Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Masa depan atau masa Lalu?


__ADS_3

Teriakan Nea langsung bergema ketika melihat sebuah serangan yang menyerang tubuh ayahnya yang membuat Dhow terpental. "Ayah!" Nea mencoba mendekati ayah nya yang yang tengah berusaha bangkit kembali.


"Harimau belang tiga?" Gumam Dhow menatap sosok hewan yang tumbuh besar dengan auman nya yang menggangu pendengaran.


"Mong?" Gumam Siu yang melihat harimau yang menjadi hewan imut perliharaan nya itu menjadi ukuran besar.


Mong kembali menyerang Dhow yang membuat sebuah kolam dari baskom emas langsung terbuang. "Harimau tidak berguna!" Dhow membalas serangan harimau itu yang membuat air mantra khusus nya terbuang cuma-cuma.


Ketika pertempuran terjadi antara hewan dan manusia itu, jenderal dan yang lainnya menyadari mereka bisa bergerak seperti biasa.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Mei perlahan-lahan memejamkan matanya, sembari merasakan cengkraman erat tangan suaminya yang menyapa kulit lengannya ditemani air mata yang mengalir di pelupuk matanya.


"Lee....." Hanya itu yang Mei gumamkan di bibirnya yang tampak terluka mengeluarkan aliran merah kental.


Di dalam tidurnya, Mei berada di tempat yang begitu jelas ia kenali. "Kau datang juga, aku yakin kau masih ingat. Bukan begitu?" Sebuah suara membuat manik Mei yang melihat sekeliling langsung tertuju pada seorang wanita.


"Kau!" Menyadari Mei mengenali dirinya, membuat wajah itu tersenyum kecil.


"Aku senang kau mengingatku."


"Kenapa kau disini?" Tanya Mei.


"Apakah salah? Ahh... Lupakan itu! Bagaimana dengan kehidupan mu? Apa kau tidak merindukan kehidupan mu yang sebelumnya? Kau terkenal, cantik dan juga kaya."

__ADS_1


"Apa maksudmu sebenarnya?" Mei memberikan tatapan selidik nya.


"Ah, Meysa. Aku yakin kau tau maksud ku dengan baik. Aku bertanya, apakah kau ingin kembali ke kehidupan mu sebelumnya?"


"Kenapa jiwamu ada disini Tania? Bukankah kau seharusnya...." Tania tertawa mendengar ucapan Mei padanya.


"Kita sama bukan? Kau masuk ke tubuhku dan mengantikan diriku. Sedangkan aku, bebas berkeliaran."


Tania berbicara sambil mengitari Mei di depannya "Kau terlihat begitu menikmati menjadi diriku di masa ini."


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya." Jawab Mei.


"Baiklah, aku hanya bertanya. Kalau kau bahagia dengan kehidupan dariku, aku tidak masalah. Aku hanya ingin tau, apa kau ingin kembali ke masa mu yang sebelumnya atau tidak? Ini kesempatan pertama dan juga terakhir mu Meysa. Setelah ini, jika kau mengambil keputusan.... Apapun itu, maka ini akan menjadi pertemuan terakhir kita. Kau pikir mudah aku bertemu denganmu? Bukankah kau dulunya menginginkan kembali ke kehidupan mu yang sebelumnya?"


"Sebelum menjawab, pikirkan terlebih dahulu. Apa yang kau alami di masa tempat mu berasal dan di masa tempat ku." Tania duduk di ranjang, dimana Meysa memulai petualangannya di masa kolosal ini.


"Aku akan tetap berada di masa ini. Aku akan menjadi seorang ibu, kau tau rasanya?" Meskipun di perut itu ada janinnya atau tidak, tapi Mei bercerita dengan senyuman.


"Meksipun mungkin kau sudah tiada sekarang? Atau janin itu telah tiada? Kau tidak mungkin lupa dengan apa yang menimpamu sehingga kita bertemu."


Mei memejamkan matanya, sembari tangannya mengepal erat. "Aku terima. Aku ingin tetap disini! Menjadi seorang istri, dan juga ibu dan wanita dengan identitas Mei. Aku ingin itu." Jawab Mei dengan tegas.


"Baiklah, kalau begitu. Sampai jumpa, semoga kau siap dengan pilihanmu." Tania perlahan memudar dan menjadi cahaya yang bersinar terang. Sehingga cahaya itu begitu menyilaukan mata Mei dan membuat manik Mei terpejam.


Setelah cahaya yang begitu menyilaukan itu hilang, manik yang terbuka perlahan itu menyesuaikan cahaya di tempat nya sekarang. "Eughhh." Sepenuhnya sepasang mata itu terbuka dan membuat Mei langsung tersadar.

__ADS_1


"Bayiku! Lee? Aku...."


"Sayang...."


"Baba!" Mei langsung memeluk tubuh baba nya yang terlihat di matanya dengan jelas.


"Putriku, syukurlah kau sudah sadar."


"Baba, aku sangat takut. Lee- dia.... Aku... Bayiku."


"Tenang sayang, Mei tenanglah."


"Semuanya baik-baik saja kan? Bayiku, suamiku, baba. Katakan sesuatu!"


"Iya baba akan katakan. Tenangkan dirimu dulu Mei. Kau sedang dalam pemulihan." Mei tersadar dan melihat dirinya yang tampak dilumuri oleh dedaunan herbal.


"Bayiku!" Mei langsung menyentuh perutnya yang dilumuri paling banyak diantara tubuhnya yang lain.


"Baba, bayiku...." sungguh perkataan Tania berkeliling di kepalanya.


'Aku akan tetap berada di masa ini. Aku akan menjadi seorang ibu, kau tau rasanya?' Meskipun di perut itu ada janinnya atau tidak, tapi Mei bercerita dengan senyuman.


'Meksipun mungkin kau sudah tiada sekarang? Atau janin itu telah tiada? Kau tidak mungkin lupa dengan apa yang menimpamu sehingga kita bertemu.'


Bersambung.......

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2