
Tiga bulan sudah berlalu, perut Ayesha terlihat semakin membuncit padahal usia kandungannya masih empat bulan tapi terlihat seperti orang hamil tujuh bulan, tiga calon bayi yang sehat dan nafsu makan Ayesha semakin bertambah, walau tak ada mengalami muntah berat namun ia masih bersyukur masih di beri bagaimana rasanya ngidam. Dua bulan lalu putri juga sudah menyelesaikan kuliahnya dan sekarang membantu Ares di perusahaan Daddy mereka, itu di lakukan Ares agar ia bisa punya banyak waktu untuk menjaga Ayesha dan calon buah hati mereka.
“Bundaaa, panggil Ayesha yang kini berada di panti sudah dua hari ini, selain lingkungannya asri dan juga banyak buah yang sedang berbuah disini.
“Iya sayang ada apa nak,” tanya bunda Afifah yang baru saja mengambil buah jambu untuk Ayesha.
“Ay, mau sambal kacangnya yang pedas Bun,” ujarnya sambil memakan buah tersebut yang sudah di cuci bersihkan oleh bunda Afifah.
“Baiklah bunda buatkan,”
“Ay, ikut Bun,”
“Ngak,”
“Bun,” ujarnya dengan memasang wajah imutnya.
“Hufff, tunggu disini bunda akan bawa kemari ulekan sama kacang dan juga cabainya,” jawab bunda Afifah yang pasrah jika Ayesha sudah memasang wajah imutnya.
Cup...satu kecupan mendarat di pipi bunda Afifah membuat ia tersenyum tipis, tingkah Ayesha yang tak berubah dari dulu jika ke inginkannya terpenuhi. Bunda Afifah segera menuju dapur dan di bantu Cantika ia segera ke tempat di mana Ayesha duduk santai.
“Wah bumil makin Ndut aja,” ucap Cantika.
“Ngak apa yang penting Babynya sehat,”
“Semoga sehat terus hingga lahirannya, kak,” jawab Cantika seraya mengelus perut Ayesha.
“aammiin, tik, tahu ada ngak?,”
“ada, kenapa?,”
“Buat in tumis tahu dong tik, mau Kaka makan sama bumbu kacang ini,”
“sip, tunggu ya,”
“baiklah,”
Ayesha duduk berselonjor di depan teras yang berada di depan ruangan bundanya, ia menatap pembangunan klinik miliknya di samping Aula yang hampir selesai.
Ya Ayesha meminta pada daddynya dan juga Ares untuk di buatkan klinik di panti, mengingat jarak rumah sakit dan panti atau rumah warga sekitar memakan waktu cukup jauh, maka dari itu ia berniat membangun sebuah klinik di Area panti agar memudahkan para masyarakat dan juga anak-anak panti berobat, khusus anak panti tidak di pungut biaya, untuk masyarakat sekitar Ayesha hanya mematok harga standar saja. Mereka akan membayar seperti sesuai tarif.
“Sayang,” ucap Ares yang membawa buah kedondong, entah dapat dari mana tapi yang pasti buah itu masih ada getahnya itu tandanya baru saja di ambil dari pohonnya.
“Dapat dari mana mas?,”
“Tu, dari rumah warga,”
“minta apa beli?,”
“Beli, tapi ia tak mau ngambil uang nya, wah bunda tau aja kalau di makan sama bumbu kacang keknya enak nih,” ucapnya dengan mata berbinar.
“ngak boleh itu Ay yang punya mas, nih mau Ay makan sama jambu ini,”
“Bagi sedikit napa,”
“dikit aja ya,”
Ayesha mengambil sendok dan mengambil satu sendok bumbu kacang tersebut dan menuangkannya ke piring,”
“Tambah dong sayang, masa segini mana cukup, satu cocol aja udah habis tuh,” protes Ares.
Ayesha ngakak melihat tingkah lucu suaminya, bunda Afifah hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ayesha yang mengusili suaminya.
“Ingat, jangan makan yang asam terlalu banyak nanti sakit perut loh,” ujar bunda Afifah.
“Iya Bun,” jawab keduanya kompak.
*
*
*
Dilain tempat lain Juga kisahnya.
__ADS_1
Putri dan Rafa baru saja selesai meeting di ruangan vip di salah satu restoran, selesai makan siang Rafa berbicara empat mata dengan putri.
“gimana kabar Lo,”
“Baik, Lo sendiri?,”
“Baik juga,”
“Apa boleh aku main kerumah mu?,”
“Mau ngapain?,”
“Ngak ada, Cuma mau silaturahmi aja,”
“Hm...boleh,”
“Apa Lo sibuk hari ini?,”
“Ngak, Napa?,”
“gue mau ajak Lo jalan cari angin,”
“ngapain angin dicari, berdiri aja di depan kipas angin,” celetuk putri.
Mata Rafa membola mendengar jawaban putri yang polos dan lucu terdengar di telinganya.
“Ais, bukan itu,”
“Lah?,”
“Ikut gue,” sahut Rafa sambil menarik tangan putri keluar dari ruangan itu. Putri hanya bisa mengikuti kemana pria itu akan membawanya.
“lo kesini bawa mobil sendiri atau di antar sopir?,” tanya Rafa saat tiba di luar restoran.
“Di antar sopir,”
“yuk, masuk,” ajak Rafa ketika sudah tiba di depan mobilnya.
“Bentar,” putri menelpon Asistennya untuk menyuruh dulu ke kantor bersama sopir, setelah sambungan telpon terputus baru lah putri masuk ke dalam mobil Rafa.
“kemana mobil ini akan membawa kita,” jawab Rafa.
“Eh, mana bisa mobil ini jalan sendiri jika bukan di bawah kendali Lo,” sahut putri ketus.
“Hehehehehe, duduk yang manis sampai kita tiba di tujuan,” ucap Rafa yang sudah mulai menyelakan mesin mobil.
Putri mencebek mendengar jawaban Rafa.
Menempuh perjalanan kurang dari dua puluh menit kini mereka sudah tiba di tempat wisata apa lagi jika bukan pantai. Rafa mengajak putri ke pantai untuk sekedar melepas penat lelahnya bekerja.
“Gimana Lo suka ngak suasana pantai?,”
“Suka, suka banget,” jawab putri dengan senyum manisnya.
“Alamaaaaaaaaak, senyumnya manis sekali,” batin Rafa.
“sama orang yang ngajak Lo pantai suka ngak?,”
“Maksudnya,” jawab putri yang masih belum paham dengan pertanyaan Rafa.
“Ngak jadi,” sahut Rafa.
“Yuk turun,” ajaknya pada putri.
Putri mengulang pertanyaan yang di lontarkan Rafa tadi dalam hatinya, setelah ia tau maksud dari kata tersebut seketika matanya membola, ia melirik ke samping ternyata orangnya sudah ngak ada, bahkan putri ngak sadar jika Rafa sudah keluar dari mobil.
Putri pun keluar dari mobil dan melihat Rafa berdiri di samping mobilnya dengan menggunakan kacamata hitam membuat kadar ketampanan Rafa bertambah seketika putri terpesona melihatnya.
“Uh...tanpanya,” putri membatin.
“Ngak usah di pandang terus gue tau kok, kalau gue itu tampan,” ujar Rafa saat melihat putri menatapnya tak berkedip.
“Bukan menatap lu Karna tampan tapi ada sesuatu di hidung Lo,” jawab putri mengelak.
__ADS_1
“Apa?,”
“Tuh ada sedikit upil di sudut hidung Lo,” jawab putri setelah itu ia pergi meninggalkan Rafa.
Rafa yang merasa tak nyaman dengan ucapan putri pun segera melihat apa yang di katakan putri, menggunakan spion mobilnya, seketika matanya membola Karna ia sudah di bodohi oleh putri.
“Sial,” umpatnya sambil berjalan menyusul putri, sementara putri sudah cekikikan melihat tingkah Rafa yang sudah hilang muka.
“Emang enak di kerjai,” ucapnya sambil ketawa kecil.
“Putriiii,” kesal Rafa ketika tiba di tempat putri ia melihat putri sudah duduk manis di salah satu tempat duduk yang tak jauh dari bibir pantai.
“Apaan sih Raf,” sahut putri santai. Namun tak berani menatap Rafa.
“Uh...dasar menyebalkan,” gumamnya yang masih bisa di dengar oleh putri.
“Gue dengar loh,” ujarnya santai.
“Lo mau pesan apa?,”
“Es kelapa muda aja,” jawabnya..
Setelah pelayan pergi Rafa menatap putri lekat, untung ia pakai kacamata jadi tidak ketahuan kalau ia sedang menatap wajah cantik nan imut yang ada di depannya.
“Ngak usah di tatap lama lama,” ntar mata Lo perih,” jawab putri Tampa melihat Rafa.
“Ck...pede amat Lo, siapa juga yang menatap Lo,” jawab Rafa yang mengelak.
Putri menoleh ke Rafa dan seketika Rafa jadi salah tingkah.
“Bohong dosa loh,” jawab putri.
Namun tak ada jawaban dari Rafa, putri pun mengalihkan pandangnya ke laut lepas sambil menikmati semilirnya anggin yang membuat rambut putri melambai lambai.
“Put...,”
“Hm...,”
“Lo mau ngak jadi pacar gue,” tanyanya Tampa basa basi.
Uhuk...uhuk....putri keselek mendengar pertanyaan Rafa, bagaimana tidak pria itu menyatakan cintanya terang terangan.
“Lo nembak gue?,” pertanyaan konyol yang di lontarkan oleh putri membuat Rafa membelalakkan matanya.
“Iya, Lo mau ngak jadi kekasih hati gue,” ulang Rafa lagi.
Putri tak menjawab, bagaimana mungkin ia bisa menjawab sementara mereka bertemu hanya bisa di hitung jari dan itu juga tak terlalu dekat dan tak ada getaran getaran aneh yang di rasakan putri pada Rafa, sekarang tiba tiba saja ia menembak putri.
“Put,”
“Hm..,”
“Gimana!,”
“Gimana apanya?,”
“Mau ngak jadi pacar gue?,”
“Gue ngak bisa jawab Raf, maaf ya,” jawab putri seraya menatap Rafa. Rafa hanya mengangguk kecil sebagai jawabannya.
Setelah itu tak ada lagi pembicaraan, mereka larut dalam pikiran masing masing, hingga suara seorang memecah keheningan mereka.
“Sayang, kamu disini juga,” ucap seorang perempuan pada Rafa, dan langsung duduk di samping Rafa dan melingkar kan tangan di lengan Rafa. Rafa mengumpat kesal dalam hatinya melihat tingkah perempuan itu, sumpah serapah ia ucapkan dalam hatinya. Putri yang melihat itu hanya tersenyum tipis pada Rafa sambil menggelengkan kepalanya.
“Dasar kadal,” gumam putri yang masih bisa di dengar oleh Rafa, sementara wanita yang ada di samping Rafa ketawa sambil menutup mulutnya mendengar gumaman putri.
🍂 🍂 🍂 🍂 🍂
Wasalam....
__ADS_1