
Hutan perbatasan telah dilewati oleh kedua wanita itu, tepatnya sesama gadis karena nyatanya usia Siu yang berusia 16 tahun hanya berbeda lima tahun saja. Kuda coklat itu terlihat melintas melewati jalanan setapak yang tampak basah karena disapa hujan. "Kenapa? Biasanya kau berkicau seperti burung, sekarang kau jadi bulan di malam hari." Siu yang berada dibelakang masih terlihat berpikir sambil menatap jalanan yang mereka lewati.
"Aku hanya berpikir, tujuan kita.... Kenapa kesana Nona?"
"Kenapa? Ada masalah? Atau kau memiliki sesuatu disana."
"Tentu saja tidak Nona. Hanya saja diantara kerajaan yang lain, kenapa memilih itu? Masalahnya.... Disana pemerintahan sangat ketat maksudnya tidak bebas seperti kita ini." Tania mengerutkan keningnya mendengar pernyataan itu.
"Ketat? Apa maksudnya dengan itu? Apa dia akan menghabisi pendatang baru?"
Siu tampak berpikir sejenak untuk merangkai kata sambil mengingat sesuatu. "Bukan begitu Nona, tapi akan sulit bagi kita kesana, terlebih lagi kerajaan itu kental dengan darah budaya mereka."
"Kerajaan kita juga begitu, lalu apa yang membedakan?"
"Budaya mereka tertutup dengan orang baru nona, tidak seperti kita yang bisa menerima segala jenis orang dan kalangan apapun itu." Tania mulai jengah dengan pernyataan tak berujung itu.
"Baiklah, intinya saja. Apa kita harus berubah menjadi sesuatu untuk kesana?"
"Iya ratu, setidaknya kita harus mulai dengan......" Siu terlihat berbisik dan Tania mendengarkan dengan baik.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Di sudut istana lain, terlihat pasukan yang tengah berlatih di pantau sosok gagah dari tempat yang cukup tinggi diantara mereka. "Serang! Tahan! Berlindung!" Mereka mendengarkan titah dari atasan mereka yang mengawasi mereka.
"Kau lupa makan, karena melihat mereka. Setidaknya istirahat sebentar, tidak ada salahnya." Sosok gagah itu menunduk kepada pria yang masih terlihat gagah meksipun berbeda generasi.
"Yang mulia... Aku bisa makan setelah ini, hanya lima latihan lagi." Tersenyum sambil mendekat, tangan itu mengambil sebuah busur dan mengenai mekanisme lonceng yang membuatnya berbunyi.
"Istirahat dimulai."
"Selalu saja, cara lonceng."
"Aku bukan anak kecil lagi yang senang dirangkul Ayah, aku sudah besar!" Memperlihatkan dada nya yang tegap, ia berjalan lebih dulu meninggalkan pria dengan mahkota berhiaskan manik-manik dibelakangnya.
"Kau masih kecil dimataku, sebelum menikah dan mengantikan ku Lee." Sendok sup itu tidak jadi dilanjutkan sampai kerongkongan karena kata menikah itu.
"Ayolah Ayah, mau sampai kapan ini kita bahas? Telingaku rasanya panas dengan itu. Aku sangat terganggu." Keluhnya yang membuat ayahnya tertawa kecil.
"Kau harus segera memiliki pewaris, kita tidak tau apa yang terjadi nantinya. Jika ayah yang pergi aku masih memilikimu, tapi bagaimana jika kau yang pergi lebih dulu? Mau dikemanakan kursi emas ini?"
__ADS_1
"Ayah akan berumur panjang, bahkan akan melihat ku memiliki tiga anak nantinya. Siapa yang akan menggulingkan ayah? Aku ada disini, putramu ada disini."
"Sosok Seperti Paman mu, mungkin akan banyak yang lahir, dari kejadian itu. Mungkin satu bisa dibasmi tapi bagaimana tanpa yang kita ketahui?"
"Karena itu, kita tidak bisa lengah ayah. Dan ayah tidak bisa berpikir begitu.... Meksipun aku menikah nantinya, tidak akan menjamin itu tidak akan terjadi di zaman ku. Tapi pemerintahan Ayah, aku yakin tidak ada lagi, mencari posisi ratu seperti ibu aku harus cerdik ayah. Banyak wanita cantik dan berpendidikan serta kalangan bangsawan memiliki hati yang buruk rupa, itu tidak akan menjamin."
"Karena itu ayah meminta mu memilih dari keturunan seorang pendeta yang memiliki nilai serta pelajaran yang berbeda dari yang lainnya, itu akan menjadi hal yang mudah untuk dilihat. Bukan sekedar harta dari ia dibesarkan tapi seberapa banyak hal berharga selama ia hidup."
"Bagaimana jika wanita itu bukan dari sini ayah? Apa ayah akan setuju?" Raut yang tadinya santai meksipun pembicaraan serius sekarang berubah menjadi tegang dan kaku.
"Ayah berikan kebebasan bukan berarti disalahkan gunakan Lee."
"Jika ia memiliki nilai-nilai yang Ayah inginkan, apa Ayah bisa menerima??" Langkah kaki itu belum jadi berlanjut karena putranya masih mengajak untuk berdebat.
"Tentu, ayah ingin lihat bagaimana sosok itu."
Setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan sang putra dengan makanan yang masih tersisa. "Jika sungai bisa membawa ku bertemu dengan mu, maka sungai juga yang akan membawamu bertemu dengan ku."
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.