kabar baik, dan aku harap mendapatkan harga yang sesuai kali ini."


"Begitu? Kabar apa yang kau bawa, sehingga kami akan membayar mu dengan mahal."


"Kabar perlintasan yang akan dilalui oleh putra raja, pangeran Lee. Ini adalah informasi rahasia, yang sangat terpercaya. Hanya diketahui oleh para kepercayaan raja." Tak lama pemilik manik ular itu tertawa menghiasi heningnya hutan.


"Dan kau salah satunya, tapi sangat disayangkan rupanya serigala berbahaya."


"Ya, aku harus berkamuflase untuk masuk ke dalam kumpulan para domba."


"Baiklah, katakan segera! Aku harus beritahukan pada tuan!"


"Tentu!" Mata sang pengkhianat itu menjadi berbinar melihat sekumpulan emas di depannya.


"Sangat disayangkan, demi beberapa emas, mereka rela menjadi pengkhianat. Tapi itu adalah keuntungan bagi tuan, ini adalah informasi yang berharga. Tuan pasti sangat senang, lagipula selama pengkhianat itu memberikan informasi itu adalah hal yang penting, beberapa emas tidak masalah." Pria bermanik ular itu menghilang secepat kilat sambil tersenyum menatap kepergian pria berkuda itu.

__ADS_1


Bersambung.......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2