Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Malam Dengan Kejutan


__ADS_3

Lee dapat melihat dengan jelas, apa yang begitu kentara pada jalan yang dilewatinya. Bahkan sebelumnya tidak ada lentera yang dinyalakan sepanjang pintu masuk villa hingga ke dalam. Bahkan, sebelumnya tidak ada tambahan bunga yang sengaja disebarkan seperti bantuan yang diserbu oleh orang-orang.


"Ada apa ini?" Meskipun tau siapa pelakunya, tapi Lee terus melangkah masuk hingga sampai di depan pintu yang memperlihatkan senyuman manis dengan wajah yang tak kalah bersinarnya bersama lentera yang menyala.


"Selamat datang, suamiku." Mei berdirinya menunggu langkah Lee mendekat ke arah nya.


"Jadi... Mengenai apa? Semuanya ini...."


"Tidak ada yang khusus, tapi aku ingin melakukannya saja. Apa itu masalah?" Tanya Mei dengan senyum yang masih melekat di wajahnya.


"Tidak ada, aku suka. Cahaya ini membuat dirimu semakin berkilau di mata ku." Mei menyambut dekapan di pinggangnya dan manik mereka saling menatap lekat.


"Sungguh?" Tanya Mei dengan kedua tangannya berada di leher suaminya.


"Sangat." Sejenak keduanya tidak berkata-kata apapun. Hembusan angin di malam itu menyapa kulit mereka dengan suhu yang normal seperti biasanya.


"Kau memakai lulur ku semuanya?" Mei yang mencium aroma tubuh suaminya langsung menanyakan perihal lulur mandi itu.


"Kenapa? Sangat wangi kan?" Jawab Lee dengan senyuman yang tak kalah mempesona.


"Sayang.... Itu untuk satu minggu, kenapa dihabiskan?"


"Aku sangat suka aromanya, jadi aku pakai. Lagipula, jangankan sekotak lulur. Aku akan membuat segudang lulur untuk itu." Lee mengeluarkan cara bicara mengenai posisinya.


"Bukan begitu, aku buat khusus untuk mu sayang. Itu aku buat sendiri, aku tidak suka suamiku memiliki aroma yang sama dengan orang lain. Aku tidak suka apapun di tubuh suamiku sama dengan orang lain."


"Aku tau, kita bisa buat bersama nanti. Mungkin kita buat juga lulur untuk anak kita juga nantinya."


"Ide yang bagus. Tapi kita harus menyelesaikan hal yang menganggu ketenangan kita dan seluruh istana."


"Tentu saja." Beralih dari pinggang, tangan Lee menjalar menuju perut yang mulai sedikit membuncit itu meskipun tidak terlihat dengan jelas, tapi dapat dirasakan.


"Kau tau, anak kita merindukan mu." Baik, Lee mengerti dengan jelas ucapan istrinya.


"Ibunya tidak?" Tanya Lee memancing istrinya.


"Menurut mu?" Mei kembali melemparkan pertanyaan membuat Lee mengadu hidung mereka berdua.


"Mmmm.... Bagaimana ya, mungkin....." Merasa gemas karena dipermainkan, Mei menangkap wajah itu agar tidak bergerak dan keduanya semakin menatap dengan intens.


"Jawab cepat! Jangan membuat ku kesal."


"Wajah mu cemberut seperti ini membuat diriku sangat suka, kau lebih terlihat cantik dengan itu." Mei masih belum menjawab, dan justru berbalik dan Lee harus ikut memutar tubuhnya lalu kembali mendekap istrinya.


"Kau tau jawabannya sayang, kenapa masih bertanya?"

__ADS_1


"Karena aku suka mendengar nya. Kenapa sangat sulit bagimu berkata iya, sayang."


"Bukan begitu.... Baiklah, aku juga ingin kita..." Daripada Lee mengeluarkan pendapatnya dan mungkin akan mengacaukan malam indah ini, Lee memilih menyelesaikan nya segera.


Tangan Lee menggenggam tangan istrinya dan Mei membalas genggaman itu. "Jadi kau tadi sengaja mempermainkan ku?" Mei tentu tau maksudnya.


"Aku hanya meminta mu sedikit bersabar saja." Satu tangan Mei bermain di area pinggang Lee dan juga paha.


"Dan sepertinya, pedangnya sudah mulai bereaksi." Mei dapat merasakan nya, hampir sebulan lebih mereka belum melakukannya. Tentu dia tau bagaimana suaminya ketika sudah terpancing, dan dia tidak akan membuat suaminya menunggu lebih lama lagi.


Daripada membuat Lee semakin menunggu, Mei memulai lebih dahulu. Mendapatkan sapaan yang pertama, Lee menyambut dengan antusias.


Bibir keduanya saling bertaut, bukan hanya sekedar menempel tapi juga sudah masuk dan menjelajah satu sama lain. Tangan keduanya juga sudah berkerja sebagaimana mestinya. Baik Lee dan Mei, perlahan apa yang menempel pada mereka perlahan terlepas sedikit demi sedikit.


Berpuasa sebulan lebih membuat Lee melepaskan dahaga nya, melihat area dimana dua bukit yang menantang itu membuat Lee menjadikan itu rute pemberhentiannya.


Merasakan sentuhan di area berharganya, Mei hanya bereaksi dengan mengitari kepala dan wajah Lee yang tengah bermain di sana. "Hanya perasaanku atau mereka semakin membesar sayang?" Lee bertanya di sela-sela pijitan nakalnya.


"Tentu saja mereka membesar sayang, seiring kehamilan ku. Mereka akan ikut membesar, kau tidak suka?" Tanya Mei yang mengeluarkan suara merdunya yang khas dah hanya terjadi di situasi ini.


"Sangat suka, mereka lebih cantik dan membuat ku gemas." Tiba-tiba saja, Lee sudah berubah posisi tangannya langsung terganti dengan bibirnya yang membuat Mei mengerang bukan main.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Entah apa yang berbeda dari malam ini, sepasang mata itu belum juga menutup. Bahkan lentera yang bertugas menerangi sudah hampir pensiun dan dibantu dengan rembulan. "Mei..... Nama yang bagus dan indah seperti rupa mu." Bukannya tidur, sepasang mata itu bertugas memandangi lukisan yang menampilkan seseorang di sana.


Ditengah asyik halu yang entah terwujud atau tidak, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. "Masuk!"


"Maaf menganggu tuan, tapi ini adalah laporan untuk desa yang akan kita kunjungi berikutnya." Seorang pria berpenampilan tak jauh sepertinya membuka beberapa lembar kertas dan memperlihatkannya.


"Bukan kita kunjungi, tapi kita kuasai! Kuasai! Itu baru benar!"


"Maaf tuan, maksudnya kita kuasai." Setelah memperbaiki kata bawahannya, pria itu tersenyum manis dan memalingkan maniknya dari lukisan itu.


"Bagus, cukup besar. Dan tentunya berharga. Ada berapa banyak penduduk di sana?"


"Sekitar empat puluh kepala keluarga tuan, lima belas anak-anak dan gadis."


"Penjagaan nya?"


"Itu sangat menguntungkan kita tuan, karena sesuai kedatangan kita. Desa itu tengah melakukan pesta pernikahan disana."


"Begitu rupanya, utusan istana akan memakan waktu untuk mengejar kita. Mari kita berikan kejutan kepada raja bahwa satu persatu desa dan wilayahnya akan kita kuasai. Dan setelah itu..... Kita masuk ke istana besar itu, dan ambil apa yang berharga disana."


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi. Selamat malam."

__ADS_1


"Selamat malam, bungaku." Pria yang dipanggil tuan itu justru memberikan ucapan selamat malam kepada lukisan yang bahkan tidak akan bisa bicara itu.


"Aku akan datang, tapi sebelum bertemu denganmu, aku harus menemui pria yang menganggu kita bukan?" Kecupan jauh ia berikan kepada lukisan di depannya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Setelah puas dengan dua tombol yang semakin berkembang dan padat membulat itu. Lee sudah melanjutkan penjelajahannya menuju gua yang akan ia kunjungi lagi.


"Sudah seperti aliran air hujan sayang. Anak kita pasti juga tidak sabar." Sambil merasakan jari telunjuknya basah, Lee menambah lukisan untuk istrinya di area leher.


"Ya, disini juga sudah semakin panas. Pedangnya sudah semakin panas, aku rasa dia sudah tidak sabar." Tangan Mei juga sibuk dengan memainkan senjata suaminya yang membuat Lee juga mengerang nikmat.


"Ayah datang sayang!" Dalam sekali dorongan. Lee sudah memasuki gua sempit itu dan maju mundur disana.


"Terus sayang, aku sangat suka.... Terus.... anak kita juga." Mei hanya bisa mengatakan itu sambil merasakan permainan suami yang dirindukannya. Keduanya tengah dalam posisi menyamping, Lee yang tengah asyik maju mundur juga memencet tombol menggemaskan itu.


Tinggalkan sepasang suami istri yang tengah membara itu, beralih pada gadis yang tengah duduk sambil mencuri pandang akan sesuatu. "Kemana dia? Kenapa tidak terlihat? Apa dia pakai jurus menghilang?" Gerutu Siu sendiri karena matanya lelah menatap.


"Kau cari siapa?"


"Tentu saja cari...." Siu langsung berhenti bicara ketika tau siapa yang mengajaknya bicara.


"Kau!" Melihat lawan bicaranya kaget, tentu Xiong juga kaget.


"Kenapa kau kaget? Apa wajahku seperti hantu? Aku tau aku ini tampan, tidak perlu melihat ku begitu."


"Enak saja, kau itu seperti hantu. Datang tiba-tiba, buat aku jantungan." Siu sungguh kaget dan masih mengelus dadanya.


"Kenapa kau ditengah malam disini? Kau cari apa? Putri saat ini..."


"Iya, aku tau. Aku tidak cari putri, aku tentu lebih tau darimu."


"Lalu cari siapa? Burung hantu?"


"Enak saja! Aku cari...." Siu segera mengerem bibirnya sebelum kelepasan.


"Cari apa? A..... Aku tau, kau menguping pangeran dan putri ya?"


"Enak saja! Aku jelas-jelas menunggu mu! Aahh!" Mei membengkap bibirnya secepat mungkin setelah keceplosan.


"Menunggu ku? Kenapa?" Tanya Xiong yang tidak peka juga.


"Kau belum makan! Cepat habiskan! Aku bisa terkena masalah karena mu!" Selepas memberikan sepiring makanan kepada Xiong, Siu melenggang pergi dengan secepat kilat. Dan sekarang giliran Xiong yang termangu dengan makanan di tangannya.


Bersambung.......

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2