Modernisasi Queen

Modernisasi Queen
Aku Disini!


__ADS_3

Dengan balutan ramuan herbal, sepasang kaki itu melangkah dengan perlahan dengan bantuan yang mendampingi dirinya.


Maniknya dapat melihat sosok yang ingin dan sejak tadi ia tanyai. Ada sedikit senyuman yang terbit di wajahnya, meksipun dengan warna yang sedikit pucat.


"Putri...." Tangan itu terangkat menandakan bahwa tidak ada lanjutan pembicaraan.


"Tinggalkan aku sendiri. Kau bisa pergi." Tak perlu bertanya lagi, sosok yang mendampingi itu mundur perlahan tetapi tidak dengan tatapannya.


Tanpa bantuan dan suara selain langkah kaki, wanita yang menguatkan langkahnya terus mencoba hingga sampai di tempat yang ditujunya.


Keadaan yang dilewatinya seperti perbatasan antara kegelapan dan cahaya. Larut dalam pikirannya, sosok yang tengah melamun sambil mengatakan kata yang sama berulang kali tak peduli dengan bibirnya yang mulai mengering karena tidak minum.


"Aku ini buruk..... Bu-ruk...bu-"


"Kau yang terbaik!" Ucapan itu serta sentuhan lembut di pundaknya membuat sosok yang melamun itu langsung menoleh.


Maniknya yang sudah kering dengan air matanya, kembali lagi basah dan lebih menggenang di pelupuk matanya. "Mei?"


"Aku disini..." Tidak perlu lanjutan ucapan, dekapan erat langsung menyapa tubuh yang dirindukannya itu.


"Istriku kembali! Sayang, aku takut! Aku sangat takut! Kau diam saja dengan mata yang tertutup. Kau tau, aku sungguh takut. Ada darah disini.... Disini.... Disini juga." Tangan dengan gemetar itu menelusuri wajah di depannya.


"Tidak ada darah, lihat?" Lee tampaknya terdiam setelah merasakan pelukan dan mendengarkan ucapan istrinya.


"Ada yang sakit? Aku melukai mu, dan disini..." Tangan Lee terhenti di lumuran herbal yang lebih dominan itu.


"Dia masih disini, kau bisa rasakan." Lagi, Lee memberikan dekapan erat membuat Mei membiarkannya.


Masih teringat jelas oleh Mei, setelah kesadarannya. Baba mengatakan sesuatu padanya setelah dirinya bisa tenang.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


"Dengar Mei, dengar baba! Bayimu dia.... Baik-baik saja, dia kuat! Dia seperti mu, apa kau pikir dia akan meninggalkan mu?" Mei mengelus perutnya dan tak lama tersenyum.


"Anakku...."


"Ya sayang, anakmu baik-baik saja. Baba memberikan ramuan agar dirinya semakin kuat dan terlindungi di dalam sana."


"Lalu suamiku? Lee... Baba dimana suamiku? Dia baik-baik saja kan?"

__ADS_1


"Hmmm, Lee bisa dikatakan baik dan tidak."Ucapan baba nya membuat Mei mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?" Mei mulai merasa cemas sekarang.


"Sayang, raga nya baik. Tapi pikiran nya tidak. Kau ingat yang terjadi sebelumnya?" Mei mengangguk.


"Lee terpengaruh dan aku...."


"Iya, mong datang dengan membawakan ini." Pendeta Ming menyentuh gelang di tangan putrinya.


"Xiong juga disana, dengan usaha gelang itu kembali ke tangan Lee dan dia kembali sadar. Tetapi, kau tidak sadarkan diri. Pengaruh jahat nya memang hilang, tetapi Lee dapat mengingat semuanya dengan jelas." Mei mendengar dengan seksama, tampak pendeta Ming mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Dia membawamu sambil berteriak dan menangis dengan penyesalan. Jenderal dan yang lainnya mengurus Dhow. Mong membawa dirimu dan Lee lebih cepat ke mari, baba melihat mu terluka dan langsung menangani mu Mei. Baba pertama kali langsung memeriksa janin mu dan bersyukur tidak ada masalah. Lee sepanjang jalan terus berteriak, ayahnya mencoba menenangkannya, tetapi tidak berhasil. Dia tidak melepaskan tangannya dari tangan mu, dia terus berbicara dan mengajak mu bicara. Baba menjelaskan padanya, tetapi ia tidak mengerti. Hingga, dia terpaksa baba bawa ke ruangan lain."


"Hanya kau yang bisa menyadarkan nya lagi. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri,Mei."


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Dan tentu Mei langsung bergegas menuju suaminya yang terus meringkuk sambil berbicara sendiri.


Dan benar, gumaman Lee terhenti. Tampaknya pria itu sudah mulai sadar kembali. Lee mendekap erat Mei dalam pelukannya dan Mei turut nyaman berada dalam pelukannya.


"Maafkan aku, maafkan ayah sayang." Lee mengecup kening istrinya sambil mengelus tempat tumbuh kembang anaknya saat ini.


"Maafkan aku. Aku janji, ini tidak akan terjadi lagi. Mereka sudah mendapatkan hukumannya."


"Apa yang terjadi pada mereka?"


"Tidak penting. Mereka telah tiada dengan buruk. Jangan memikirkan hal apapun lagi, aku tidak ingin kau mengingat itu lagi, tidak Mei! Tidak! Aku merasa sangat menyesal."


"Kau tidak salah, itu bukan dirimu." Mei mengangkat wajahnya dan mengelus wajah suaminya.


"Aku merasa cintaku tidak cukup. Buktinya aku terpengaruh." Mei menggeleng agar pembicaraan ini berakhir dan suaminya tidak merasa bersalah terus menerus.


"Cintamu sangat cukup. Bahkan lebih, buktinya kau tidak melakukan apa yang mereka minta. Ingat?" Lee mengangguk dan tersenyum.


"Kau harus istirahat, kau masih pemulihan." Mei melingkarkan tangannya di leher suaminya sambil membiarkan dirinya dibawa entah kemana oleh Lee.


"Kau juga makan. Kita makan bersama." Ujar Mei setelah makanan datang untuk mengisi tenaga yang telah terkuras dan memulihkan diri masing-masing.

__ADS_1


"Baiklah, tapi suapan pertama untuk istri tercinta ku dan anak kita." Lee menyuapi istrinya dan Mei Kamis memakannya dengan lahap dan setelahnya Mei melakukan hal yang sama kepada suaminya dan dibalas oleh Lee dengan tak kalah lahapnya.


Pemandangan itu tidak luput dari beberapa pasang mata. "Syukurlah semuanya baik-baik saja setelah badai yang datang mengacau."


"Ya, dan aku sangat bersyukur cucu kita sangat kuat dengan yang menimpa orang tuanya."


"Karena dirinya mewarisi kedua orang tuanya."


"Jadi, bagaimana dengan para bangkai itu?"


"Apalagi, sudah tiada."


"Kau memiliki harimau suci rupanya." Ujar raja membuat pendeta Ming tersenyum manis.


"Aku menyadarinya beberapa waktu terakhir."


"Kau memiliki keistimewaan Ming, dan tidak salah Mei putrimu, juga memilikinya." Dibalik senyuman Ming, ingatannya tertuju pertemuan dirinya dengan Mei yang merupakan rahasia besar miliknya.


🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟


Disisi lain ada yang menangis sambil membersihkan dan mengobati luka di tubuh sosok di depannya. "Kenapa menangis?" Suara yang terdengar lembut itu membuat manik itu menatap wajah tampan di depannya.


"Kau masih bertanya? Kau terluka seperti ini. Menurut mu apa? Lihat, mereka melakukan hal buruk padamu. Seharusnya berikan aku bagian untuk memotong jari mereka."


"Melihat mu sudah membuat rasa sakit ku berkurang. Mendapatkan sentuhan mu membuat rasa sakit ku juga berkurang lagi, dan melihat air mata ini rasanya rasa sakit ku ikut hanyut. Bahkan tidak tersisa, jadi jangan menangis lagi. Kau terlihat...."


"Aku jelek! Kau ingin bilang begitu?" Xiong jadi terdiam melihat reaksi Siu seperti mong dengan garangnya.


"Tidak, kau lebih cantik. Dan kalau kau masih menangis lagi.... Maka, aku akan..." Sekarang giliran Siu yang membeku karena merasakan pipinya seperti es krim di musim panas.


Bersambung.......


Sambil menunggu episode berikutnya, yuk mampir ke karya baru author!


Rosalina Untold Story


Ditinggalkan oleh calon suami sehari sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.


"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.

__ADS_1


Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya?


Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.


__ADS_2