Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Sambaran Petir


__ADS_3

Makan malam itu tidak terasa makanan bagi Lee, tapi kurungan yang pendapat serta keinginannya saat ini. Semuanya terlihat menikmati makanan, tapi Lee tidak begitu. Makanan seolah hambar tidak ada rasa.


Beberapa saat kemudian....


Apa yang dijamukan sudah ludes dan satu persatu dibawa kembali oleh pelayan. "Pangeran tau, aku tadi merasa khawatir karena pangeran tidak terlihat. Ditambah dengan pedang pangeran yang jatuh begitu saja." Akhirnya Mola yang sejak tadi diam akhirnya bicara juga, tapi bagi Lee itu terasa angin saja.


"Hmmm." Tampak ada raut ketidaksenangan dari jawaban Lee, tapi ia tidak akan menyerah.


"Ngomong-ngomong, ada apa gerangan Paman dan bibi kemari. Aku merasa terkejut dengan hal ini, atau Ayah sendiri tau?" Lee lebih fokus bertanya mengenai hal ini, karena entah mengapa ia merasa ada yang tidak beres dan sepertinya bersangkutan dengan persoalan calon istrinya.


"Tentu saja kami kesini membawa kabar baik, akan ada pernikahan. Kau pasti akan senang, raja juga sangat senang." Lee menatap ayahnya yang terlihat mengangguk sambil tersenyum.


"Ya, ayah juga baru saja mendapatkan kabar nya."


"Siapa yang akan menikah?" Tanya Lee secepat kilat.


"Tentu saja Mola, memang siapa lagi?" Semuanya tertawa kecil dan Mola tersenyum malu karena pembicaraan itu, lain lagi dengan Lee yang merasa dipermainkan saat ini.


"Lee, kau mau kemana! Lee.... Pangeran Lee!"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Apa kau sudah memiliki seseorang Mei?" Melihat reaksi putrinya, tampaknya baba mengerti ada sesuatu yang menganggu putrinya.


"Belum. Kenapa baba berpikir begitu?" Mei tersenyum kecil menjawab pertanyaan baba nya.


"Baguslah, baba tidak sabar mempertemukan mu dengan pemuda nya. Lebih cepat, lebih baik."


"Kapan kita akan pergi kesana baba?"


"Baba menunggu surat untuk itu. Jadi, kita tunggu saja, hmm." Mei mengangguk, tapi hatinya berkata lain.


'Aku harap kau segera datang, sebelum surat itu datang lebih dulu.'


"Baba, Nona makanan sudah siap." Siu datang memecahkan pembicaraan serius itu.


"Ayo Mei... Kita makan malam."


"Iya baba." Kaki Mei mengikuti langkah baba nya, tapi wajahnya tampak berbeda membuat Siu yang berada disana langsung mengerti.


'Ada apa dengan Nona?'


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Tingkah kekanak-kanakan macam apa ini Lee? Kau sudah besar dan seorang pangeran apa begini sikapmu?" Raja akhirnya menyusul putranya ke kamarnya yang tengah merajuk ketika pedangnya rusak.


"Ayah yang membuat ku begini." Jawab Lee sambil menyelimuti dirinya dengan selimut. Itu seperti pemandangan aneh, tapi ada nilai tersendiri baginya. Lee terbiasa seperti itu ketika sang Ibu masih ada, setiap Lee mendapatkan masalah atau sesuatu yang tidak sesuai keinginannya maka ibunya akan melakukan itu sambil menenangkannya, sehingga tetap berlanjut meskipun sang ibu tiada.


"Temui gadis itu lebih dulu, baru kita lihat gadis pilihan mu." Selimut itu tampak mulai bergerak dan sosok didalam nya ada persen rasa senang menyelimutinya.


"Apa ayah sungguh-sungguh? Tidak bohong lagi kan?" Sungguh Lee ingin memastikannya.


"Ya, tapi dengan catatan. Tidak ada tindakan yang kau lakukan dengan sengaja untuk menolak gadis pilihan ayah, mengerti?" Kepala yang tadinya bersembunyi itu langsung keluar dan mengangguk.


"Aku janji." Raja tampak mendekat dan duduk di ranjang putranya itu.

__ADS_1


"Ayah akan segera mengirimkan pesan kepada nya, agar pertemuan kalian dipercepat."


"Pesan? Bukannya....."


"Oh.... Kau berpikir Mola akan menjadi calonnya?" Seolah tau pikiran putranya, raja tertawa sendiri.


"Jadi...."


"Lee, itu bukan dia. Ayah memilihkan gadis lain untuk mu. Mola juga akan menikah karena sudah dipinang oleh pangeran di kerajaan tetangga. Karena itu mereka datang, dengan kabar gembira ini. Ini pelajaran baru untuk mu Lee, jangan bertindak gegabah tanpa tau kebenaran nya terlebih dahulu. Dalam diam mu, kau menyimpan amarah disana, bukannya reda tapi membara di dalamnya. Kau harus bisa mengendalikan nya, itu bisa jadi kelemahan mu nantinya. Mengerti?"


"Ya ayah, aku mengerti."


"Ayah mau ke ruangan kerja Ayah, segeralah tidur." Raja meninggalkan putranya yang sudah sepenuhnya keluar dari selimut yang menyelimutinya.


Setelah melihat ayahnya sudah pergi, Lee segera meloncat dari ranjangnya dan menuju meja tulis nya. "Kalau ayah menulis surat, maka aku juga begitu bukan? Aku akan mengatakan pada Mei, untuk bertemu sebelum ayah mengatur pertemuan ku dengan gadis pilihannya." Tangan yang terbesar memegang pedang itu langsung menulis kata demi kata yang sesuai dengan keinginan nya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Raja yang berada di ruang kerjanya, tampak menulis surat untuk keluarga calon istri putranya. Tapi, raja itu tidak sendiri, ada sosok lain yang menemaninya.


"Apa semuanya berjalan dengan baik raja?"


"Ya, tapi sepertinya aku akan mengundur pengangkatan Lee menjadi raja."


"Ada apa gerangan raja?"


"Aku perlu membimbing nya lebih lagi. Masih ada beberapa yang belum bisa ia atasi, dan aku berharap dengan pernikahan ini nantinya bisa merubahnya menjadi lebih baik."


"Hamba berpikir juga begitu raja, sepertinya gadis ini akan membawa pengaruh besar untuk pangeran."


"Baik raja, hamba permisi."


Keesokan harinya.....


Hari ini terasa lain bagi Mei, setelah ia membangun baba nya dalam meracik ramuan. Siapa sangka, ia justru mendapatkan surat, bukan surat lamaran yang dimaksud oleh baba nya. Tapi, surat dari sosok yang ia tunggu.


Burung pembawa pesan itu segera pergi setelah urusannya selesai. "Temui aku di sungai tempat terakhir kita bertemu. Siang ini aku segera kesana." Dengan perasaan bahagia, Mei segera menyimpan surat itu dan merias dirinya dengan baik.


"Nona mau kemana?" Tanya Siu yang melihat Nona nya tengah memilih pakaian seolah pergi.


"Kesini... Dengar Siu, aku akan bertemu dengan pangeran Lee. Dan tugasmu adalah.... Bersikaplah seolah tidak tau, aku akan segera kembali sebelum baba selesai bermidetasi."


"Baiklah, tapi Nona tidak akan lama bukan?" Tentu saja Siu harus memastikan lebih dulu, karena seseorang yang bertemu dengan kekasihnya pastinya tidak akan kembali secepat yang mereka katakan.


"Aku janji! Akan kembali sebelum baba selesai bermidetasi." Setelah mendapatkan anggukkan Siu, Mei segera melanjutkan riasannya karena sebentar lagi Lee akan segera sampai.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Kaki yang berjalan pelan itu akhir berlari juga. Ia segera menyusul sosok pria yang berada di tak jauh darinya. Begitu juga dengan pria yang melihat kedatangan kekasihnya yang berlari menuju nya, ia juga ikut berlari menuju kekasihnya lebih dulu.


"Aku merindukanmu!" Ujarnya sambil memeluk erat tubuh kekasihnya dan menghirup aroma di sela rambut hitam legam itu.


"Aku juga, aku sangat senang mendapatkan surat darimu."


"Aku ingin mengatakan sesuatu."

__ADS_1


"Aku juga." Keduanya melepaskan pelukan, dan mereka duduk di bebatuan selama mereka berbicara nantinya.


"Aku...."


"Aku..." Keduanya serentak ingin memulai membuat salah satunya akan mengalah sukarela.


"Kau dulu." Ujar Mei yang mendapatkan anggukan dari Lee.


"Raja memilihkan seorang gadis untukku, mungkin akan bertemu besok atau lusa. Aku sudah bicara dengan raja, kalau aku memiliki pilihan ku sendiri."


"Apa raja menolak?" Tanya Mei segera.


"Tidak, tapi raja meminta aku lebih dulu bertemu dengan gadis pilihannya baru, denganmu. Aku tidak bisa bernegosiasi lagi dengan raja." Mei terdiam setelah mendengar penjelasan Lee.


"Mei..."


"Aku mengerti, itu saja sudah bagus. Sepertinya masalah kita sama, baba juga akan mempertemukan ku dengan seorang pemuda yang tidak aku ketahui. Aku mengatakan akan menemuinya."


"Kalau begitu, kita akan menolak pilihan itu bersama, dan aku akan segera membawa mu pada raja." Mei jadi ikut bahagia karena seolah permasalahan mereka sudah mendapatkan solusi nya.


"Aku tidak sabar menanti hari itu."


"Aku juga." Keduanya kembali berpelukan dengan posisi duduk bersebelahan dan kepala Mei yang bersandar di bahu Lee dan tangan Lee berada di bahu Mei dengan sesekali keduanya saling berpandangan.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Sosok yang tengah duduk seperti bunga teratai itu merasa terganggu dengan rasa basah dan geli yang menerpanya. "Mong?" Tampak harimau kecil itu mengatakan sesuatu yang pastinya dimengerti oleh pendeta Ming.


"Ada surat?" Mong mengiyakan dengan caranya sendiri.


"Aku tidak menyangka secepat ini." Pendeta Ming segera bangkit dan menuju ruangan tempat surat akan berlabuh.


Terlihat Mong juga mengikuti langkah pendeta Ming dan keduanya disambut oleh burung bewarna kuning telur itu. "Terimakasih, kau boleh pergi." Gulungan surat itu berada di tangan pendeta Ming, tapi biasan air yang berada di sampingnya membuat ia mengurungkan niatnya dan mendadak wajahnya yang tenang begitupun dengan tatapan nya berubah seketika.


"Baba mau kemana?" Siu yang bertugas menjalankan tanggung jawabnya langsung kelimpungan karena baba pergi dengan langkah seribu dan tanpa kata.


"Baba?"


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Di istana tengah ada pertemuan penting saat ini. Ruangan pertemuan itu menjelaskan terganggu Kat kedatangan prajurit dengan pesan nya. "Ada apa?"


"Ampun raja, tapi pendeta Ming datang dan meminta bertemu segera."


"Suruh dia masuk, dan pertemuan kita lanjutkan lagi nanti. Silakan nikmati jamuannya." Satu persatu semuanya pergi, dan tak lama Pendeta Ming memasuki ruangan itu.


"Pendeta Ming, ada apa gerangan dengan kedatangan mendadak ini?"


"Sangat penting raja, karena sebaiknya pertemuan antara anak-anak kita dibatalkan saja."


"Apa?" Raja tentu kaget dengan ucapan pendeta Ming yang mendadak bak sambaran petir itu.


Bersambung......


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2