Mommy Ara

Mommy Ara
49. S2. Pencopet


__ADS_3

Pagi harinya.


Selesai sholat subuh, Ayesha membuat sepiring nasi goreng untuk sarapannya pagi ini, Karna ia masuk jam sepuluh Ayesha bisa bersantai dirumah sambil membaca buku, usai menyantap nasi goreng ia segera mencuci piring bekas makannya, dan setelah itu lanjut membaca buku.


Tok...tok...


Terdengar ketukan di depan pintu.


“Ya, siapa?,”


“Aku ay,”


Terdengar suara anak kos di sebelahnya dengan cepat Ayesha membuka pintu.


“Ya ada apa mbak Yuni?,”


“Boleh minta cabai rawit sama sayur?,”


“Boleh mbak, ambil aja. Tapi memetik cabai nya hati-hati ya mbak jangan sampai patah dahannya,"


“Ya ay, makasih yaa,”


“Ya mbak,”


Ya, Ayesha memanfaat kan sedikit lahan kosong di depan kamar kosnya, yang hanya selebar satu meter kali satu meter, ia menanam cabai rawit dan juga tomat serta beberapa sayuran, kerap kali anak anak yang lain memintanya, ia tak pelit malah senang jika ada yang memintanya sayurannya.


Jam delapan lewat ia segera pergi ke supermarket untuk mengambil uang di ATM, Karna BBM motornya sudah menipis serta uang jajannya juga. Setelah mengambil dompet dan kunci motor ia segera pergi.


Tiba di depan supermarket Ayesha memarkir motornya dan langsung ikut antrean di depan ATM bersama yang lain. Tak lama ia pun masuk ke dalam ruangan ATM tersebut dan mengambil seberapa butuhnya aja, lalu ia keluar dan langsung menuju motornya. Namun pandangannya sedikit terganggu di kala ada seorang ibu ibu yang lagi rebutan tas kecil dengan pemuda yang masih di atas motornya itu pasti pencopet pikir Ayesha. Melihat ada kayu yang tak jauh dari tong sampah Ayesha mengambilnya dan segera melemparnya pada lengan pemuda tersebut, dan akhirnya kena hingga tas kecil yang di rebutkan tadi berhasil di selamatkan oleh ibu itu.


“Makasih nak bantuannya,”


“Ya Tante, lain kali hati-hati,”


“Ya, ibu akan lebih hati-hati,”


“maaf nyonya saya terlambat,” sesal sang sopir pribadinya.


“Dari mana aja sih kamu, saya hampir kecopetan untuk ada anak ini yang nolong saya,”


“Maaf nyonya toiletnya lagi rame,”


“Siapa namamu nak?,”


“Ayesha, Tante,”


Deg...deg...


Jantungnya berdegup kencang mendengar nama itu,


“Ay..Ayesha,” jawabnya tergagap.


“Kamu tinggal dimana nak?,”


“Di kosan khusus putri Tante,”


“Bukan, maksud Tante orang tua kamu?,”


“Di panti asuhan cahaya kasih,”


“apa mungkin dia Ayesha ku yang hilang beberapa tahun yang lalu,” ujarnya dalam hati.


“maaf Bu saya pamit mau ke kos,”


“Ya nak semoga kita bertemu lagi,”


“Ya Bu, semoga saja.


“kita ke mana lagi nyonya?,”


“Pulang,”


“Aku harus cari tau identitas anak itu,” gumamnya dalam hati.


Yuni heran melihat Ayesha kembali.


“loh, ngak kuliah ay?,”


“Kuliah mbak, Cuma masuk jam sepuluh,”


“Oh, trus kamu dari mana?,”

__ADS_1


“Hahahah, pulang ngisi BBM mbak,”


“Oh,”


“Mbak kerja?,”


“Kerja, tapi masuk malam,”


“Wah, enak dong bisa istirahat seharian,”


“hm..begitulah,”


“Di tempat kerja mbak, butuh karyawan lagi ngak?,”


“ngak kayaknya, napa?,”


“Ngak ada Cuma nanya aja, ya udah aku masuk dulu mbak,”


“Ya, aku juga mau istirahat,”


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, akibat tergesa gesa Ayesha mengerem mendadak Karna ada lampu merah, ia nabrak mobil Ares hingga membuatnya sedikit penyok.


“Astagfirullah, apa yang aku laku kan?,” panik sendiri.


Ares pun turun dan melihat bodi mobilnya sedikit penyok dan goresan, dan napaklah Ayesha yang ada di belakang mobil tersebut.


“hy, kau, apa yang kau lakukan pada mobil ku??,”


“Maaf tuan bisa kita bicara disana,”


Ares masuk ke mobil Karna lampu sudah berubah warna menjadi hijau. Tak jauh dari lampu merah mereka berhenti.


“Maaf kan saya tuan saya tidak sengaja,”


“apa maaf bisa mengembalikan kerusakannya?,” dengan cepat Ayesha menggeleng.


“Ia mencatat, nomor ponselnya dan memberikannya pada Ares Karna waktu sudah mepet.


“Kak, eh..tuan, ini nomor ponsel saya, jam dua nanti kita bertemu ya untuk mencari jalan keluarnya, aku buru-buru udah hampir telat, maaf tuan, saya harus pergi, ucapnya sambil memberikan nomor ponselnya.


Ayesha tau kalau Ares pasti marah tapi mau gimana lagi, Karna ia di kejar waktu.


Setelah Ayesha pergi Ares pun melanjutkan perjalanannya ke perusahaannya.


“Lo kenapa ay, habis pacu lari sama setanyaa?,”


“Iya, setan ganteng,”


“Cieee, yang di kejar setan ganteng,”


“Udah ngak usah bahas dulu, nanti usai kuliah lo temani Gue  ya,”


“Ke mana?,”


“Udah jangan banyak tanya,”


“Nanti Gue jelas in, oke,”


“Iya deh,”


Sedangkan di kantor Ares lagi mikirin gimana caranya ia bisa menekan Ayesha biar ngak lari dari kesalahannya.


Usai belajar Ayesha ke taman bersama Nayra, namun langkah mereka terhenti karena panggilan dari seseorang.


“Ay, nay,...mereka berbalik dan melihat Fahrul sudah ngos ngosan,”


“Ada apa far?,”


“Kalian mau ke mana?,”


“Mau ke taman kenapa?,”


“Mending ke kantin yuk aku yang traktir,”


“aku ngak lapar, jawab Ayesha,”


“Sama, aku juga,”


“Ayo lah te...


Sebelum kalimatnya selesai teriakan Rere membuat Fahrul mendengus kesal.

__ADS_1


“Fahrul, ke kantin yuk,”


“Gue ngak lapar, Gue mau ke perpus,” jawabnya.


Fahrul berlalu begitu saja, dan sama halnya dengan Ayesha dan Nayra, walau agak sedikit heran melihat sikap fahrul tadi ngajak mereka ke kantin, pas Rere tiba ia langsung kabur ke perpus, Rere kesal selalu saja di cuek in oleh Fahrul.


Jam dua siang, Ares menghubung Ayesha mereka bertemu di sebuah kafe yang tak jauh dari kampus. Dengan mengajak Nayra, tiba di kafe tersebut mereka melihat Ares sudah menunggu.


“Maaf tuan kami telat,” ucap Ayesha.


“ya ngak apa apa, aku juga baru nyampe,”


“Jadi gimana, solusinya?,” tanya Ares.


Ayesha diam dengan tangan yang sedikit gemetaran, Ayesha menggeleng Karna ngak tau jawab apa.


“emang parah bang?, Tanya Nayra.


“Lumayan,”


“lo kenal sama dia,” bisik Ayesha pada Nayra.


“Iya,”


“ngak usah berbisik, gimana dengan mobil saya?,”


“oh, ya nama Lo sapa?,”


“Ayesha,”


“tadi Gue udah tanya di bengkel buat biaya perbaikannya sekitar 15 juta,”


“what....” Ayesha terpekik mendengar ucapan Ares, dari mana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu,”


“astaga, maaf tuan saya ngak punya uang sebanyak itu, yang saya punya sekarang hanya sejuta lima ratus itu pun untuk biaya beberapa bulan ke depan,”


“Lah, trus gimana dong nasib mobil saya?,”


“gini aja deh, nanti setelah Gue dapat kerajaan pas gajian Gue cicil tiap bulan gimana?,”


“lo kira kreditan?,”


“Gue ngak tau Lo harus bayar sebanyak itu dalam Minggu ini?,”


“Kalau ngak ada sanksinya buat Lo,” ucap Ares.


Setelah itu ia berlalu pergi begitu saja.


Huff, Ayesha sedikit memijit pelipisnya di sara pusing dan juga rasa nya mau nangis.


“Gimana nih Nay?,”


“huff, aku juga bingung ay,”


“Lo pakai aja tabungan Gue, tapi masih kurang sekitar lima juta lagi sih,”


“Ngak ah, Gue bayar pakai apa ntar uang Lo,”


“Atau Gue jual aja ya, sepeda motor, trus kekurangannya Gue minta janji,” gimana menurut Lo.


“Ngak, itu penyambung kaki Lo ay, masa Lo mau jual, gini aja deh besok kita temui dia lagi kita mohon aja sama dia sapa tau dia mau, ngasih Lo keringanan.


“Ntahlah, aku pusing Nay,”


“Ya udah kita pulang, Gue pen istirahat,”


“Ya udah ayok,”


Ayesha memutuskan untuk pulang, Karna sudah sore dan pusing mikirin masalah yang baru ia alami.


🍂 🍂 🍂


Makasih yang udah like dan komen..😘😉


Insya Allah hari dua bab, untuk penyemangat nya jangan lupa hadiah yaa.😉😉


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2