Mommy Ara

Mommy Ara
100. S2. Bertandang ke panti 2


__ADS_3

Selesai makan siang, Ayesha dan Ares duduk di taman bermain melihat anak anak yang lagi asik dengan dunianya termasuk Azam, yang tiada lelahnya.


Ares yang melihat anak seumuran dengan Randi lagi main futsal, ia pun menghampirinya.


“Hay, semua,”


“Hay juga bang,”


“Lagi main?,”


“Iya bang tapi kurang satu pemain,”


“boleh Abang ikut?,”


“Boleh banget bang,”


“Kita bertanding secara sehat ya, siapa yang menang nanti Abang kasih hadiah, gimana?,”


“oke, kita setuju,”


Ares mulai membentuk timnya, agar tidak ragu ia dan tim buka baju hanya menyisakan singlet saja, sementara tim lawan masih memakai baju, penjaga panti yang hampir seumuran Arkan yang menjadi wasit mereka, sebelum bermain Ares mengirim pesan pada Dika untuk mengantar hadiah buat yang menang nanti, setelah itu memberikan ponselnya pada Ayesha.


“Sayang, panggil Ares saat Ayesha melihat Azam yang lagi main, Ayesha menoleh seketika matanya membola melihat suaminya yang hanya pakai singlet saja.


“Mas,”


“aku main futsal sama anak anak, kamu pegang baju sama dompet serta ponsel mas ya,” pintanya lalu memberikan semuanya pada Ayesha.


“Hm...,” jawab Ayesha lalu menerima semua barang Ares, ia pun mengikuti sang suami ke lapangan futsal dan duduk di tempat duduk yang terbuat dari kayu. Tapi sebelumnya Ayesha mengajak anak untuk ikut menonton, dan memberi semangat pada para pemain.


Priiiiittt, peluit di tiup oleh wasit, pertanda permainan di mulai, Azam yang melihat papanya main seketika heboh dan begitu juga dengan yang lain.


“Papa....papa...papa...,” ucapnya memberi semangat pada papanya serta suara tepuk tangan dari beberapa anak membuat suasana sore itu riuh seperti pertandingan futsal sungguhan, bunda Afifah yang mendengar keributan pun ikut keluar dia mengira jika anak anak bertengkar.


“eh, lagi main, bunda kira anak-anak yang lagi bertengkar,” ucapnya pada Ayesha.


“Duduk disini aja Bun, kapan lagi kita bisa nonton kek gini,” tawarnya.


Tak berapa lama pertandingan pertama di menangkan oleh tim lawan dengar skor 1-0, Ares memberi semangat pada timnya agar mereka bisa mengejar poin berikutnya, saat asik main, mobil Dika datang ke panti, setelah memarkir mobilnya di samping mobil Ares, ia segera membawa kardus ke depan lapangan.


“apa ini kak,” tanya Ayesha pada Dika.


“Hadiah untuk pemenang nanti non,”


“oh,”


Dika tersenyum melihat bosnya Main dengan sangat dan tertawa bersama anak-anak. Kini skor satu sama para pemain istirahat, Ayesha meminta Dika untuk membeli beberapa minum buat mereka, dengan cepat Dika pun membeli apa yang di suruh Ayesha.


“Papa, hebat,” puji Azam pada Ares ia segera lari ke dalam lapangan itu dan menghampiri Ares yang lagi duduk sama anak anak lain.


“Azam nanti pasti bisa seperti itu,” ucap Ares.


Tak lama Dika datang membawa beberapa minuman dan memberikan pada Ares dan para pemain lainnya.


“Semuanya lengkap dik?,”


“lengkap bos,”


“Bawa kesini nanti kita bagi disini saja,”


“Oke,”


Setelah Dika pergi, tim Ares dan tim lawan mulai main lagi untuk merebutkan poin terakhir, suara anak-anak dan hebohnya di lapangan jadi hiburan tersendiri bagi anak anak panti yang jarang seceria ini, dan pada akhirnya permainan di menangkan oleh tim Ares dengan skor 2dan tim lawan 1, mereka bersorak gembira semua baik yang menang atau pun yang kalah.


“Sini semuanya, Abang akan bagi semuanya buat kalian,”

__ADS_1


“jadi yang kalah juga dapat bang?,” tanya salah satu anak panti itu.


“Iya dong,”


Ares membuka kardus yang di bawa Dika, lalu membagi isinya pada anak anak itu.


“Ini pakaian untuk main futsal, lengkap dengan sepatu dan juga ada dua buah bola, jika kalian mau bermain sunguh sungguh maka Abang akan cari pelatih untuk kalian supaya bisa ikut bertanding nanti, Abang liat main kalian juga hebat. Jadi apa kalian mau?,”


“mau bang,”


“Oke, insya Allah dalam Minggu besok akan datang pelatihnya mungkin tiga kali seminggu, agar tidak menggagu pelajaran kalian dan kegiatan lainnya, bagaimana?,”


“setuju bang,” jawab mereka semua.


“Bagus, nanti latihan yang semangat yaa, dan silakan ambil hadiahnya untuk kalian,”


Dengan teratur mereka mengambil hadiah yang di berikan Ares padanya, mereka tampak bahagia, Ares berharap mereka bisa menjadi pemain futsal hebat dan bisa mengharumkan nama panti dimana mereka dibesarkan, walau mereka hanya anak panti tapi mereka juga bisa menjadi yang terbaik. Asal mau mendidiknya dan belajar dengan sunguh sungguh.


“Apa semua sudah kebagian?,”


“Sudah bang,” jawabnya selalu kompak.


“Ya sudah sekarang balik ke kamar masing masing jangan lupa membersihkan diri,”


“Ya bang,”


Setelah semuanya pergi Ares juga ikut bareng istri tercintanya dan Azam juga tentunya.


Tiba di kamar mereka segera membersihkan diri, Azam yang mandi bersama Ares sangat senang sambil main busa sabun.


“Sayang, udahan yuk nanti Mimi marah Lo terlalu lama mandinya,”


“Yuk pa,”


“sini Mimi pakaian kan bajunya,” ucap Ayesha sambil mengambil Azam di tangan Ares.


Grappp, Azam langsung pindah ke pangkuan Ayesha.


Sebelum memakan baju Azam, Ayesha tak lupa mengoleskan tubuh mungil itu dengan minyak telon agar Azam tidak masuk angin.


Cup...cup...Ayesha mengecup pipi Azam kiri kanan setelah pria kecil itu dengan pakaian santainya.


“Tunggu di sini sama papa yaa, Mimi mandi dulu,”


“Oke mi,” jawabnya.


Setelah menyambar handuk Ayesha lari ke kamar mandi, dan tak lupa membawa baju gantinya. Dua puluh menit berlalu Ayesha keluar dengan pakaian santai dan langsung menuju meja riasnya.


Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar, kini mereka sudah keluar dan Ares melihat para anak anak panti memakai baju Koko dan sarung sama sepertinya dan Azam.


“aku sama Azam ke mushola dulu ya sayang,”


“Ya,”


“wah keren,” seru Azam saat melihat yang lain juga berpakaian sama sepertinya.


Ayesha ingat waktu seusia mereka yang selalu bahagia hidup Tampa beban.


“Aku tunggu di ruang makan aja ya mas, mau bantu yang lain kan aku belum sholat,”


“hm...,”


Ares segera menuju mushola dan azam, sedangkan Ayesha menuju ruang makan yang di tata seindah mungkin oleh daddynya serta mushala juga sudah di renovasi dan semua toiletnya sudah aktif lagi, dan beberapa kamar juga di perbaiki senyaman mungkin bagi anak anak, itu di laku kan oleh Joshua ia melihat ada beberapa ruangan yang bocor dan kamar tak layak pakai. Sehingga banyak anak anak tidur berdempetan tapi semenjak di perbaiki kini mereka bisa tidur di tempat tidur masing masing dengan nyaman.


“Kak, Sapa Cantika,”

__ADS_1


“Loh, ngak sholat juga tik?,”


“Ngak kak, lagi ada tamu udah empat hari,”


“Oh, ya sudah ayo kita siapkan semuanya sebelum mereka selesai sholat,” ucap Ayesha yang di bantu oleh beberapa orang gadis yang juga tidak sholat.


Ayesha memasukkan sambal ke dalam tempat sambal yang ukurannya besar, dan menyusunya di meja begitu juga dengan nasi, kini tinggal menyusun piring serta sendok, nanti para anak anak akan mengambil sendiri dengan teratur untuk air minum sudah tersedia di atas meja lengkap dengan gelasnya. Selesai makan nanti anak anak yang piket akan mencuci semua piring kotor dan meletakkannya di tempat semula. Peraturan ini dari dulu hingga sekarang masih sama belum ada yang berubah, semua kebagian piket untuk di kerja oleh mereka.


*


*


*


Sementara di rumah Rafa, selesai makan malam ia segera duduk di taman samping rumahnya sambil membawa ponsel, senyum tak luntur di wajahnya sehingga kedua orang tuanya menjadi heran melihat putranya yang kurang waras pikir mereka.


“Hem....,”dehem papanya membuat ia kaget.


“ada apa pa?,”


“Kamu kenapa kek orang kurang waras aja sedari tadi senyum-senyum sendiri?,”


“Ais, aku lagi bahagia pa bukan kurang waras, gimana sih ah,” kesalnya.


“lagi menang tender? Atau baru dapat lotre?,”


“ngak dua duanya, udah ah papa Sono temani mama lagi sendiri tu,” usirnya sambil mengusir papanya dengan mendorong tubuh kekar papanya masuk ke dalam rumah.


“Ya...ya..., Papa pergi nih,”


Setelah papa nya masuk rumah, ia mencoba menghubungi nomor yang tadi di mintak sama putri. Panggilan pertama masuk namun tak ada sahutan begitu juga panggilan kedua sehingga ia berdecap kesal.


“gue coba sekali lagi jika tak angkat juga berati dia sibuk,” ucapnya.


Drt....drt....


“ya....halo, ketopraknya berapa bungkus,” jawab nya seberang sana.


“Ketoprak, beo Rafa.


Rafa langsung mematikan ponselnya kalau mengumpat kesal ia sudah di kerjai oleh putri.


“Awas kau gadis usil, aku buat perhitungan dengan mu,” geram Rafa.


🍂🍂🍂🍂🍂


Sabar ya Rafa, si putrinya lagi jualan ketoprak..😅😅😅


Ayo dong rame kan lagi like dan komennya, hadiahnya juga yaa.


Wasalam.💞💞💞


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2