
Mola tengah berperang dengan pikirannya karena dia saat ini berada dalam situasi buruk. "Mola, apa ini?"
"Ibu, aku.... Dia... Dia ingin melukai Mei!" Mola langsung menunjuk seorang pelayan yang berada di tempat perkara.
"Lihat! Ini racun! Dia ingin menghabisi ku dan melukai Mei!" Mola terus mengatakan hal yang sama kepada pelayan yang tak sadarkan diri itu.
Sedangkan Mei, dia tampak meringis dengan posisi duduk. "Mei, kau baik-baik saja?" Mei yang ditanyai tak lama langsung pingsan dan membuat keadaan semakin runyam.
"Panggil tabib!" Raja yang ikut disana langsung membuat pontang panting prajurit yang tak jauh disana.
"Awasi nona mola! Dan periksa segera! Aku ingin tau!" Terlihat raja begitu murka dan membuat mola merasa sedikit takut dan tak lama lemas dan langsung ditangani segera.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Mendengar berita mengenai keadaan istrinya, Lee yang tengah dari pasar melakukan tugasnya dengan kecepatan tinggi sudah berada di tempat istrinya.
"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada istriku?" Urat Lee terlihat menegang karena melihat istrinya yang tengah diperiksa saat ini.
"Sabar pangeran...."
"Cepat cari tau Xiong!" Secepat kilat, Xiong langsung menghilang dan Siu harap-harap cemas karena dirinya lengah dengan ini.
"Bagaimana keadaan istriku?"
"Dari telapak kaki putri, tampaknya ada minyak atau cairan lengket yang membuat putri tergelincir dan tak sadarkan diri. Rasa kejut membuat putri dalam masa kehamilan lebih rentan pangeran."
"Semuanya baik-baik saja kan?"
"Iya pangeran. Tapi karena ini, hamba sarankan, tuan putri tidak boleh berjalan atau bangkit dari ranjang. Kondisi kehamilan yang masih muda membuat keadaan putri tidak seperti sebelumnya." Lee mendengar semua penjelasan tabib dengan baik.
"Kau boleh pergi." Tabib langsung meninggalkan tempat itu dan sekarang hanya tinggal Lee dengan Mei yang masih tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi? Apa ini Mola lagi?" Dengan rasa cemas dan murka Lee menggenggam tangan istrinya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Meskipun matanya terpejam, tapi panca indera nya tengah berfungsi dengan baik saat ini.
"Bagaimana putriku?"
__ADS_1
"Keadaan nona Mola yang bangkit dari ranjang tentu belum baik. Tidak ada yang serius tapi ini jangan dilakukan lagi." Kedua orang tua Mola mengangguk mendengar penuturan tabib.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah Mola masih sakit?"
"Kau menuduh putri kita? Kau sama dengan mereka?" Tampak Ibu mola tak suka dengan ucapan suaminya.
"Bukan... aku hanya bingung..."
"Dia menyelamatkan nyawa mei! Putriku tidak sejahat itu!" Ditengah adu argumen, seorang prajurit datang mengantarkan pesan.
"Maaf tuan, tapi raja meminta pertemuan secepatnya."
"Ayo, kita kesana. Mola akan baik-baik saja. Ini sangat penting, ini berkaitan dengan putri kita. Entah apa keputusan raja, tapi yang jelas... penjagaan diperketat."
Setelah kedua orang tuanya pergi, mola langsung bangkit dan meninju ranjang empuknya. "Si@l! Bagaimana ini! Aku harap Mei tidak melihat semuanya. Aku akan menggunakan pelayan itu sebagai kambing hitam nya, dia yang akan dihukum mati dan aku yang akan dibebaskan. Karena telah berani menyakiti menantu raja! Setidaknya ini akan menjadi pertimbangan." Tidak tau betapa banyak rencana dibenak Mola untuk melepaskan dirinya dari jeratan hukum gantung.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Baru saja sudah memasuki ruangan, sudah terasa hawa yang tidak baik. Terlihat seorang pelayan yang tadinya ikut pingsan sekarang sudah sadar dan tengah berada diantara hidup dan mati.
"Dari pernyataan nya, serta bukti. Pelayan ini berniat melukai menantu istana. Dan juga...."
"Putriku tidak bersalah raja! Lihat kan? Ini ulah orang lain!" Ibu Mola langsung menerobos seperti pengendara di lampu merah.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Kau senang?" Pertanyaan itu membuat senyum tipis tersungging.
"Kenapa ibu bertanya? Tentu saja. Ibu tidak senang? Aku bebas?" Mola merasa diatas awang sekarang, karena dirinya dibebaskan dari hukuman gantung dan hanya pergi dari istana ini tanpa kembali.
"Apa yang kau rencanakan nak? Sudahi semuanya!"
"Ibu tenang saja, jangan khawatir begitu. Aku sudah besar, aku bisa mengatasi nya."
"Kita segera pergi sebelum raja berubah pikiran! Kau tau Lee begitu marah dan ingin membunuh mu karena istrinya belum juga sadar." Mola tidak menyanggah, karena dia masih ingin hidup.
"Terserah ibu saja." Sedangkan Mola bisa tertidur pulas karena bebas.
"Aku bisa pikirkan ini lain kali."
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Dia tertidur pulas diatas penderitaan ku! Aku tidak akan biarkan itu!" Seorang gadis muda dengan rumah lusuh memegang sebuah botol cairan putih.
"Kau akan menerima balasan atas perbuatan mu!" Menggunakan selendang, gadis itu menuju istana.
Ditengah gelap nya malam, langkah kaki masih terdengar meskipun kecil. "Kau mau kemana?" Seorang prajurit menghentikan langkah gadis itu.
"Aku ingin menuju dapur untuk membawakan pasokan sayur untuk besok pagi. " Dengan memperlihatkan beberapa keranjang sayur, ia diizinkan masuk.
Setelah berhasil masuk, gadis itu menuju ruangan yang membuat senyuman nya semakin terkembang. "Beberapa jam lagi, kau akan merasakan apa yang tidak pernah kau bayangkan!" Dengan manik yang mengandung bara, dia menatap bangunan di depannya dengan rasa benci.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Mentari yang muncul membuat rasa cemas Lee hilang. "sayang... Sayang!" Lee langsung senang begitu melihat istrinya sadar.
"Lee?"
"Ada yang sakit sayang? Katakan!"
"Haus." Lee segera memberikan air untuk kerongkongan istrinya yang kering.
"Ingat sesuatu sayang?" Entah mengapa pertanyaan itu membuat ingatan Mei tertuju pada kejadian di kamar Mola.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Mola sudah bangun pagi dan menikmati minumannya sebelum meninggalkan istana ini. "Ayo Mola, habiskan minumannya dan kita segera pergi!"
"Iya Bu, sebentar!" Mola langsung menghabiskan dalam sekali teguk mengosongkan gelas itu.
"Ayo! Ayah mu sudah menunggu. Ibu takut Lee datang dan mengacau!"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Adegan buru-buru itu tentu tertangkap oleh sepasang mata. "Putrimu akan kacau karena dia telah meminum ramuan ku. Dia akan merasakan sakit sehingga dia tidak akan mau hidup tapi ia tak mampu untuk mati! Kak, aku sudah membalaskan dendam atas kematian mu karena ulah wanita itu!"
Tangisan itu segera dihapus, tapi tidak dengan api dendam nya. Gadis itu baru kehilangan keluarga satu-satunya yang tiada karena tipuan bangsawan.
"Selamat tinggal Mei, tapi aku akan segera kembali mengambil apa yang menjadi milikku!" Dengan senyum iblis nya, mola memasuki kereta kuda nya.
__ADS_1
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.