
Wajah basah itu langsung tersenyum lebar, tangan licinnya itu tak bisa melepaskan surat yang berada di genggamannya. Hatinya merasa begitu bahagia setelah membaca surat itu. "Putriku, ini surat dari putriku. Aku akan segera kesana! Mong, aku akan mendapatkan cucu, aku akan menjadi Kakek!" Mong yang tengah bersantai menikmati semilir angin tentu menjadi bingung dan nurut saja ketika dirinya dipeluk, diputar dan di sayang dengan gemas. Jangankan mengerti, nyawanya saja masih ia kumpulkan. Sungguh Mong persis seperti kucing rumahan pada zaman modern.
Pendeta Ming yang mendapatkan kabar gembira itu, tentu langsing mempersiapkan segala sesuatu sebelum menuju istana. Dan tangannya akan kembali menumbuk ramuan herbal untuk putrinya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Ditengah kebahagiaan pendeta Ming, ada kegelisahan yang tengah terjadi. Sejak tadi ia mondar-mandir tak jelas tak jauh dari ruangan khusus pangeran dan putri.
"Kenapa tidak ada apapun? Bukankah seharusnya ada tabib? Kegaduhan? Apa ini? Butuh berapa lama obatnya bekerja?" Tanyanya sambil terus melirik ke arah kamar Mei.
Karena tak tahan lagi, Mola segera melangkah menuju kesana dan berpura-pura bertanya mengenai keadaan Mei.
Belum beberapa langkah, Mola dikejutkan dengan suara langkah kaki yang bergemuruh dan bukan hanya satu tapi beberapa pasang kaki. Dan ditambah dengan kecepatan bak petir yang menyambar.
"Lee?" Ujarnya sambil melihat Lee yang berlari seperti itu.
Tapi tak lama wajah loading bercampur bingung nya berubah menjadi senyuman. "Aku rasa sudah berhasil!" Ujarnya dengan kegirangan.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Lee berlari kencang dengan keranjang buah persik yang dibawanya. "Sayang, ini.... Aku bawakan ini. Ayo makan sayang." Ujar Lee sambil mengambil satu buah yang begitu menggiurkan itu.
"Kau berhasil! Persik! Enak sekali..." Mei tampak mengunyah buah itu dengan rasa gembira dan tentu saja Lee gembira melihat istrinya memakan hasil petikannya.
Dan benar saja, bukan hanya satu. Hampir satu keranjang buah persik habis dimakan Mei dengan riang gembira. "Sudah kenyang sayang?" Tanya Lee sambil mengelus pipi mulus itu.
"Sudah, tapi aku ingin menghabiskan nya." Mei menatap dengan tatapan menyesal karena tidak bisa menghabiskan satu keranjang itu.
"Tidak apa sayang, ini bisa dihabiskan lagi nanti. Ada lagi?" Tanya Lee dengan lembut.
"Aku ingin istirahat, dan peluk aku." Ujar Mei dengan manjanya dan dibalas Lee dengan segera.
__ADS_1
"Sayang...."
"Hmm?"
"Apa sudah ada kabar dari Siu?" Tanya Mei yang membuat Lee membuka matanya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Sosok yang tengah dicari terlihat bersama pria yang tidur memiliki kesibukan itu. "kau ini bicara apa?"
"Kau tidak percaya? Aku mendengarnya sendiri! Aku tidak tuli!" Gadis itu begitu kekeh dengan ucapannya.
"Kau tau apa yang kau bicarakan ini?" Tanya pria itu sekali lagi.
"Iya Xiong. Aku yakin sekali, aku tidak pernah main-main yang berkaitan dengan Putri Mei." Jawaban Siu membuat Xiong yang awalnya ragu, berusaha percaya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Salam pangeran."
"Kalian pergi entah kemana, dan menghilang begitu saja. Apa kau tidak tau Siu, Mei mencari dan khawatir dengan mu?" Ujar Lee mengintrogasi keduanya.
"Maaf pangeran, tapi hamba sedang mempersiapkan ramuan untuk putri Mei pangeran. Bahan-bahan nya ada yang belum lengkap, jadi hamba mencari nya." Jelas Siu.
"Dan kau Xiong?"
"Aku membantu nya pangeran. Ya membantu nya!" Jawab Xiong membuat manik Siu membulat.
'Dia berbohong? Astaga... Kalau ketahuan, bisa gawat. Apa dia tidak bisa mencari alasan lain?' Sungguh Siu ingin menarik rambut pria itu agar mengganti jawaban nya.
"Sungguh? Ramuan apa? Apa namanya?" Tanya Lee yang membuat ketakutan keduanya terjadi.
__ADS_1
"hamba tidak tahu namanya pangeran. Aku hanya membantu Siu memegangi nya." Jawab Xiong dengan cengir.
"Benar Siu?" Sekarang giliran Siu yang diintograsi.
"Iya pangeran. Maafkan hamba." Lee meneguk air di depannya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Dengar Siu, lain kali kabari aku atau putri Mei. Kau tau kondisinya bagaimana saat ini. Terlalu banyak pikiran dapat mempengaruhi nya, kau tau arti mu baginya."
"Mengerti pangeran. Hamba tidak akan melakukannya lagi."
"Hamba juga pangeran." Xiong mengikuti apa yang Siu lakukan.
"Kembalilah ke tugas kalian. Dan untukmu Siu, putri Mei sedang tidur sekarang. Tapi tetaplah disekitar nya."
"Baik pangeran." Tapi baru saja Siu beberapa langkah pergi, dia kembali ke posisi sebelumnya, seolah ada yang masih mengganjal di kepalanya.
"Maaf pangeran, apa Putri Mei makan sesuatu?"
"Tentu, dia butuh makan. Apalagi dengan kondisi ini."
"Bukan begitu pangeran. Hanya saja, hamba ingin tau, karena....."
"Dia hanya makan buah persik." Jawaban Lee membuat Siu merasa lega.
"Syukurlah, artinya rencana itu gagal."
"Rencana?" Ulang Lee yang membuat Siu tepuk jidat.
Bersambung.......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1