
Pembicaraan semakin serius, Vanriel mendengarkan penuturan istrinya dengan seksama, sungguh bertolak belakang sekali.
"Bermain dengan baik, seperti mereka.... Contohnya, para wanita yang terbiasa dengan alat dapur serta yang lainnya kita gunakan untuk menyerang mereka, jika pria menggunakan senjata, maka wanita menggunakan bumbu serta air panas. Dan anak-anak menggunakan pasir serta batu tapi dengan rencana yang matang. Karena aku merasa sedikit khawatir, dengan waktu yang mungkin begitu singkat. Aku perlu kerjasama kita raja."
"Jangan khawatir, aku tidak akan mengulangi kebod0han itu lagi, mereka mengoyak kepercayaan ku dan menghisap kehidupan warga ku, jika ayah tau, ia akan kecewa. Aku tidak ingin rakyat kesusahan dan hidup dalam ketakutan." Vanriel memegang pedang nya yang begitu mengkilap bersiap menebas musuh.
Tania senang dengan semangat serta mata Vanriel yang akan sudah jernih begitu saja di dengan pikirannya. "Ya, tapi kita tidak boleh gegabah. Mereka licik, maka kita harus cerdik."
Hanya sejenak, Vanriel mengentikan tatapannya dan tak lama ia menyalakan sebuah obor dengan cairan yang dituangkan ke dalam api membuat Tania penasaran.
Tak lama dari kegelapan malam, terlihat sesuatu yang terbang mendekat dan hinggap di lengan Vanriel. "Burung hantu?" Beo Tania yang terlihat burung itu begitu senang bersama Vanriel.
"Dia pengantar pesan kita. Dia temanku, namanya Glo." Mata besar itu menatap Tania dari jarak dekat.
"Cantik bukan? Dia istriku." Bisik Vanriel ditengah situasi ini.
"Kalau begitu langsung saja, kita tidak punya banyak waktu, dan bisa saja mata yang lain melihat kita."
__ADS_1
"Jangan khawatir, dia istimewa. Dia bisa berkamuflase dengan keadaan nya sehingga mata siapapun tidak tau." Tak lama Vanriel mengikatkan surat di dalam gumpalan bulu itu dan tak lama Glo segera mengepakkan sayapnya.
"Sudah, kita fokus dengan warga desa sekarang, ratu."
"Iya, tapi.... Sejak tadi aku tidak melihat Yuri, kemana dia?"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Tiga mata mengawasi kedatangan seorang tuan putri yang menjadi boneka mereka. "Itu tuan, boneka baru kita." Dion dengan tangan yang terbalut luka menatap dengan tajam sosok Yuri.
"Rola...."
"Aku mencarimu sejak tadi. Kau kemana?" Tanya Yuri yang duduk karena kelelahan.
"Maaf tuan putri, tadi hamba sibuk di dapur."
"Lupakan itu! Katakan jika seorang pria yang meminumnya apa yang terjadi?" Tanya Yuri dengan segera.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Penantian yang dinanti oleh kedua orang itu akhirnya sampai juga. Vanriel langsung mencerca Yuri yang bahkan belum duduk. "Darimana saja? Kau menghilang tanpa kabar!"
"Aku hanya berkeliling saja." Jawab Yuri sambil mengeluarkan sesuatu.
"Oh ya Vanriel, ini aku menemukan buah ceri di sekitar desa, ini kesukaan mu. Ayo, makan." Buah merah mengkilap serta imut itu adalah kesukaan sang raja.
"Lain kali jangan menghilang sembarangan lagi Yuri, diluar berbahaya apa yang kita lihat bersih belum tentu sehat."
"Baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan berada di sekitar mu bahkan di ekor matamu. Tapi makan dulu ini, aku sudah bersusah payah mengambil nya." Yuri masih menyodorkan buah ceri itu dihadapan Vanriel.
Tania yang melihat itu telinganya ikut aktif mendengar sesuatu dari luar dan segera keluar sejenak.
Ditengah kegelapan malam, manik Tania berusaha ia tajam kan dengan mega pixel yang canggih. Hingga tatapan tertuju pada semak belukar yang cukup jauh dari tempat nya.
Bersambung.........
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.