
Sinar mentari tidak begitu terlihat, karena daerah itu habis diguyur hujan. Tanah bahkan masih terasa lembab dan juga masih tercium aroma hujan di pepohonan dan tumbuhan lainnya.
Pakaian yang tadinya tidak bisa memberikan kehangatan kepada keduanya, sekarang sudah berganti dengan kecerdikan keduanya. "Aku dengar gerbang masuk akan dibuka, kita memiliki waktu yang sangat tepat."
"Nona benar, tapi aku dengar juga akan ada acara di kerajaan ini. Mungkin akan lebih ketat lagi, tapi kita sudah punya token nya."
"Tentu saja Siu. Ngomong-ngomong, kenapa waktu itu kau berteriak?" Siu tampak menerawang hal yang dimaksud nona nya.
"Apa di tempat kupu-kupu itu?" Tanya Siu memastikan lagi.
"Ya, kenapa kau berteriak? Apa dia menyakitimu?"
"Tidak nona, aku berteriak karena mendengar teriakan Nona."
"Heh? Lalu kalau begitu kenapa pria yang bersamamu juga ikut teriak?"
"Karena aku berteriak Nona?"
"Iya, aku tahu, tapi kenapa berteriak?"
"Karena mendengar teriakan Nona." Tania mulai jengkel dengan jawaban Siu yang entah apa-apa.
"Sudah lupakan saja! Kau membuat kepalaku pusing." Tania mempercepat langkahnya sedangkan Siu menyembunyikan wajah merah tomatnya, mana mungkin dia mengatakan kalau teriakkan itu terjadi karena perihal pertemuan benda keramat dan goa suci.
"Pria itu sungguh berani mengambil kesempatan! Tapi kalau aku pikir dia tampan juga, tidak! Nona benar, pria disana tidak bisa dipercaya! Huh!" Siu seolah jadi dua, hatinya berkata lain dan pemikiran nya berkata lain.
"Kau bilang sesuatu Siu?" Meksipun sedikit samar, Tania dapat mendengar ucapan gadis muda dibelakang nya.
"Tidak nona!" Siu ikut mempercepat langkahnya dan menjadi kembali dekat dengan sang Nona.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Berbanding terbalik dengan keadaan dua gadis yang kehilangan kuda mereka, disini sang pangeran tengah duduk di kuda kesayangannya ditemani oleh prajurit dan Xiong dan juga hasil penangkapan musuh yang akan dihadiahkan kepada ayahnya.
"Gerbang akan dibuka, katakan kepada penjaga gerbang bawa orang yang menggunakan token kita."
"Tentu pangeran. Tapi.... Apa pangeran yakin?"
"Tentu saja, sangat! Mereka sengaja melakukan hal itu untuk mengambil token memasuki kerajaan. Sayangnya dia mengambil token yang berbeda, ketika mereka masuk dengan bahagia nya, mereka akan bertemu dengan kita karena sudah mengambil token yang salah."
"Lalu apa yang pangeran lakukan setelah itu?"
"Rahasia! Kau bisa memikirkan sesuatu untuk gadis yang mengambil token mu juga." Xiong teringat dengan kejadian yang membuat kediaman keramat nya disapa oleh goa yang salah.
Xiong menggelengkan kepalanya mengusir pemikiran kotornya. "Gadis itu.....Dia sangat berani! Dia lebih buruk dari kupu-kupu yang lain, awas saja kalau bertemu! Aku ikat dia di pohon ceri karena sudah berani menyentuh ku!"
Tak berselang lama, istana yang menjadi kediaman Lee sudah didepan mata mereka, gerbang yang perlahan terbuka membuat penjaga langsung membuka dan memberikan hormat kepada pangeran mereka.
"Salam untuk pangeran dan selamat datang kembali." Lee turun dari kudanya, dan mendekati salah seorang penjaga.
"Saat pemeriksaan nanti, perhatikan token untuk mereka bawa. Ada dua orang yang mengambil token milikku dan Xiong, kalian tau harus apa kan?" Penjaga gerbang itu saling mengangguk paham.
"Baik pangeran." Xiong yang berada dibelakang jadi garuk keningnya karena pangeran nya tadi meminta dia untuk menyampaikan, lalu apa ini.
"Terserah saja."
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ketika mendengar gerbang masuk dibuka, para pengembara ataupun orang yang memiliki keperluan disini langsung berbondong-bondong masuk karena akan sulit dan menunggu lagi waktu untuk gerbang terbuka seperti ini.
Diantara kerumunan itu tentunya ada yang membawa token milik sang pangeran. Seorang anak laki-laki terlihat bersama kedua orang tuanya, mereka seolah ingin lebih dahulu berada di urutan pertama dibandingkan yang lain.
"Baris yang baik! Dan keluarkan token kalian!" Semuanya menuruti perintah itu dan berbaris rapi bak upacara.
"Token!" Penjaga itu membuka matanya dengan besar karena perintah dari pangeran nya.
Tampak orang yang mendapatkan sesuai urutan mereka memperlihatkan token mereka. "Ini tuan."
"Masuk!" Satu persatu semuanya masuk hingga diantara dua orang wanita terlihat cukup lama.
"Token!"
"Iya, sebentar!" Terlihat tangan itu merogoh kantong nya untuk menemukan token nya.
"Ini tuan." Sepasang penjaga itu saling bertatapan dan mempersilahkan kedua nya masuk diiringi dengan sebuah keluarga dibelakang mereka yang jadi ikut diperiksa karena waktu yang terhambat tadi.
Lepas dari penjaga gerbang, sebuah senyuman serta ucapan terlontar diantara orang-orang yang masuk itu. "Tidak sia-sia kita melakukannya! Lihat kita dapat masuk dengan mudah."
"Benar, dan itu adalah berkat ku!" Ujar seorang anak laki-laki diantara keduanya.
"Ya, karena mu. Ayo kita masuk!" Tapi baru saja langkah kembali dimulai beberapa prajurit menghadang mereka.
"Ikut kami!"
"Apa ini? Kami bukan ilegal, kami sudah memperlihatkan token kami!"
🌟🌟🌟🌟🌟
Lee yang tengah bersantai sambil memikirkan pertemuan nya dengan Tania jadi seperti orang tidak waras. Senyum yang ia tujukan hanya kepada ayah dan tertentu saja sekarang tercetak dengan jelas.
Tangannya ikut bermain sambil memperagakan adegan pertemuan nya. "Kenapa aku tidak bisa melakukan sesuatu yang lain padamu? Bahkan tanganku tidak bisa untuk menyentuh cadar yang menutupi wajah mu, atau rambut panjang mu. Matamu membuat ku tak bisa bergerak Tania... Ketika kau kemari maka kau tidak akan aku izinkan kemanapun. Aku tidak peduli kau kemari karena apa, tapi jika sudah memasuki wilayah ku, jangan harap bisa keluar, kecuali dengan nama istri ku." Suara dari luar membuat khayalan nya terganggu.
"Masuk!" Terlihat satu prajurit masuk dan memberikan salam nya.
"Salam pangeran, apa yang pangeran inginkan sudah kami tahan."
"Dimana mereka?"
"Di penjara pa...."
"Kenapa kesana? Kau ini!" Prajurit itu tentu jadi bingung, bukankah tempat itu memang diperuntukkan untuk hal semacam ini, lalu kenapa dia yang dimarahi.
"Apa salahku?"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Mereka disini pangeran." Lee mempercepat langkahnya dan senyum yang tadinya terkembang berubah menjadi datar dan sorot mata yang berbeda.
"Apa ini? Mana dua gadis itu? Jawab!" Prajurit yang disana tentu jadi takut melihat kemarahan pangeran mereka juga termasuk tahanan yang dibawa itu. Mereka saling berpandangan satu sama lain.
"Kenapa diam? Mana gadisnya? Token ku bersama mereka."
__ADS_1
"Pangeran, token pangeran kami temukan bersama keluarga ini. Lihatlah pangeran." Lee langsung melihat token nya, benar! Itu tokennya.
"Katakan darimana kalian mendapatkan nya!" Mendapatkan pertanyaan dengan wajah kematian ketiganya menjadi takut bukan main.
"Ampun pangeran kami mengambilnya dari dua orang wanita."
"Dimana mereka? Jawab!"
"Sungai! Mereka jatuh ke sungai dan terbawa arus."
"Apa!"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Volume air sungai menjadi besar karena ditambah dengan hujan yang cukup deras serta turunan air dari perbukitan. Aliran sungai itu sangatlah besar dan memiliki cabang dengan tujuan beragam, diantara cabang itu salah satunya menuju hutan yang hijau dan lebat, tapi didalamnya tersembunyi bunga yang tengah mekar dan hewan yang memiliki sayap indah.
Seorang pria berkepala plontos tengah menuju sungai dengan guci ditangannya. "Aku bisa mengambil beberapa air lagi sebelum pergi ke kota." Ujarnya sambil menuju bibir sungai.
Tapi matanya yang tadinya hanya fokus didepannya, jadi terganggu karena pergerakan yang dikenali nya. "Kenapa para ikan berkumpul disana?" Tanyanya, ketika ia dekati lagi. Terlihat tubuh yang tengah dikelilingi oleh gerombolan ikan itu.
"Itu tubuh manusia!" Guci yang berada ditangannya langsung terlepas karena mendekati tubuh yang terapung itu.
"Masih hidup." Ujarnya setelah mengangkat tubuh yang terendam air itu.
Baru saja ia berniat melakukan pertolongan pertama, wanita itu langsung sadar. "Uhuk!" Beberapa air langsung keluar dari bibirnya dan membuat ia gelagapan mencari sesuatu.
"Dimana Nona ku?" Tanyanya yang membuat pria dihadapannya kebingungan.
"Aku menemukanmu sendiri."
"Tidak! Ada Nona ku, kami jatuh bersama! Tolong cari dia." Ditengah kepanikan dan kebingungan itu, terdengar suara dari arah sekumpulan bunga teratai.
"Tunggu disini." Wanita yang masih lemah karena terlalu lama di air itu hanya duduk diam mengumpulkan tenaganya, bibir serta wajahnya yang bercampur air mata sudah cukup menjelaskan.
"Nona kau dimana?"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Mong... Kau rupanya." Pria itu tampak kaget karena dari sekumpulan bunga teratai itu keluar anak macan loreng emas.
"Grrrgrr." Anak macan itu memutar kepalanya menunjuk ke arah belakang nya membuat pria itu mengetahui ada sesuatu.
"Baiklah, aku akan mengikuti mu." Anak macan itu melangkah diikuti pria dibelakang nya dan tak lama terlihat sosok yang ketika ia dekati membuat pria itu mengenalinya.
"Dia..." Tanpa lama, dia memeriksa tubuh itu dan membuat dirinya bernapas lega.
"Syukurlah masih hidup, lukanya cukup besar." Tubuh itu segera diangkatnya dan membuat wanita yang menunggu tak jauh dari sana langsung menjerit.
"Nona! Bagaimana dengan Nona ku?"
"Dia masih hidup, aku akan mengobati nya. Luka di keningnya cukup besar, kau bisa berjalan?"
"Iya, aku bisa. Tolong selamatkan nona ku."
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.