
Sidang yang seharusnya menjadi penangkapan Tania, justru menjadi ajang pembukaan jati diri alias kebohongan Yuri dihadapan semua orang bahkan guru besar.
Yuri seketika ingin menghilang dari sana karena kebohongannya ia menjadi mangsa mata semua orang.
"Aku... Aghh, sakit!" Yuri menyentuh kepalanya dengan ringisan berharap semuanya percaya.
"Tuan putri Yuri, apa maksudnya ini?" Tanya guru besar yang membuat Yuri berdetak kencang.
"Guru... Aku... Kepalaku memang sakit. Dan anggukan itu aku hanya mengikuti secara tidak sadar saja." Masih saja Yuri mengelak membuat Tania menggeleng dalam hatinya.
"Tuan putri Yuri, jika kepala mu sakit maka rambut mu tidak akan diikat begitu, bukankah dianjurkan untuk melepaskan nya karena jika diikat maka akan berakibat pada lukanya."
__ADS_1
Sungguh Yuri tidak terpikir sampai kesana lagipula luka apa yang bersarang di kepalanya itu hanya bualan semata.
"Tam, periksa!" Seorang wanita bergaya biksu mendekati Yuri yang membuat wanita itu bingung dan tubuhnya terasa kaku lengket bak lem.
Matanya membesar melihat pergerakan tangan itu yang membelai seluruh kepalanya. Ia berdoa semoga saja ada keajaiban atau lebih tepatnya wanita itu bisa diajak kerjasama. "Guru, tidak ada apapun!" Mata Yuri terpejam seiring dengan kata-kata yang berseliweran di penjuru ruangan.
Vanriel yang duduk di kursi kebesarannya, merasa dipermalukan apalagi dihadapan semua orang dengan jabatan penting ditambah dengan kehadiran guru besar. Yuri mempermainkan dirinya mengatakan bahwa ia terluka begitu juga dengan tabib gadungan itu.
Matanya mendelik melihat Yuri sejenak dan lawan yang dilihat langsung menatapnya iba meminta pertolongan. "Raja Vanriel, disini tuan putri Yuri telah berbohong dan untuk itu raja berikan hukuman atas tindakan nya dan ratu Tania tidak bersalah."
"Terimakasih raja, rakyat dapat mendengar nya. Dan dapat menjaga kepercayaan rakyat dan tidak pandang bulu." Tania bicara menimpali menambah sensasi penderitaan Yuri.
__ADS_1
Sidang dibubarkan, dan satu persatu semuanya meninggalkan ruangan menyisakan Tania, Vanriel dan Yuri. "Bawa tuan putri Yuri di depan istana utama untuk hukuman besok!" Setelah itu Vanriel pergi dengan rasa kecewa karena kebohongan Yuri.
"Vanriel!"
"Lain kali lihatlah dulu lawan yang dihadapi dan cara menghadapinya. Kebohongan seperti itu dan permainan murahan itu tidak mempan untuk ku. Karena apa? Aku seorang Ratu dan lebih tepatnya bukan yang dulu lagi! Sampai jumpa Tuan putri." Dengan senyum kemenangan Tania melenggang dari sana.
"Akan ku balas kau! TANIA!" Suara amarah melengking itu menyuarakan api kebencian serta pembalasan yang besar.
Langkah kaki Tania terhenti di sebuah bangunan yang diapit oleh gudang dan dapur lebih tepatnya karena sosok yang ia lihat. "Ibu suri...."
Tidak ada yang berani menegur atau menyapa dengan hormat pria dengan aura kebangsaan itu. Terlihat ia sangat tidak bersahabat saat ini, ada sesuatu yang akan meledak di dalam dirinya. Pintu besar itu tertutup segera dengan bunyi yang tidak bagus dan tak lama lemparan bak olahraga langsung terjadi. "Aghhh!"
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak